Kenangan yang Terabadikan dalam Buku
Banyak cara orang menyimpan kenangan, baik melalui foto, video, tiket nonton bioskop, perangko, atau bahkan nota pembelian buku. Nota tersebut tidak hanya mengingatkan bahwa toko buku pernah ada, tetapi juga memberi kesan bahwa harga buku di masa lalu terasa begitu murah, meskipun sekarang nilai uang sudah berubah.
Misalnya, pada tahun 1989, sebuah nota dari toko Gunung Agung mencantumkan harga buku Memahami Cerita Rekaan karya Panuti Sudjiman dengan harga lima ribu rupiah. Saat ini, uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli es teh dan mendoan. Begitu pula dengan nota pembelian dari Sari Ilmu pada tanggal 6 Agustus 1987 yang mencantumkan harga buku Sepuluh Petunjuk dalam Memahami dan Membaca Puisi hanya sembilan ratus rupiah. Kini, nilai uang tersebut bahkan tidak cukup untuk ongkos parkir motor.
Kenangan paling menyenangkan bagi saya adalah buku. Sejak kecil, tradisi membaca buku sudah ditanamkan dalam keluarga. Ayah sering membelikan majalah anak-anak, komik seperti Si Buta dari Gua Hantu, Superman, Gareng-Petruk, hingga komik dengan tokoh-tokoh pewayangan.
Saat SMA di Yogyakarta, keluarga berlangganan koran Kedaulatan Rakyat. Saya rajin membaca cerita bersambung “Api di Bukit Menoreh” karya SH Mintardja. Cerita ini digemari oleh banyak pembaca setia koran tersebut. Setiap bulan, ayah membeli majalah Intisari yang menyajikan topik-topik menarik sehingga bisa dibaca kapan pun.
Saat menjadi mahasiswa, gairah membaca semakin kuat, seolah menjadi panggilan jiwa. Setiap akhir pekan, saya selalu menyempatkan diri ke toko buku seperti Gunung Agung, Pembangunan, dan Sari Ilmu. Di sana, hasrat membeli bacaan dan referensi tidak terbendung, hingga kini ratusan buku tentang sastra, budaya, sosial, dan politik memenuhi lemari.
Di samping itu, setiap hari Minggu, saya selalu menyempatkan diri ke kios koran. Koran mingguan pada tahun 1980–1990-an menarik perhatian karena selalu memuat halaman sastra, budaya, tokoh, dan tulisan menarik lainnya berbentuk feature. Koran yang wajib dibeli adalah Kompas Minggu karena bisa dijadikan referensi.
Berbeda dengan tahun 1990-an, saat ini kios koran hampir tidak ada karena terlindas oleh media online yang bisa dibaca dari gawai di tangan.
Saat sudah berkeluarga, saya dan Ibu Negara Omah Ampiran menumbuhkan tradisi membaca dengan membawa anak-anak ke Gramedia setiap hari Minggu atau libur sekolah. Mereka bebas memilih dan membeli buku apa saja untuk dibawa pulang. Toko buku alternatif lainnya adalah Sosial Agency dan Sari Ilmu, meskipun tidak sesering kami mengunjungi Gramedia.
“Perjalanan sejarah” itulah yang membuat buku begitu berharga, hingga mendapatkan perlakuan istimewa di Omah Ampiran. Terlebih terhadap buku yang diberi tanda tangan penulis, disertai pesan singkat, yang terasa sangat personal.
Tanda tangan di halaman depan buku bukan sekadar coretan tinta, tetapi pengingat jejak pertemuan dengan penulisnya. Misalnya, saat Ahmad Tohari memberikan buku Senyum Karyamin (Gramedia Pustaka Utama, 2019), saya mengingat momen makan siang yang disiapkan oleh Siti Syamsiah, istri pengarang trilogi Ronggeng Dukuh Paruk.
Pada 8 Oktober 2020, meski situasi pandemi covid-19 sedang menggawatkan, Teguh Santosa (almarhum) tetap menyerahkan buku Chasing Light at the Edges of Night yang diberi pengantar oleh Ahmad Tohari. Bagi kami, buku yang diberi pengantar oleh sastrawan terasa lebih istimewa daripada yang diberi pengantar oleh tokoh atau pecinta fotografi.
Sebelumnya, bersama rekan-rekan Jentera Intermedia Intiutama, kami menerbitkan buku company profil salah satu perusahaan pupuk tersohor. Pengantar buku tersebut dipercayakan kepada Ahmad Tohari, yang kemudian menulis bagaimana awal mula masyarakat pedesaan mengenal pupuk urea yang karena keterbatasan wawasan, disamakan dengan gula.
Dalam acara makan siang, Ahmad Tohari mempersilakan kami masuk ke ruang makan. Setelah selesai makan, ia menahan kami di teras depan. Di meja sudah ada tumpukan buku.
