Bencana Banjir Bandang di Aceh, Kondisi Darurat dan Permohonan Bantuan
Banjir bandang yang melanda wilayah Aceh menimbulkan dampak yang sangat mengerikan. Bupati hingga Governur Aceh terlihat berulang kali menangis karena kewalahan dalam menangani bencana yang menghancurkan seluruh wilayah tersebut.
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky, menunjukkan kekacauan dan kesedihan saat mengungkapkan kondisi yang sedang dialami. Ia menyebut tiga desa di Kecamatan Serbajadi diduga lenyap akibat arus banjir yang ganas. Sementara itu, 24 kecamatan mengalami lumpuh total tanpa logistik maupun komunikasi.
Dalam rapat darurat bersama Forkopimkab, Iskandar beberapa kali tidak kuasa menahan air mata sambil memohon bantuan kepada Presiden Prabowo. Situasi kelaparan juga menjadi masalah serius, dengan kemungkinan warga meninggal akibat kelaparan jika bantuan tidak segera datang dalam dua hari.
“Ada kemungkinan warga meninggal kelaparan jika dua hari lagi bantuan tak masuk,” ujarnya. Ia menjelaskan kerusakan yang terjadi sebagai bencana besar, seperti jalan mengelupas, arus air berputar kencang, rumah sakit lumpuh, peralatan medis rusak, dan persediaan logistik yang hampir habis.
Karena situasi yang sangat genting, ia bahkan menggunakan dana pribadi untuk membantu warga, sambil bekerja sama dengan TNI–Polri di lapangan. Hingga saat ini, belum ada bantuan yang berhasil masuk karena akses Banda Aceh-Medan terputus dari dua arah.
“Tolong bantu kami, jangan anggap bencana ini sepele,” katanya memelas.
Aceh Timur kini berada pada kondisi hampir kolaps karena listrik padam, jaringan komunikasi terputus, pelayanan publik berhenti total, dan distribusi logistik tidak dapat dilakukan akibat jalur darat yang tidak bisa ditembus. Kondisi keuangan daerah pun tidak mampu menopang penanganan darurat.
Situasi mulai dapat dipantau lebih jelas pada Sabtu (29/11/2025) setelah Pemkab menyewa perangkat Starlink untuk membuka komunikasi awal. Hingga Senin (01/12/2025) siang, tercatat 30 warga meninggal dunia dan sekitar 30 ribu orang mengungsi. Kondisi banjir masih belum stabil, dan banyak wilayah belum teridentifikasi secara jelas karena keterbatasan sinyal serta rusaknya akses jalan.
“Sementara rumah yang rusak diperkirakan ribuan, dan seluruh fasilitas kesehatan juga tergenang banjir dan rusak, ini data sementara yang bisa kita sampaikan karena data akurat kita masih mendata, kondisi keterbatasan sinyal di Aceh Timur menjadi permasalahan kita tidak tau kondisi menyeluruh Aceh Timur,” paparnya.
Selain itu, stok obat-obatan di Aceh Timur juga semakin menipis. “Kami meminta kepada bapak Presiden Prabowo Subianto, bila perlu turun langsung ke Aceh Timur untuk melihat kondisi disini bahwa Kabupaten ini porak-poranda akibat banjir bandang, kami meminta bantuan dari pusat segera tiba, karena masyarakat kami sangat kelaparan,” harapnya.
Hingga hari ini, tiga kecamatan masih terendam dan warga terus dievakuasi. Iskandar berencana menembus langsung wilayah-wilayah yang masih terisolir.
Kondisi obat-obatan semakin kritis. Dari dua rumah sakit di Aceh Timur RS Zubir Mahmud dan RS Sultan Abdul Aziz Syah (RSAS) Peureulak hanya RS Zubir Mahmud yang masih memiliki persediaan obat. “Stok Obat-obatan kita sudah sangat menipis, hanya RS Zubir Mahmud yang masih mempunyai stok, sementara lainnya sudah habis,” tutur Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, Senin (1/12/2025).
Tak hanya itu fasilitas kesehatan lainnya seperti ambulance juga banyak yang rusak terendam banjir menyebabkan proses evakuasi dan pengantaran korban ke rumah sakit menjadi terhambat.
Al-Farlaky menjelaskan bahwa data yang akurat saat ini belum bisa dipaparkan karena masih terkendala jaringan untuk berkomunikasi. Kendati demikian ia tetap mengerahkan segala upaya dan tenaga untuk melakukan pemantauan dan penyaluran bantuan seadanya saat ini.
“Kita terus berupaya bekerja semaksimal mungkin dan memang sangat kewalahan menanggani bencana sebesar ini tanpa bantuan pemerintah,” tuturnya.
Ia melanjutkan, informasi diperoleh, bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) tujuan Aceh Timur sudah selesai dalam pembuatan di Pelabuhan Belawan Medan menggunakan Kapal KRI Sutedi Seno Putra 378, namun jadwal keberangkatan masih belum terkonfirmasi.
“Untuk bantuan dari Kemensos tujuan Aceh Timur sudah dimuat, pada hari ini tanggal 01 Desember 2025 sekitar Pukul 00:12 WIB namun tujuan keberangkatan akan dikonfirmasi kembali, jadi kita masih menunggu sampai saat ini,” tuturnya.
Gubernur Aceh Mengungkap Kondisi Kritis
Melansir Grid, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mengungkapkan kondisi kritis yang terjadi di wilayahnya. Ia bahkan menyebut bencana yang melanda Aceh kali ini sebagai “Tsunami ke-2”.
Memasuki hari kesembilan pascabanjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mulai terlihat betapa dahsyatnya dampak bencana tersebut. Salah satu kejadian paling ekstrem terjadi di Desa Blang Peuria, Kecamatan Samudera, di mana sebuah rumah warga bergeser sekitar 500 meter dari lokasi asal hingga ke badan jalan.
Hingga Minggu (30/11/2025), rumah tersebut masih berada di badan jalan karena terseret kuatnya arus banjir. Selain itu, lima rumah lainnya hanyut dan hancur terbawa arus.
Diberitakan bahwa banjir merendam sejumlah wilayah lainnya di Aceh, yakni Kabupaten Aceh Timur, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bireuen, Kota Langsa, Pidie, Pidie Jaya, dan Kabupaten Aceh Utara.
Ditilik dari akun Instagram @rumpi_gosip, dalam pernyataannya, Gubernur Aceh mengungkapkan kondisi kritis di lapangan. Ia bahkan menyebut bencana kali ini sebagai “Tsunami ke-2”.
Ia memperkirakan dampaknya mungkin “lebih dahsyat ini dari Tsunami” sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan mengenai desa-desa yang terputus total atau bahkan ‘hilang’ akibat diterjang air bah dan tanah longsor.
“Ada beberapa kampung hilang entah ke mana bah, yaitu Sawang, Jamboane, Bireuen, dan Peusangan. Malam itu 4 kampung juga tak tahu entah kemana. Jadi, Aceh sekarang Tsunami kedua,” ujar sang gubernur.











