Kritik Mahasiswa terhadap Kebijakan Pemerintah dan Undangan Debat Terbuka
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, kembali menjadi sorotan publik setelah menyatakan kesiapan untuk berdebat secara terbuka dengan Presiden Prabowo Subianto di ruang kampus. Sikap kritis yang disampaikan Tiyo bermula dari pandangannya terhadap program Makan Bergizi Gratis yang diinisiasi pemerintah. Ia menyampaikan kritik tersebut melalui sejumlah podcast di kanal YouTube seperti Forum Keadilan TV dan Abraham Samad Speak Up.
Dalam konteks fungsi kontrol sosial mahasiswa terhadap kebijakan publik, Tiyo mengungkapkan kekhawatirannya terhadap efektivitas program tersebut. Menurutnya, kebijakan yang dikeluarkan sering kali tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Hal ini kemudian memicu respons dari berbagai pihak, termasuk intimidasi digital dalam berbagai bentuk, mulai dari pesan ancaman hingga tuduhan manipulatif.
Pengalaman Intimidasi Digital
Menurut laporan yang diterima, Tiyo Ardianto mengalami tekanan digital yang cukup intens. Pesan-pesan ancaman dan tuduhan manipulatif muncul di berbagai platform digital. Bahkan, tekanan tersebut tidak hanya menyasar dirinya secara personal, tetapi juga berdampak kepada keluarganya. Ibunda Tiyo dilaporkan turut menerima pesan bernada intimidatif yang memicu rasa takut.
Selain itu, sejumlah media disebut menyebarkan isu personal disertai ancaman penculikan melalui platform digital sebagai upaya mendelegitimasi posisi Tiyo Ardianto. Hal ini menunjukkan bagaimana kritik yang disampaikan oleh mahasiswa bisa menjadi target bagi berbagai pihak yang tidak nyaman dengan pendapatnya.
Pilih Bicara Langsung, Tolak Perantara
Dalam diskusi di kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Tiyo menegaskan bahwa ia lebih memilih menyampaikan pandangan secara langsung kepada presiden tanpa melalui pihak perantara. Ia beranggapan bahwa tidak semua individu di lingkar kekuasaan mampu atau bersedia menyampaikan realitas sosial di lapangan secara utuh kepada kepala negara.
Menurut Tiyo, terdapat kesenjangan antara laporan administratif dengan kondisi nyata yang dirasakan masyarakat. Karena alasan tersebut, ia menyatakan tidak tertarik mengikuti pertemuan tertutup dengan presiden. Sebaliknya, ia mengundang Presiden Prabowo untuk hadir langsung ke kampus Universitas Gadjah Mada guna mengikuti dialog terbuka bersama mahasiswa.
Undangan Dialog Terbuka di Kampus
Tiyo menilai ruang diskusi publik di lingkungan akademik dapat menjadi wadah transparan untuk menguji data serta kebijakan yang diklaim pemerintah. Ia menegaskan bahwa jika Presiden mau mendengar suara mahasiswa, maka silakan datang ke UGM. Kampus siap menyediakan medan terbuka untuk berdiskusi dengan mahasiswa.
Bagi Tiyo, forum terbuka mencerminkan prinsip transparansi serta memberi kesempatan kepada publik, khususnya mahasiswa, untuk menguji narasi resmi yang beredar. Ia juga menyoroti pendekatan pengambilan kebijakan yang dianggap terlalu bertumpu pada data statistik dan laporan administratif semata.
Kritik pada Pendekatan Berbasis Angka
Menurut Tiyo, kondisi sosial masyarakat tidak dapat sepenuhnya direpresentasikan melalui angka. Realitas di lapangan, menurutnya, perlu dilihat secara langsung melalui interaksi dengan masyarakat tanpa bergantung sepenuhnya pada laporan tertulis yang telah melalui proses penyaringan. Narasi bahwa kondisi nasional berada dalam situasi yang stabil, katanya, perlu diuji dengan fakta empiris di lapangan.
Pertanyaan Reflektif untuk Presiden
Pesan utama yang ingin ia sampaikan berupa pertanyaan reflektif kepada Presiden Prabowo mengenai validitas informasi yang diterima dari para pembantunya. Ia mempertanyakan sejauh mana kepala negara memastikan bahwa laporan yang diterima benar-benar mencerminkan kondisi masyarakat secara faktual.
Permintaan Maaf atas Ketidaknyamanan
Dalam kesempatan yang sama, Tiyo juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang timbul akibat diksi yang ia gunakan dalam kritik sebelumnya. Sorotan publik mengemuka ketika ia menyebut presiden dengan kata “bodoh”. Ia mengakui bahwa pilihan kata tersebut menimbulkan ketidaknyamanan di sebagian kalangan masyarakat.
Makna “Bodoh” yang Dimaksud Tiyo
Meski telah meminta maaf, Tiyo menegaskan bahwa istilah “bodoh” tidak dimaksudkan sebagai serangan personal terhadap Presiden Prabowo. Ia menjelaskan bahwa penggunaan kata tersebut merujuk pada apa yang ia nilai sebagai kegagalan dalam tata kelola kebijakan negara. “Bodoh yang dimaksud di sini adalah inkompetensi yang laten,” jelas Tiyo.
Menurutnya, kritik tersebut lahir dari kegelisahan terhadap arah kebijakan yang dianggap belum menyentuh persoalan paling mendasar di tengah masyarakat.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