“Ini untuk Mas Herry. Meskipun sudah pernah membaca Senyum Karyamin, tapi ini cetakan baru. Mata yang Enak Dipandang buat Mas Noer dan Ronggeng Dukuh Paruk untuk Mas Teguh,” ujar Ahmad Tohari sambil membubuhkan tanda tangan.
Kiriman buku Alih Wahana (editum, 2012) dari Sapardi Djoko Damono lewat jasa paket mengingatkan keakraban pertemuan kami, baik di Rawamangun maupun di Cisarua (Bogor), saat mengerjakan proyek Handbook of Javanese Literature bersama tokoh-tokoh dari berbagai bidang disiplin: arkeolog, sastra, pernaskahan, perpustakaan, wayang, folklore, dan sebagainya.
Proyek yang berlangsung sejak tahun 1996 sampai 2001, terbitlah buku Sastra Jawa: Suatu Tinjauan Umum (Balai Pustaka, 2001). Dalam buku itu, Sapardi Djoko Damono dengan rendah hati mengajak saya menulis bersama. Maka lahirlah tulisan kolaborasi dengan judul “Geguritan” dan “Terjemahan ke dan dari Bahasa Jawa”.
“Tulis saja Mas Herry, deadline-nya dua bulan. Nanti kalau sudah selesai, kirimkan saja lewat email. Saya akan menambahi dan mengedit agar layak baca,” ujar penyair Hujan Bulan Juni.
Pertama kali mengikuti diskusi bersama lima belas orang peneliti lainnya, saya diberi tugas menyampaikan kertas kerja dengan topik Sastra Jawa dalam Media Elektronika (Radio). Kelengkapan data yang saya sampaikan agaknya mencuri perhatian Sapardi Djoko Damono, sehingga sebagian data itu digunakan untuk menulis buku Alih Wahana.
Tanda tangan dalam buku Asam Garam Ramayana-Mahabarata (Interlude, 2019) mengingatkan sosok Iman Budhi Santosa, begawan penyair Yogyakarta. Ia sesekali mampir ke ruang kerja saya di tepian kali Code, selatan jembatan Gondolayu.
Jika penyair kelahiran Magetan 28 Maret 1948 datang dengan menenteng tas kresek hitam, masuk ruangan dengan banyak senyum, dapat dipastikan lelaki berpenampilan sederhana ini akan menghadiahkan buku terbitan terbaru.
Tanda tangan dalam buku Asam Garam Ramayana-Mahabarata, selain mengingatkan saat-saat menjelang paripurna sebagai ASN, juga terbayang pertemuan kami di depan Gedung Agung menghadiri acara pembacaan puisi.
Malam itu saya tumpahkan kegusaran mengapa kepala kantor yang baru melakukan pergantian semua kepala bidang, kecuali saya. Lelaki dengan budaya Jawa kental melekat dalam dirinya itu memberi jawaban di luar dugaan.
“Mas, nek wong jawa nemu ri, mesthi diopeni. Disimpen neng dhuwur, ben ora nyocok sikil. Lha kuwi sampean- Mas jika orang jawa menemukan duri, pasti akan dirumat. Di simpan di tempat yang tinggi agar tidak mengenai telapak kaki. Jadi, Mas Herry diopeni, diberi tempat agar tidak ngribeti,” jelas Iman Budhi Santosa.
Lelaki yang selalu menyimpan secarik kertas dan mengantongi bollpoint untuk mencatat hal-hal penting itu paham benar kalau saya lelaki idealis dan vokal terhadap apapun jika menghadapi persoalan menyimpang dari perencanaan kantor.
Sesungguhnya, ketika tanda tangan dibubuhkan dalam sebuah buku terbitan, maka buku menjelma menjadi “ruang pertemuan” antara penulis dan pembaca (penerima buku). Tanda tangan penulis merupakan perayaan kecil atas hubungan personal antara penulis dan penerima buku (sebagai pembaca).
Dalam dunia yang berubah serba cepat, memiliki kenangan fisik berupa buku menjadi sesuatu yang begitu berharga. Buku dengan tanda tangan penulis memiliki arti istemewa: memuat cerita tentang momen, relasi, dan penghargaan akan kebersamaan.
Ada yang melontarkan gagasan bahwa buku bertanda tangan penulis bukan sekadar koleksi literatur, melainkan koleksi pengalaman. Ia mengikat pembaca (penerima buku) bukan hanya pada isi buku, tetapi pada jiwa yang menulisnya. Dengan kata lain, buku tidak lagi hadir hanya berupa media bacaan, tetapi menjelma sebagai kenangan yang dapat disentuh, dikenang, dan disyukuri.











