"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Turut Berduka, Surat Megawati Kenang Pertemuan dengan Khamenei di Teheran

Peringatan Duka dan Solidaritas Megawati Soekarnoputri atas Kematian Ali Khamenei

Megawati Soekarnoputri, yang saat itu menjabat sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer AS-Israel. Dalam surat resmi yang dikirimkan kepada Pemimpin Tertinggi Sementara Iran, Presiden, dan seluruh rakyat Iran, ia menunjukkan perasaan simpati dan solidaritas terhadap keluarga, pemerintah, serta masyarakat Iran.

Surat tersebut tidak hanya berisi belasungkawa atas kematian Ayatollah Ali Khamenei, tetapi juga mengungkapkan kedekatan batin antara perjuangan Sukarno dan pemikiran Khamenei. Dalam surat tersebut, Megawati menyebutkan bahwa ia mengenang pertemuannya dengan Khamenei saat Konferensi D-8 di Teheran pada tahun 2004, ketika ia masih menjabat sebagai Presiden RI.

Dalam isi suratnya, Megawati menyampaikan bahwa Ayatollah Ali Khamenei memimpin bangsanya dalam situasi yang sangat sulit, ditengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer, sambil tetap mempertahankan kedaulatan negaranya dan martabat dunia Islam. Ia melihat dalam diri Khamenei seorang ulama dan negarawan yang berhasil memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten.

Bagi Megawati, sosok Ayatollah Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Bung Karno, yang merupakan Bapak Bangsa, Proklamator, dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Berbagai kesaksian menunjukkan bahwa sejak usia muda, Khamenei mengagumi Bung Karno, membaca pemikirannya, dan menjadikan pengalaman Indonesia—terutama Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung—as a reference dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan, dan keadilan sosial di Iran.

Selain itu, Megawati juga mengingat kunjungan resmi ke Teheran pada tahun 2004, dalam kapasitas selaku Presiden Republik Indonesia. Kunjungan itu bertujuan untuk menghadiri Konferensi D-8 sekaligus memperkuat hubungan persahabatan dan kerjasama antara kedua negara. Pada waktu itu, ia berkesempatan untuk bertemu dengan Ayatollah Ali Khamenei, dan merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta kharisma kepemimpinan yang terpancar dalam diri beliau.

Serangan Militer AS-Israel yang Menewaskan Khamenei dan Keluarganya

Pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, serangan militer AS-Israel terhadap wilayah Iran dilakukan secara mendadak. Dalam serangan ini, Ayatollah Ali Khamenei gugur bersama sejumlah anggota keluarganya, termasuk putrinya, menantunya, dan cucunya. Selain itu, istri mendiang Khamenei, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami luka parah akibat serangan tersebut.

Media Iran, Tasnim News Agency, menyebut bahwa Mansoureh sempat dilarikan ke rumah sakit dan berada dalam keadaan koma sejak hari serangan, tetapi akhirnya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Senin malam akibat luka-luka serius yang dideritanya.

Serangan AS-Israel dimulai pada dini hari waktu setempat, dengan sejumlah ledakan dilaporkan terdengar di Teheran dan beberapa kota besar lainnya. Media pemerintah Iran pun mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan berkelanjutan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut.

Pernyataan Megawati tentang Penyelesaian Konflik

Dalam suratnya, Megawati menegaskan bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan membahayakan perdamaian kawasan maupun dunia. Ia menyatakan keyakinannya bahwa prinsip yang dipegang sejak masa Bung Karno hingga hari ini adalah penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalan dialog, perundingan yang adil, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan dan penggunaan kekuatan bersenjata.

Megawati juga menyampaikan doa agar Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang melapangkan tempat Ayatollah Ali Khamenei di sisi-Nya, menerima segala amal perjuangannya, serta mengampuni segala kekhilafannya. Semoga rakyat Iran dikaruniai kekuatan, persatuan, dan kebijaksanaan untuk melewati masa-masa sulit ini serta mampu menjaga kemerdekaan, kehormatan, martabat, dan kedaulatan negerinya di tengah badai sejarah yang tengah bergelora.

Harapan untuk Persahabatan Antara Indonesia dan Iran

Dalam duka yang mendalam ini, kiranya kita dapat terus merawat warisan terbaik dari para pendahulu kita, baik Bung Karno di Indonesia maupun para pemimpin revolusi di Iran. Yakni tekad untuk membangun dunia yang damai, bebas dari imperialisme dan hegemoni, serta berpihak kepada mereka yang tertindas.

Semoga persahabatan antara bangsa Indonesia dan bangsa Iran tetap terpelihara dan bahkan semakin dipererat di masa yang akan datang. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membimbing langkah kita.




Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *