Polemik Dana Hibah Rp100 Juta untuk Perayaan Natal dan HUT Pemuda Baptis
Realisasi bantuan hibah sebesar Rp100 juta dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lanny Jaya kepada Departemen Pemuda Baptis West Papua (DPBWP) menjadi sorotan publik. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi pelaksanaan Perayaan Natal dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Pemuda Baptis yang digelar di Gereja Baptis Wunume, Distrik Gamelia, Kabupaten Lanny Jaya, Papua Pegunungan.
Polemik terjadi setelah panitia kegiatan menyebut dana hibah tersebut tidak terealisasi secara utuh sebagaimana yang disampaikan sebelumnya. Hal ini memicu pertanyaan dan kekecewaan dari pihak terkait.
Ketua Departemen Pemuda Baptis West Papua, Akia Yas Wenda, mengungkapkan bahwa bantuan hibah senilai Rp100 juta dari Pemda Lanny Jaya melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) dikirim ke rekening panitia pada 12 Desember 2025. Namun, saat panitia melakukan pengecekan di Bank Papua Cabang Wamena, pihak bank menyampaikan bahwa dana tersebut tidak dapat dicairkan karena telah diblokir atau ditarik kembali oleh dinas terkait.
“Panitia mendapat informasi dari pihak bank bahwa dana Rp100 juta yang dikirim itu tidak bisa dicairkan karena telah diblokir atau ditarik kembali. Kami kemudian melakukan koordinasi dengan pihak Dispora Lanny Jaya,” ujar Akia Wenda dalam keterangan tertulis.
Dalam koordinasi tersebut, bendahara Dispora Lanny Jaya menyampaikan bahwa dana bantuan yang akan diberikan kepada panitia hanya sebesar Rp35 juta. Informasi tersebut kemudian dibahas secara internal oleh Departemen Pemuda Baptis West Papua bersama panitia pelaksana kegiatan.
“Hasil kesepakatan bersama, kami memutuskan untuk tidak menerima dana Rp35 juta tersebut. Bahkan jika dana itu tetap ditransfer ke rekening panitia, kami akan mengembalikannya,” tegas Akia.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil karena panitia menilai rekening kegiatan bukan tempat singgah atau lalu lintas dana yang tidak jelas peruntukannya. Ia menegaskan bahwa setiap bentuk bantuan seharusnya diberikan secara terbuka, ikhlas, dan sesuai dengan komitmen awal.
“Rekening panitia bukan tempat lalu lintas dana yang tidak jelas. Setiap sumbangan seharusnya diberikan secara ikhlas dan sukarela, bukan setelah kegiatan berjalan lalu nilainya berubah,” katanya.
Meski demikian, atas nama Departemen Pemuda Baptis West Papua, Akia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam proses dan sikap yang diambil terdapat tindakan yang menimbulkan kekecewaan berbagai pihak.
“Atas nama Departemen Pemuda Baptis West Papua, kami menyampaikan permohonan maaf jika ada kekeliruan dalam tindakan kami yang mungkin saling mengecewakan. Namun kami juga menyampaikan hal ini dengan keterbukaan sebagai bentuk komitmen kami dalam mendukung pelayanan Tuhan,” ujarnya.
Akia menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud meminta-minta bantuan kepada pemerintah daerah, melainkan mendorong adanya keterbukaan dan transparansi jika pemerintah memang berniat mendukung program pelayanan gereja dan kepemudaan.
“Kami tidak mengemis. Tetapi jika pemerintah memiliki niat mendukung program pelayanan gereja, maka harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Kemajuan pembangunan Lanny Jaya tidak terlepas dari peran generasi muda sebagai tolok ukur kemajuan daerah, sehingga pemerintah memang wajib memberikan dukungan,” tegasnya.
Ia juga menegaskan dukungan penuh Departemen Pemuda Baptis West Papua terhadap kebijakan dan keputusan Bupati dan Wakil Bupati Lanny Jaya, serta menolak adanya anggapan perbedaan perlakuan dalam pelayanan.
“Perlu saya tegaskan, kami mendukung keputusan Bupati dan Wakil Bupati Lanny Jaya. Pada prinsipnya tidak ada perbedaan dalam mendukung pelayanan. Yang terpenting, di mata pemerintah semua adalah rakyat Lanny Jaya,” katanya.
Akia berharap ke depan dukungan pemerintah daerah dapat diberikan sebelum kegiatan dilaksanakan agar benar-benar membantu kebutuhan panitia dan tidak menimbulkan polemik di kemudian hari.
“Kami berharap pemerintah daerah sebagai mitra tetap mendukung kegiatan-kegiatan Departemen Pemuda Baptis West Papua ke depan. Dukungan itu sebaiknya diberikan sebelum kegiatan berlangsung, bukan setelah selesai,” ujarnya.
Ia menegaskan, apabila dana Rp35 juta tetap dikirimkan ke rekening panitia, dana tersebut tidak akan digunakan untuk kepentingan HUT ke-20 maupun perayaan Natal Pemuda Baptis.
“Dana itu akan kami kembalikan kepada Dinas Pemuda dan Olahraga Lanny Jaya dan rencananya akan kami serahkan secara resmi dalam apel hari Senin di Lanny Jaya,” katanya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Lanny Jaya, Nius Kogoya, membantah adanya pemotongan dana hibah sebesar Rp75 juta oleh Dispora Lanny Jaya. Ia menegaskan bahwa penyaluran bantuan tersebut tidak melalui Dispora, melainkan langsung dari bagian keuangan daerah ke rekening panitia.
“Itu tidak benar. Dana bantuan itu tidak masuk ke rekening Dispora. Dana tersebut langsung dari keuangan ke rekening panitia Pemuda Baptis West Papua,” kata Nius Kogoya saat dikonfirmasi.
Ia mengaku heran dengan pernyataan panitia yang menyebut adanya pemotongan dana hibah. Menurutnya, bantuan Rp100 juta tersebut merupakan dukungan langsung dari Bupati Lanny Jaya dan disalurkan tanpa melalui Dispora.
“Saya juga bingung mereka bisa bilang seperti itu. Dana itu langsung masuk ke rekening panitia, bukan ke kami. Tidak ada pemotongan,” ujarnya.
Nius Kogoya menegaskan bahwa apabila tudingan tersebut merupakan rekayasa, dirinya tidak segan menempuh jalur hukum karena menyangkut nama baik pribadi dan pimpinan daerah.
“Kalau ini rekayasa, saya akan proses secara hukum. Ini menyangkut nama baik saya dan Bupati Lanny Jaya. Secara administrasi, dana itu sudah masuk dan ada tanda tangan ketua panitia dan bendahara,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, polemik terkait realisasi dana hibah tersebut masih menjadi perhatian publik. Kedua pihak tetap pada pernyataan masing-masing dan belum ada penjelasan resmi dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lanny Jaya terkait mekanisme pemblokiran atau penarikan kembali dana hibah tersebut.











