Pengalaman Perjalanan ke Roma
Roma adalah salah satu kota yang selama ini menjadi impian untuk dikunjungi. Pada hari itu, impian tersebut akhirnya terwujud. Pagi hari sekitar jam 6:30 pagi, kami sudah meninggalkan penginapan di Verona dan berjalan kaki menuju stasiun kereta. Jaraknya hanya sekitar 7 menit, sehingga tidak terlalu melelahkan. Kereta akan berangkat pada jam 7:40 pagi. Sesampainya di stasiun, kami langsung mencari platform dan menunggu.
Kami memilih naik kereta Italo dengan kelas bisnis karena sebagai senior, kami mendapatkan potongan harga. Italo memberikan diskon untuk para senior tanpa perlu memiliki kartu seniors, asalkan bisa menunjukkan paspor saat diperiksa. Sementara Trenitalia hanya memberikan diskon jika memiliki kartu seniors, dan mungkin hanya untuk warga EU. Ini saya kurang tahu pastinya.
Kereta Italo yang merupakan kereta cepat ini sangat nyaman. Ruang leg-nya cukup luas dan toilet juga besar karena termasuk kelas bisnis. Untuk kelas biasa, tentu lebih sempit. Selain itu, di kelas bisnis kami juga diberi minuman dan makanan kecil selama perjalanan.
Perjalanan menuju Roma terasa sangat cepat. Sekitar jam 10:50 kami sudah tiba di stasiun Termini. Dari sana, kami harus melanjutkan perjalanan ke Vatican City karena menginap di Wisma Indonesia. Kami memutuskan naik taksi karena membawa koper besar dan berat akan repot jika harus naik metro dan bus. Biaya taksinya sekitar 20 euro.
Setelah tiba di Wisma, kami harus berbasa-basi terlebih dahulu dengan Bapak Dubes dan istri. Di sisi lain, pesan WA saya terus berbunyi karena teman saya yang tinggal di Roma selama 30 tahun ingin tahu keberadaan saya. Namun, saya terpaksa mengabaikan pesan-pesan itu karena masih asyik berbincang dengan Bapak Dubes.
Setelah makan siang, kami segera berpamitan dan bertemu dengan teman saya di stasiun metro Eur Fermi. Untuk mencapai stasiun, kami naik bus ke Eur Fermi. Karena belum membeli tiket 48 jam, kami menggunakan kartu kredit untuk membayar bus. Kartu debit Indonesia juga bisa digunakan.
Setiba di stasiun, kami langsung ke mesin tiket untuk membeli tiket 48 jam. Kami membeli tiket pada jam 2 siang, jadi berlaku hingga esok hari jam 2 siang. Kami menunggu teman saya yang tiba dalam waktu singkat. Setelah itu, kami langsung naik metro menuju Colosseum, simbol ikonik Kekaisaran Romawi.
Tadinya saya ingin ke St Peter’s Basilica, tetapi teman saya menyarankan untuk mengunjunginya esok hari karena antrean tidak terlalu ramai. Akhirnya, tujuan hari itu adalah Colosseum. Dari stasiun, kami hanya berjalan beberapa menit saja. Hari itu pengunjung Colosseum cukup ramai dan cuacanya cerah serta panas. Saya merasa salah kostum karena di Verona udaranya dingin, jadi masih memakai baju lengan panjang.
Setelah menikmati keindahan Colosseum, kami berjalan melewati reruntuhan Temple of Venus and Roma, sebuah tempat yang didedikasikan untuk Venus Felix dan Roma Aeterna. Kami juga mengunjungi Roman Forum, pusat sipil, komersial, politik, dan keagamaan di kota Kuno Romawi. Reruntuhan bangunan tua tersebut terpelihara baik, membuat kami terpesona.
Kami juga sempat duduk-duduk sejenak untuk menikmati Trajan’s Column dan gereja Santissimo Nome di Maria al Foro Traiano. Kami juga melewati Trajan’s Market yang diduga merupakan pusat perbelanjaan pertama di dunia.
Dari situ, kami ingin mengunjungi Basilica Santa Maria Maggiore. Kami naik metro ke stasiun Termini karena letak basilica tidak jauh dari sana. Teman saya yang dari Italia belum makan siang, jadi kami mencari restoran untuk makan. Kami menemukan restoran dengan set menu seharga 15 euro. Kami memilih tiga macam makanan agar bisa saling mencicipi. Chef di restoran itu senang dan melayani sendiri, bahkan memberi kami limoncello gratis.
Makanan enak dan porsinya besar, membuat kami kekenyangan. Chef mengajak ngobrol dan bertanya dalam bahasa Italia, diterjemahkan oleh teman saya. Dia berharap kami datang lagi untuk mencoba menu lainnya.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Basilica Santa Maria Maggiore. Pengunjung tidak terlalu banyak, jadi antreannya tidak terlalu panjang. Kami harus melewati pos pemeriksaan ketat seperti di bandara. Makam Paus Franciscus sangat sederhana, hanya ada tulisan Franciscus dan dua karangan bunga kecil.
Interior gereja indah dengan relief dan lukisan yang menarik. Setelah puas mengagumi keindahan gereja, kami pulang. Kami berpisah di stasiun Termini. Teman saya harus naik kereta regional, sementara saya dan teman lainnya naik metro kembali ke Wisma.
Sesampai di Wisma, saya langsung mandi dan bersiap tidur. Sementara teman saya masih turun ke lantai bawah untuk makan malam dan berbincang dengan tuan rumah serta tamu lainnya. Hari itu cukup melelahkan tapi menyenangkan karena sebagian impian saya untuk mengunjungi beberapa tempat di Roma sudah terwujud.











