"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Kekhawatiran Militer Israel Menghadapi Iran, Pasukan Zionis Kekurangan Personel

Kekacauan Militer Israel Akibat Serangan Rudal Iran

Memasuki hari ke-28 konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) serta Israel, militer zionis Israel tampaknya sedang menghadapi tantangan besar akibat serangan rudal dan drone Iran yang terus-menerus. Bahkan, pejabat penting di Israel mengakui bahwa pasukan mereka berada di ambang kehancuran. Hal ini diperkuat oleh pernyataan seorang pejabat militer zionis yang menyebutkan bahwa mereka kesulitan dalam menghadapi ancaman dari Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon.

Setiap hari, rudal dan drone Iran berhasil meluncurkan serangan yang menghancurkan wilayah Israel, terutama infrastruktur penting seperti aset militer. Akibatnya, Israel mengalami kerugian besar baik secara ekonomi maupun kemampuan militer mereka. Salah satu masalah utama adalah kurangnya rudal pencegat untuk melengkapi sistem pertahanan udara mereka, termasuk Iron Dome, Arrow, David’s Sling, dan THAAD. Semakin banyaknya rudal Iran yang mencapai target di wilayah Israel membuktikan bahwa sistem pertahanan mereka semakin melemah.

Kampanye rudal Iran ke wilayah zionis Israel telah dilakukan lebih dari 360 gelombang serangan dengan tingkat intersepsi mencapai sekitar 92 persen. Presisi serangan Iran semakin tinggi karena didukung oleh bantuan data intelijen Rusia dan panduan satelit China. Target utama serangan Iran adalah infrastruktur militer dan wilayah Tel Aviv, dengan penggunaan amunisi yang memadai.

Pada serangan terbaru beberapa hari lalu, rudal Iran mengarah ke wilayah dekat fasilitas nuklir Israel, dengan sasaran utama dua kota di wilayah selatan yaitu Arad dan Dimona. Serangan tersebut dikabarkan telah menewaskan sekitar 200 orang. Intelijen Rusia melaporkan bahwa dalam 72 jam pertama serangan Iran, Israel mengalami kerugian besar.

Dalam 72 jam pertama serangan balasan Iran ke wilayah Israel pasca serangan udara AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026, Israel harus menerima kebyataan pahit. Menurut data intelijen Rusia, dalam serangan Iran pada 72 jam pertama, Israel kehilangan 6 jenderal IDF, 11 ilmuwan nuklir, 32 agen Mossad, 198 perwira angkatan udara, dan 462 tentara, serta lebih dari 400 prajurit cadangan, total lebih dari 1.200 orang tewas.

Militer Israel Diambang Kehancuran

Akibat gelombang serangan Iran yang tak henti-hentinya, militer Israel dalam bahaya besar. Seorang pejabat penting Israel menyebutnya berada dalam kondisi diambang kehancuran. Hal ini diakui oleh pemimpin oposisi utama Israel, Yair Lapid. Dia menuduh Benyamin Netanyahu mengarahkan negara itu menuju bencana keamanan karena kekurangan tentara tempur.

“IDF sudah mencapai batas kemampuannya dan bahkan melampauinya. Pemerintah membiarkan tentara yang terluka berada di medan perang,” kata Lapid dalam pernyataan yang disiarkan televisi pada hari Kamis, 26 Maret 2026. Dia mengulangi peringatan yang disampaikan sehari sebelumnya oleh kepala militer Letnan Jenderal Eyal Zamir kepada kabinet keamanan.

Menurut Lapid, Pemerintah Israel telah mengirimkan tentara ke dalam perang multi-front tanpa strategi, tanpa sarana yang diperlukan, dan dengan jumlah tentara yang terlalu sedikit. Sebelumnya, laporan media Israel melaporkan pernyataan Eyal Zamir di hadapan cabinet dan menyebutnya IDF tengah berada di ambang kehancuran.

Dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi, juru bicara militer Brigadir Jenderal Effie Defrin mengomentari kekurangan pasukan dan mengatakan bahwa mereka membutuhkan lebih banyak tentara tempur di berbagai front, terutama di Lebanon. “Di front Lebanon, zona pertahanan depan yang sedang kita bangun membutuhkan tambahan pasukan IDF,” kata Defrin, seraya juga menyebutkan peningkatan kebutuhan di Tepi Barat yang diduduki, Gaza, dan Suriah.

Lapid mengatakan bahwa Zamir memberi tahu kabinet bahwa dia memiliki pasukan cadangan yang menjalani rotasi keenam dan ketujuh. “Para prajurit cadangan ini sudah kelelahan dan letih, dan tidak lagi mampu menghadapi tantangan keamanan kita,” kata Lapid.

Menghadapi kondisi ini, Lapid menyerukan agar laki-laki dari komunitas ultra-Ortodoks Haredi, yang sejak berdirinya Israel pada tahun 1948 telah dibebaskan dari wajib militer, direkrut untuk mengikuti dinas militer. Wajib militer berlaku di Israel, tetapi berdasarkan peraturan yang ditetapkan pada saat berdirinya negara itu — ketika kaum ultra-Ortodoks masih merupakan komunitas yang sangat kecil — pria yang mengabdikan diri sepenuhnya untuk mempelajari teks-teks suci Yahudi diberikan pengecualian secara de facto.

Zamir dilaporkan memperingatkan bahwa militer akan “runtuh dengan sendirinya,” karena menghadapi perlawanan yang semakin meningkat dari Hizbullah di Lebanon, tempat Israel telah membunuh ratusan orang, menggusur lebih dari satu juta orang, dan mengirim pasukan dalam misi yang dinyatakan untuk menduduki wilayah selatan.


Eka Syaputra

Penulis berita yang fokus pada isu politik ringan dan peristiwa harian. Ia menikmati waktu luang dengan menggambar, membaca artikel opini, dan mendengarkan musik indie. Menurutnya, tulisan yang baik adalah hasil dari pikiran tenang. Motto: "Objektivitas adalah harga mati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *