"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Gerakan hemat BBM, ASN Bondowoso bersepeda puluhan kilometer ke kantor

Inisiatif Hemat BBM di Bondowoso

Di tengah upaya pemerintah pusat dalam mengurangi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM), berbagai daerah mulai menunjukkan respons yang positif. Salah satu contohnya adalah Kabupaten Bondowoso, di mana para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan anggota DPRD telah memulai inisiatif untuk menghemat energi melalui berbagai cara.

ASN Bersepeda untuk Kehidupan Sehat dan Hemat

Salah satu ASN yang konsisten dalam menjalani gaya hidup hemat BBM adalah Untung Khuzairi, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial di Dinas Sosial P3AKB Bondowoso. Ia setiap hari melakukan perjalanan sejauh 50 kilometer, yaitu 25 kilometer ke kantor dan 25 kilometer kembali ke rumah.

Perjalanan ini dilakukan dengan bersepeda dari rumahnya di Desa Sukosari Lor, Kecamatan Sukosari, menuju kantornya di Kecamatan Bondowoso. Menurut Untung, jarak tersebut tidak terlalu berat jika sudah terbiasa. Bahkan ia pernah menempuh jarak hingga 60 kilometer, seperti saat berkunjung ke Alas Purwo.

“Bersepeda tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga membantu mengurangi pengeluaran BBM,” ujarnya. Ia biasanya menghabiskan sekitar Rp50.000 untuk bahan bakar sepeda motor selama dua hari. Dengan bersepeda, ia bisa menghemat sekitar Rp25.000 per hari atau setara lebih dari dua liter BBM jenis Pertamax.

Untung juga dikenal aktif dalam komunitas Medical Cycling Club (MCC) yang sering mengampanyekan gaya hidup sehat melalui bersepeda.

Kendaraan Listrik sebagai Alternatif

Selain bersepeda, sejumlah ASN di Bondowoso memilih kendaraan listrik sebagai solusi transportasi yang lebih hemat energi. Pelaksana Tugas Kepala Bidang Kebudayaan Disparbudpora Bondowoso, Heri Kusdaryanto, telah menggunakan sepeda motor listrik sejak dua tahun terakhir.

Kendaraan tersebut digunakan untuk berbagai aktivitas, mulai dari mengantar anak ke sekolah hingga tugas kedinasan ke Museum Terbuka. “Lumayan irit dan tidak perlu antre BBM. Tagihan listrik di rumah hanya bertambah sekitar Rp50.000 per bulan. Pengisian daya hanya butuh 2 jam untuk jarak tempuh maksimal 40 kilometer,” katanya.

Anggota DPRD Naik Becak

Langkah berbeda dilakukan oleh Tohari, anggota DPRD Bondowoso dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang juga menjabat Ketua Komisi II DPRD. Ia memilih menggunakan becak tradisional sebagai bagian dari ajakan kepada masyarakat untuk berhemat energi sekaligus membantu perekonomian warga.

Dari rumahnya di Kecamatan Maesan, Tohari tetap menggunakan mobil pribadi menuju kawasan Kembang. Namun setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dengan becak menuju sejumlah lokasi aktivitasnya, seperti Wisma Ketua DPRD, kantor DPC PKB, hingga kantor DPRD di Tenggarang.

“Tarif becak ini beragam, mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000 tergantung jarak. Saya sengaja berganti-ganti tukang becak di setiap titik lokasi agar rezekinya terbagi,” ujarnya.

Respons terhadap Potensi Dampak Konflik di Selat Hormuz

Inisiatif-inisiatif ini muncul sebagai respons terhadap potensi dampak konflik di Selat Hormuz terhadap energi global. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya penghematan energi, para ASN dan legislator di Bondowoso menjadi contoh yang baik bagi masyarakat luas.




Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *