Oboi, dari Komandan Militer menjadi Sinterklas Lokal di Tiongkok
Oboi, yang dulu merupakan komandan militer Dinasti Qing yang ditakuti, kini telah berubah menjadi sosok Santa Claus versi lokal di Tiongkok. Penampilannya sebagai Sinterklas di resor Guangdong memicu tren budaya pop yang menarik perhatian masyarakat.
Di sebuah resor wisata di Zhanjiang, Provinsi Guangdong, China selatan, Oboi tampil sebagai Sinterklas dengan mengenakan seragam pejabat Dinasti Qing (1644–1912). Ia mengenakan topi berbentuk payung berwarna merah, janggut putih tebal, serta alis putih. Ia terlihat duduk di atas kereta luncur yang ditarik oleh dua rusa kayu, melayang di udara sambil melambaikan tangan dan menyapa para pengunjung di bawah.
Video yang beredar di media sosial menampilkan penampilan Oboi ini. Seorang turis yang merekam video tersebut berkomentar, “Saya kira saya salah lihat. China punya Santa Claus sendiri. Ini lucu sekali!”
Penampilan karakter Oboi diresor tersebut terinspirasi dari film komedi klasik Hong Kong Royal Tramp. Menurut staf resor, tujuan mereka adalah membawa kegembiraan bagi para turis. Selain sama-sama mengenakan topi merah dan janggut putih, Oboi dan Santa Claus versi Barat juga dipandang sebagai simbol “kakek super”.
Menurut legenda, Santa Claus memiliki kemampuan magis yang memungkinkannya menjelajahi dunia dalam satu malam untuk mengantarkan hadiah kepada anak-anak yang berperilaku baik. Dalam sejarah China, Oboi dipandang sebagai lambang kekuasaan di Timur, dengan posisi tepat di bawah kaisar.
Lahir dari keluarga jenderal, Oboi dikenal sebagai prajurit terampil yang unggul dalam berkuda dan memanah. Ia memimpin sejumlah kampanye kemenangan yang memperkuat Dinasti Qing, hingga mendapatkan gelar “Prajurit Pertama”. Kemudian, ia diangkat menjadi salah satu dari Empat Bupati, yang memberinya kendali besar atas kekuatan militer.
Selama pemerintahan Kaisar Kangxi, Oboi menyingkirkan para pesaing dan mengonsolidasikan kekuasaannya, mengambil alih keputusan-keputusan yang sebelumnya dibagi bersama para bupati lainnya. Namun, pengaruhnya yang kian membesar dianggap mengancam kekuasaan kekaisaran. Sehingga Kaisar Kangxi akhirnya memecatnya dengan tuduhan pemberontakan.
Dalam persidangan, Oboi memperlihatkan bekas luka pertempuran yang ia derita saat mengabdi pada Dinasti Qing. Hal tersebut menyelamatkannya dari hukuman mati, meski ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Ia menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji hingga meninggal dunia.
Sejumlah sejarawan memandang kehidupan Oboi sebagai perpaduan antara kesetiaan dan tirani. Namun kini, didorong oleh kreativitas generasi muda dan budaya internet, sosok yang dahulu ditakuti itu kembali diimajinasikan sebagai figur yang lebih disukai.
Kemiripan fonetik nama Oboi dengan frasa “all buy” dianggap selaras dengan hiruk-pikuk belanja Natal. Di berbagai platform belanja daring di China daratan, kostum seragam lengkap dengan topi Oboi dijual seharga 150 yuan (sekitar Rp356.503) sebagai “kostum Natal”, dengan penjualan yang telah melampaui 1.000 unit.
Kreativitas warganet pun berlanjut. Sejumlah pengguna memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat remix lagu Natal klasik Jingle Bells dengan menyisipkan narasi tentang Oboi ke dalam liriknya. Oboi kini muncul sebagai ikon budaya pop baru di China, video-video terkait yang telah melampaui 1 miliar penayangan di platform Douyin.
Seorang pengamat daring berkomentar, “Tokoh-tokoh sejarah dihidupkan kembali oleh kreativitas modern.” “Oboi telah membuat Natal terasa lebih mudah didekati dan dicintai oleh masyarakat China,” tambahnya.
Meski demikian, tidak semua pihak menyambut tren ini dengan antusias. Seorang warganet memperingatkan, “Ini dapat memicu kesalahpahaman tentang sejarah yang sebenarnya.”
Versi Santa Klaus Lainnya
Tidak hanya Tiongkok, Rusia juga memiliki versi Santa Claus sendiri. Di Rusia, dikenal sosok bernama Ded Moroz, tokoh legendaris yang mirip dengan Santo Nicholas, Father Christmas, dan Santa Claus, yang berakar dari mitologi Slavia.
Mengutip Fandom, tradisi Ded Moroz tersebar luas di negara-negara Slavia Timur dan menjadi bagian penting dari budaya Rusia. Pada awal era Soviet, pemerintah komunis sempat melarang keberadaan Ded Moroz. Namun, larangan tersebut kemudian dicabut, dan sosok ini kembali menjadi bagian penting dari budaya Soviet.
Ded Moroz sering digambarkan sebagai figur baik hati yang mengenakan jubah berhiaskan bulu. Ia diterjemahkan sebagai “Kakek Embun Beku” dan mewujudkan semangat musim dingin dan keajaiban masa liburan. Digambarkan sebagai pria tua dengan janggut putih panjang, mengenakan mantel atau jubah panjang, biasanya berwarna biru atau merah, yang dihiasi bulu.
Di tangannya, ia membawa tongkat ajaib atau karung berisi hadiah untuk anak-anak. Seperti Santa Claus, Ded Moroz juga mengendarai kereta luncur. Namun, bukan ditarik oleh rusa kutub terbang, kereta luncurnya ditarik oleh tiga ekor kuda ajaib. Berbeda dengan Santa Claus, Ded Moroz tidak membagikan hadiah pada malam Natal, melainkan pada malam Tahun Baru. Ia juga tidak hadir sendirian, melainkan ditemani oleh cucunya, Snegurochka (Gadis Salju), atau terkadang oleh sekelompok hewan ajaib.











