Ketegangan di Selat Hormuz Memicu Kekhawatiran Global
Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan minyak global, kini berada dalam kondisi tidak aman dan penuh ketegangan. Situasi ini terjadi setelah eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang mencapai babak baru. Kedua negara saling menyalahkan atas kekacauan yang terjadi di perairan paling krusial bagi energi dunia tersebut.
Sebelumnya, kedua belah pihak saling melemparkan tuduhan terkait keamanan jalur pelayaran energi. Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, menuduh tindakan Amerika Serikat sebagai penyebab Selat Hormuz tidak lagi aman bagi pelayaran internasional. Dalam wawancara televisi yang disiarkan pada Jumat (6/3/2026), Akraminia menegaskan bahwa Iran tidak memblokir jalur strategis tersebut.
Menurutnya, justru tindakan provokatif Washington yang membuat kawasan itu berbahaya bagi kapal-kapal niaga. Ia menyatakan bahwa Selat Hormuz menjadi tidak aman akibat tindakan jahat pemerintah AS. Akraminia juga menuding Israel bersama Amerika Serikat melancarkan perang agresi tanpa provokasi terhadap Republik Islam Iran.
Ia mengklaim bahwa konflik saat ini merupakan perang yang “Suci dan sah” karena Iran sedang mempertahankan diri. Militer Iran, lanjutnya, telah berulang kali memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap negara tersebut akan dibalas keras. Bahkan, ia menegaskan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan berpotensi menjadi target jika perang terus berlanjut.
“Iran tidak memiliki permusuhan dengan negara-negara tetangga. Namun ketika perang pecah, dampaknya tidak bisa dihindari akan menjalar ke kawasan,” ujarnya. Akraminia juga mengklaim angkatan bersenjata Iran kini lebih siap dibandingkan saat konflik singkat sebelumnya. Ia mengatakan seluruh unit militer telah mempersiapkan skenario perang berkepanjangan dengan perencanaan yang matang.
Amerika Serikat Siapkan Pengawalan Kapal
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana untuk mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz guna memastikan jalur energi global tetap terbuka. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai melakukan pengawalan kapal begitu situasi militer memungkinkan.
Dalam wawancara dengan Fox News, Wright mengatakan saat ini fokus utama militer AS adalah menekan kemampuan Iran melancarkan serangan balasan terhadap negara-negara tetangga dan warga Amerika di kawasan. “Begitu situasinya memungkinkan, kami akan mengawal kapal-kapal melalui selat tersebut dan memastikan aliran energi kembali berjalan,” kata Wright.
Dampak pada Pasar Energi Global
Ketegangan di Selat Hormuz langsung berdampak pada pasar energi global. Harga bahan bakar dilaporkan melonjak dan mencapai level tertinggi selama masa pemerintahan Donald Trump. Meski demikian, Wright menilai lonjakan harga tersebut hanya bersifat sementara. “Saya kira ini masalah hitungan minggu, bukan bulan. Ini hanya gangguan kecil untuk saat ini,” ujarnya.
Dalam langkah yang disebut bersifat sementara, pemerintah AS juga mengizinkan India membeli minyak dari Rusia selama 30 hari guna mencegah gangguan lebih besar pada pasar energi dunia di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Pentingnya Selat Hormuz
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat sempit ini setiap hari. Ketidakstabilan di kawasan tersebut tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga kehidupan jutaan orang yang bergantung pada stabilitas harga energi.











