"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Ketika Andri dan Untung Melestarikan Musik Lawas di Blok M

Dunia Musik Fisik di Balik Blok M Square

Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas dan deretan mal modern, tersembunyi sebuah dunia yang tidak banyak berubah sejak dua dekade lalu. Di basement Blok M Square, terdapat labirin sempit yang penuh dengan ratusan ribu kaset, CD, dan vinyl. Tempat ini menjadi rumah bagi para penjaga ingatan musik yang bertahan di tengah tantangan streaming digital.

Dari Operator Mesin ke Pedagang Kaset

Andri (39) adalah salah satu dari mereka. Ia awalnya bekerja sebagai operator mesin di sebuah pabrik. Namun, hidup membawanya ke dunia yang ia cintai. Awalnya, mertuanya menjual barang di Taman Puring. Andri ikut serta karena waktu kerjanya santai. Dari situ, ia mulai menggeluti usaha jual beli kaset.

Pendapatan Andri kini jauh lebih besar daripada gaji pabrik. Selama pandemi, bisnisnya sempat terpuruk, tetapi ia tidak menyerah. Ia memanfaatkan kemampuan berjualan online sejak jaman Facebook, Instagram, hingga marketplace.

Pembeli Berbagai Generasi

Pembeli Andri bervariasi, mulai dari kolektor serius hingga penggemar yang hanya ikut tren. Ada yang membeli sekali tanpa memiliki player, tetapi tetap mencari kaset atau CD. Bagi Andri, keberagaman pembeli membuat pasar musik fisik tetap hidup.

Anak-anak muda kini mulai tertarik pada rilisan baru dari band indie seperti Hindia dan Barefood. Mereka juga mulai mencari lagu-lagu lama seperti Britpop, Oasis, Radiohead, Blur, dan Beatles.

Ruang Hidup Musik Fisik di Blok M

Lorong tempat Andri berjualan bukan hanya tempat dagang, tetapi ekosistem budaya. Rak-rak tinggi memadati ruang, setiap kios tampak seperti gudang kecil dengan tumpukan barang tak terbatas. Pengunjung berjalan pelan, membuka sampul kaset dengan hati-hati, atau mengecek daftar lagu dengan ponsel.

Percakapan kecil terdengar di setiap tikungan: tawar-menawar, diskusi genre, atau cerita nostalgia tentang lagu pertama yang mereka beli. Di pojok kios Andri, beberapa vinyl masih menunggu untuk dibersihkan.

Rilisan Langka dan Kisah di Baliknya

Kisah-kisah unik sering muncul dari transaksi kaset dan vinyl. Ada keluarga yang menjual koleksi orang tuanya. Ada pedagang antik yang menawarkan barang-barang langka. Ada pula pembeli yang kembali mencari rilisan tertentu bertahun-tahun setelah membeli player pertamanya.

Vinyl rilisan awal White Shoes pernah dijual lebih dari 3 juta, jauh melampaui harga awalnya. Keberadaan barang langka semacam itu membuat Blok M Square terasa seperti tambang musik tua yang masih menyimpan kejutan.

Dari Kolektor Menjadi Pelapak Musik Lawas

Berbeda dengan Andri, Untung (55), pemilik lapak Hysteria Musik, adalah seorang kolektor musik yang menjadikan hobi lamanya sebagai usaha berkelanjutan. Ia awalnya bekerja sebagai pegawai kantoran, namun setelah berhenti, ia memutuskan untuk fokus pada bisnis ini.

Untung memulai bisnis ini pada 2014, setelah bertahun-tahun mengumpulkan kaset untuk koleksi pribadi. Koleksi di tokonya kini mencapai puluhan ribu item, dengan variasi yang jarang ditemukan di tempat lain.

Dari Nike Ardilla Hingga Britpop

Permintaan kaset pita datang dari berbagai segmen usia, termasuk anak muda, mahasiswa, hingga karyawan. Setiap kelompok memiliki genre yang mereka kejar, meski beberapa nama tetap menjadi primadona.

Sebetulnya, yang paling banyak dicari itu segmented, tergantung orangnya mau nyari apa. Dari Nike Ardilla sampai Britpop turut jadi incaran. Album “Bintang Kehidupan” milik Nike Ardilla menjadi yang paling bernilai, dengan harga bisa mencapai Rp300.000.

Bertahan Lewat Media Sosial

Selain pelanggan yang datang langsung ke Blok M Square, Hysteria Music aktif melalui Instagram dan TikTok. Untung kerap mengunggah video unboxing kaset, menampilkan rilisan langka, mengulas album, hingga membagikan momen dengan pembeli.

Konten-konten itu berhasil menarik perhatian generasi muda yang tidak tumbuh bersama walkman atau CD player, namun justru tertarik pada nilai nostalgik dan estetika musik fisik.

Perjalanan dari Bogor ke Blok M

Menjaga toko bukan perkara mudah. Setiap hari, Untung harus menempuh perjalanan dari rumahnya di Bogor menggunakan kereta, kemudian dilanjutkan dengan busway menuju Blok M. Ia membuka rolling door tokonya setiap pukul 12.00 dan menutupnya kembali sekitar pukul 18.00.

Rutinitas itu ia jalani hampir setiap hari tanpa mengeluh, demi menjaga keberlangsungan wadah kecil bagi para pecinta rilisan fisik.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *