"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Warga Tanam Pohon di Jalan Rusak, Protes Kreatif Minta Perbaikan Segera

Pemandangan Tak Biasa di Jantung Kota Larantuka

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas kawasan pertokoan di jantung kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, muncul sebuah pemandangan yang tak biasa. Di tengah badan jalan negara, sebuah lubang besar menganga dan ditanami pohon oleh warga setempat. Aksi ini bukan sekadar bentuk protes, melainkan juga peringatan visual bagi pengendara agar tidak terjebak dalam bahaya yang mengintai.

Lubang tersebut berada di jalur strategis yang menghubungkan pelabuhan dengan pusat kota dan Gereja Katedral Reinha Rosari, salah satu titik penting dalam pergerakan masyarakat Larantuka. Keberadaannya yang tepat di tengah badan jalan membuat kendaraan, terutama angkutan kota dan ojek, harus ekstra hati-hati saat melintas.

“Sudah berbulan-bulan dibiarkan begitu saja. Kami tanam pohon supaya orang tahu ada lubang besar di situ,” ujar Razmat Sabon, warga setempat yang turut serta dalam aksi penanaman pohon, Selasa, 2 November 2025.

Menurut Razmat, lubang itu telah lama menjadi momok bagi pengendara. Tak sedikit kendaraan yang harus memperlambat laju secara mendadak atau bahkan berbelok mendadak demi menghindari kerusakan. Hal ini tentu menimbulkan potensi kecelakaan, terutama saat malam hari ketika visibilitas menurun.

Jalur Vital yang Terabaikan

Jalan yang rusak ini bukan sekadar akses lokal, melainkan bagian dari jaringan jalan negara yang seharusnya mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Jalur ini menjadi penghubung utama antara pelabuhan, pusat perdagangan, dan kawasan religius yang ramai dikunjungi, terutama saat perayaan Semana Santa yang menjadi ikon wisata rohani Larantuka.

“Kalau dari arah timur mau belok ke gereja, pasti terganggu. Posisi lubangnya pas di tengah. Ini sangat mengganggu arus lalu lintas,” tambah Razmat.

Warga pun mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menjaga infrastruktur dasar. Mereka menilai, sebagai pembayar pajak, masyarakat berhak mendapatkan fasilitas jalan yang layak dan aman.

Respons Pemerintah: Janji Perbaikan Segera

Menanggapi keluhan tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.5 NTT dari Kementerian PUPR, Viktor Nale, menyatakan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat dan tengah berkoordinasi dengan penyedia jasa untuk segera melakukan perbaikan.

“Kami sudah terima laporan dan sekarang sedang koordinasi dengan penyedianya. Perbaikan akan segera dilakukan,” kata Viktor.

Namun, belum ada kepastian waktu mengenai kapan perbaikan akan dimulai. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa penanganan bisa saja kembali tertunda, seperti yang kerap terjadi pada proyek-proyek infrastruktur di daerah terpencil.

Protes Kreatif yang Menggugah

Aksi tanam pohon di jalan rusak bukanlah hal baru di Indonesia. Di berbagai daerah, warga kerap menggunakan cara-cara kreatif untuk menyuarakan aspirasi mereka, mulai dari menanam pisang, meletakkan boneka, hingga menulis pesan sindiran di sekitar lubang jalan. Namun, aksi di Larantuka ini menjadi sorotan karena dilakukan di jalur vital yang seharusnya menjadi prioritas perawatan.

“Ini bukan sekadar protes, tapi juga bentuk kepedulian. Kami tidak ingin ada korban karena kelalaian,” ujar Razmat.

Aksi ini pun viral di media sosial lokal, memicu diskusi hangat tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga keselamatan pengguna jalan. Banyak warganet yang mendukung langkah warga dan mendesak agar perbaikan dilakukan tanpa menunggu jatuhnya korban.

Tuntutan Akan Transparansi dan Aksi Nyata

Warga berharap pemerintah tidak hanya merespons dengan janji, tetapi juga menunjukkan aksi nyata. Mereka menuntut transparansi dalam proses perbaikan, termasuk anggaran, waktu pelaksanaan, dan pihak pelaksana proyek.

“Kami ingin tahu siapa yang bertanggung jawab, berapa anggarannya, dan kapan selesai. Jangan hanya janji,” tegas Razmat.

Kondisi jalan yang rusak bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut hak dasar masyarakat atas keselamatan dan mobilitas. Dalam konteks pembangunan yang inklusif dan berkeadilan, infrastruktur dasar seperti jalan seharusnya menjadi prioritas utama.

Menanti Bukti, Bukan Janji

Hingga kini, lubang di tengah jalan itu masih menganga, dengan pohon kecil yang tumbuh sebagai simbol perlawanan warga terhadap ketidakpedulian. Mereka menanti bukan sekadar janji, tetapi bukti nyata bahwa suara rakyat didengar dan ditindaklanjuti.

Jika pemerintah benar-benar ingin membangun dari pinggiran, maka Larantuka dan kota-kota kecil lainnya di Indonesia Timur harus mendapatkan perhatian yang setara. Jalan berlubang bukan hanya soal aspal yang terkelupas, tetapi juga tentang kepercayaan yang perlahan terkikis.


Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *