"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Anies Minta Prabowo Segera Tinggalkan BoP Trump: Kita Bukan Negara Anti-perdamaian

Kritik terhadap Kepemimpinan Indonesia di Board of Peace

Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil keputusan untuk tetap mempertahankan posisi negara sebagai anggota Board of Peace (BoP) setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran. Keputusan ini mendapat berbagai tanggapan dari berbagai pihak, termasuk kritik dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Anies menegaskan bahwa sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah berkomitmen untuk menolak penjajahan dan memperjuangkan ketertiban dunia. Ia menekankan bahwa prinsip tersebut bukan hanya slogan politik, tetapi juga tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai dasar arah kebijakan negara.

Prinsip Dasar Indonesia yang Harus Dipertahankan

Dalam pernyataannya, Anies mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk terus memperjuangkan tatanan dunia yang adil dan damai. Ia menegaskan bahwa Indonesia berjanji untuk menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Warisan Diplomasi Indonesia di Dunia

Lebih jauh, Anies menyebutkan sejarah panjang diplomasi Indonesia di kancah internasional. Menurutnya, Indonesia dikenal sebagai negara yang berani menyuarakan keadilan global, terutama bagi negara-negara berkembang. Reputasi tersebut dibentuk sejak Indonesia menjadi pelopor lahirnya Konferensi Asia-Afrika 1955 serta turut menggagas gerakan solidaritas negara-negara dunia ketiga melalui Gerakan Non-Blok.

Dalam forum-forum internasional tersebut, Indonesia dikenal sebagai negara yang tegas mengingatkan negara-negara besar agar tunduk pada hukum internasional.

Pertanyaan tentang Konsistensi Indonesia

Dengan latar belakang sejarah tersebut, Anies mempertanyakan keputusan Indonesia yang tetap berada dalam Board of Peace, meskipun Amerika Serikat dan Israel baru saja melakukan serangan militer ke Iran. Ia menilai situasi tersebut menimbulkan dilema serius bagi konsistensi sikap Indonesia di panggung internasional.

Menurutnya, serangan tersebut tidak memiliki mandat dari PBB dan Iran dinilai bukan ancaman nyata bagi negara lain pada saat itu. Anies bertanya apakah ini benar-benar jalan untuk perdamaian yang adil atau kita sedang mengikuti melegitimasi ketidakadilan yang selama ini kita kecam.

Board of Peace memang tertulis menjanjikan perdamaian namun ketuanya yaitu Presiden Trump justru baru saja memerintahkan serangan militer ke Iran bersama Israel tanpa mandat PBB, Iran bukan ancaman nyata, dan di tengah negosiasi yang justru menunjukkan kemajuan dan dengan level korban sampai ke kepala negara.

Seruan untuk Keluar dari BoP

Anies menilai kredibilitas Board of Peace sebagai forum perdamaian patut dipertanyakan apabila pemimpinnya sendiri justru mengambil langkah militer yang berpotensi memperluas konflik. Karena itu, ia mendorong pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan keluar dari organisasi tersebut.

Menurutnya, langkah tersebut tidak berarti Indonesia menolak upaya perdamaian dunia. Sebaliknya, keputusan itu justru mencerminkan penerapan prinsip politik luar negeri Indonesia yang sesungguhnya. Ia juga menegaskan bahwa konsep politik luar negeri bebas aktif tidak berarti Indonesia harus bergabung dengan semua organisasi internasional tanpa mempertimbangkan kesesuaian dengan nilai-nilai dasar negara.

Bebas aktif itu yaitu “satu meja” dan sesuai dengan prinsip kita yaitu membela kedaulatan, menegakkan hukum internasional, dan membela korban penjajahan. Bukan malah memberi karpet merah pada pelakunya.

Mengingat Spirit Bandung

Di akhir pernyataannya, Anies kembali mengingatkan pentingnya menjaga warisan diplomasi Indonesia yang lahir dari semangat solidaritas negara-negara berkembang. Ia menyinggung kembali semangat The Spirit of Bandung, yang menjadi simbol perjuangan negara-negara Asia dan Afrika dalam menolak dominasi kekuatan besar dunia.

Apakah kita rela menukar warisan The Spirit of Bandung (Konferensi Asia Afrika 1955) dengan simbol keikutsertaan di sebuah dewan perdamaian yang bahkan tak sanggup menyandang namanya sendiri? Kita perlu pikirkan secara serius.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *