"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Takjil Legendaris Masjid Sabiilurrosyaad Bantul, Bubur Lodeh Sejak 1570

Tradisi Bubur Lodeh di Masjid Sabiilurrosyaad yang Bertahan Ratusan Tahun

Di tengah maraknya berbagai jenis takjil kekinian, Masjid Sabiilurrosyaad justru mempertahankan tradisi kuno yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Berlokasi di Pedukuhan Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, masjid ini terkenal dengan hidangan bubur lodeh yang disajikan setiap hari selama bulan puasa.

Bubur lodeh adalah hidangan berbuka puasa yang memiliki sejarah panjang. Sejak tahun 1570-an, masyarakat setempat telah menikmati bubur nasi bertekstur lembut yang disiram dengan kuah sayur lodeh atau sayur tempe krecek. Tak hanya itu, hidangan ini juga diberi tambahan mi lethek dan kerupuk untuk memberikan rasa yang lebih sempurna. Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat, bubur lodeh juga disajikan bersama potongan ayam atau telur, menjadikannya sebagai sajian yang sangat hangat bagi para pengunjung.

Warisan dari Pendiri Masjid

Tradisi ini tidak hanya sekadar makanan, tetapi juga merupakan peninggalan dari pendiri masjid, yakni Raden Trenggono atau lebih dikenal sebagai Panembahan Bodho. Ia bukan sosok biasa; Panembahan Bodho adalah murid Sunan Kalijaga sekaligus bangsawan keturunan Majapahit, cicit dari Prabu Brawijaya V. Menurut Ketua Takmir Masjid Sabiilurrosyaad, Haryadi, pemberian takjil ini awalnya merupakan strategi pendekatan sosial untuk menyebarkan agama Islam.

“Kami meyakini bahwa bubur lodeh ini adalah peninggalan beliau (Panembahan Bodho),” ujar Haryadi. “Takjil ini merupakan sarana atau wahana untuk dakwah agama Islam bagi masyarakat.”

Makna Mendalam dalam Bubur Lodeh

Nama bubur sendiri memiliki makna yang dalam. Kata ‘bubur’ berasal dari kata ‘bibirin’, yang berarti hal yang bagus. Harapan dari penyajian bubur lodeh adalah agar masyarakat yang datang ke masjid mendapatkan sesuatu yang baik, yaitu ajaran agama. Selain itu, konsep kesetaraan juga terkandung dalam hidangan ini. Setiap orang, baik tua maupun muda, kaya maupun miskin, bisa menikmati bubur lodeh tanpa memandang status sosial.

Selain itu, tekstur bubur yang lembut juga menyiratkan pesan reflektif. Penyampaian ajaran agama harus dilakukan dengan lemah lembut agar tidak bertentangan dengan budaya atau kondisi masyarakat. Secara praktis, bubur yang lembut juga ramah bagi perut orang yang baru saja berpuasa seharian penuh.

Keberlanjutan Tradisi

Pihak masjid tidak pernah mengganti sayur lodeh dengan jenis sayur lainnya. Pemilihan lodeh memiliki akar historis yang erat dengan kondisi sosial masyarakat pada masa penjajahan. Menurut Haryadi, sayur lodeh dipilih karena pada masa itu, kondisi bahan makanan terbatas, dan lodeh menjadi salah satu alternatif yang tersedia.

“Kami tidak pernah mengganti,” katanya. “Ini adalah bentuk kesetiaan untuk merawat kebudayaan dan tradisi leluhur.”

Gotong Royong Masyarakat

Tradisi ratusan tahun ini berhasil bertahan berkat gotong royong masyarakat setempat. Setiap hari, masjid menyediakan 100 hingga 150 porsi bubur lodeh. Pada hari Jumat, jumlah ini melonjak hingga 500-an porsi. Hal ini disebabkan oleh adanya pengajian khusus yang membuat antusiasme masyarakat meningkat.

Yang menarik, seluruh kebutuhan bahan pangan untuk bubur lodeh sepenuhnya disokong oleh warga. Takmir masjid tidak perlu mengeluarkan dana operasional sama sekali. “Masyarakat percaya bahwa ini adalah kegiatan yang mendapat pahala besar, jadi semua bahan sudah berdatangan,” tambah Haryadi.

Ruang Perjumpaan yang Hangat

Menjelang magrib, di sisi selatan Masjid Sabiilurrosyaad, warga dapat melihat kepulan asap dari proses memasak bubur lodeh. Satu jam sebelum waktu berbuka tiba, bubur mulai ditata rapi ke atas piring. Ditemani segelas teh hangat, sajian sederhana ini tidak hanya menjadi hidangan yang mengenyangkan, tetapi juga ruang perjumpaan yang hangat dan sarat makna.


Hendra Susanto

Reporter online yang antusias menjelajahi isu terkini dengan pendekatan analitis. Ia suka membaca buku motivasi, mendengarkan musik akustik, dan membuat catatan ide. Menurutnya, menulis adalah proses belajar yang tak berakhir. Motto: "Setiap paragraf harus mengandung nilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *