"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Santri Tunarungu Membaca Alquran dengan Bahasa Isyarat di Ponpes Sleman



Suasana tenang dan asri terasa di Kranggilan, Kalurahan Sidomoyo, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman. Di tempat ini berdiri Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom, sebuah pesantren yang menjadi wadah bagi santri tunarungu untuk menjadi penghafal Al-Quran atau hafiz.

Pondok pesantren ini baru saja pindah dari Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, beberapa waktu lalu. Dari tiga lantai yang direncanakan, hanya satu lantai yang selesai dibangun.

Memasuki salah satu ruangan di ponpes ini, suasana tetap tenang seperti kondisi di luar. Namun di balik ketenangannya, seratusan santri tengah membaca Al-Quran menggunakan bahasa isyarat. Wajah-wajah mereka khusyuk. Jemari mereka terus bergerak, melantunkan tiap ayat Al-Quran. Sesekali mata para santri terpejam, meresapi tiap baitnya.

Ahmad (21), santri asal Bali, menjawab pertanyaan wartawan dengan bahasa isyarat. Ia mengatakan bahwa ia belajar Al-Quran pelan-pelan, mengulangi sedikit demi sedikit. Ternyata bisa, gampang.

Sebelum belajar di pondok pada 2022, ia mengaku sama sekali belum pernah mendapatkan pelajaran agama. “Dulu tidak pernah belajar agama. Agama bagi saya hal yang baru. Saya merasakan ilmu saya bertambah dan semakin yakin kepada Allah. Saya mau belajar agama sampai saya meninggal,” katanya.

Saat ini Ahmad telah hafal tiga juz Al-Quran. Ia bercita-cita menjadi ustaz yang bisa mengajari anak-anak tunarungu. “Saya mau jadi ustaz, mengajarkan anak-anak tuli di negara lain, sampai ke luar negeri,” katanya.

Awal Mula Ponpes Tunarungu



Pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom, Ustaz Abu Kahfi, bercerita tentang awal mula berdirinya pondok pesantren ini. Abu berasal dari Bandung, Jawa Barat. Semua bermula pada 2009 ketika ia bertemu seorang tunarungu di Jakarta.

“Saya berpikir, bagaimana agamanya? Setelah saya melihat kehidupan mereka, ternyata pengetahuan agama mereka masih nol. Karena mereka mengenal agama hanya secara visual, tidak dengan perasaan. Agama tidak sampai kepada mereka. Dari situlah saya mulai terpanggil,” kata Abu.

Saat di Bandung, Abu berhalaqah dan mendatangi komunitas-komunitas tunarungu, meski saat itu ia belum menguasai bahasa isyarat. Perlahan, Abu mampu menggunakan bahasa isyarat. Ia pun menjadi ustaz yang dikenal di kalangan tunarungu dan mulai mengajarkan agama secara sederhana.

Hal itu berlanjut ketika ia pindah ke Yogyakarta. Ia terus berjuang agar anak-anak tunarungu bisa mendapatkan ilmu agama seperti anak-anak lainnya. “Saya berpikir harus membuat madrasah yang semua muridnya tunarungu, dan mereka memiliki niat serta kemampuan yang sama seperti orang lain,” ujarnya.



Sepuluh tahun kemudian, tepat pada 19 September 2019, Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom berhasil didirikan di Srandakan, Kabupaten Bantul, DIY. Pada 2020, pondok ini pindah ke Condongcatur, Depok, Kabupaten Sleman. Setelah berpindah-pindah kontrakan, pondok akhirnya berhasil membangun lokasi sendiri di wilayah Godean, Kabupaten Sleman.

“Atas bantuan orang-orang baik, kami bisa membangun pondok ini,” jelasnya. Pada awal 2019, ia menerima dua santri pertama, masing-masing dari Yogyakarta dan Rembang, Jawa Tengah. Tidak sampai satu bulan, santri bertambah dari Solo dan Kulon Progo. Enam bulan kemudian jumlahnya menjadi 13 santri dan dua santriwati.

Pondok pesantren ini semakin dikenal. Jumlah santri terus bertambah dan asalnya semakin beragam, bahkan dari luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Bali. “Di Bantul sudah tidak cukup, santri kami sudah lebih dari 30 orang. Akhirnya kami mengontrak di Condongcatur sampai sembilan rumah. Alhamdulillah Allah mudahkan kami mendapatkan lokasi sendiri,” katanya.

Saat ini total santri sekitar 180 orang, terdiri dari 120 putra dan 60 putri. “Bahkan kemarin ada tiga pendaftar dari luar negeri, tetapi belum kami persilakan datang karena fasilitas masih terbatas. Satu dari Australia, satu dari Pakistan, dan satu dari Bangladesh,” katanya.

Metode Pengajaran



Abu mengatakan para santri mengaji dengan metode khusus menggunakan bahasa isyarat hijaiyah yang mengikuti standar Makkah dan Madinah. “Kami tidak membuat metode sendiri. Metode yang digunakan mengikuti yang ada di Arab Saudi. Bahkan kami melakukan setoran virtual lima kali seminggu ke Masjid Nabawi. Di sana ada beberapa halaqah ilmu, Al-Quran, dan fikih, termasuk satu halaqah Al-Quran khusus tunarungu,” katanya.

Mentransfer ilmu kepada santri tunarungu tentu memiliki tantangan. Pengenalan dasar relatif lebih mudah, tetapi ketika naik ke level diniyah atau mempelajari kitab, mulai muncul kesulitan. “Karena bahasa mereka hampir bisa dibilang berbeda dengan bahasa kita. Bahasa mereka sederhana dan tidak mengenal banyak imbuhan. Ini menjadi tantangan bagi kami agar ilmu yang kami pahami dapat mereka pahami juga,” jelasnya.

Kurikulum di pondok ini mencakup 28 kitab yang dipelajari selama sembilan tahun. “Kami membuat level agar lulusan dari sini setara dengan pendidikan umum. Karena itu masa belajarnya sembilan tahun,” katanya.

Tak Patok Biaya



Ponpes ini tidak mematok biaya bagi santri. Bahkan ada yang belajar dengan biaya Rp 0, tergantung kemampuan keluarga masing-masing. “Sejak awal berdiri, kami belum mengubah prinsip. Anak dititipkan di sini dengan biaya sesuai kemampuan orang tua,” katanya.

“Kalau di rumah kira-kira habisnya berapa, pindahkan ke sini,” tambahnya. Besaran infak keluarga pun berbeda-beda. Ada yang tidak membayar karena tidak mampu, ada yang sedikit, dan ada yang lebih banyak. Sistemnya subsidi silang.

Perkembangan anak-anak pun mendapat apresiasi dari orang tua. Mereka dinilai memiliki adab dan ilmu. “Ada orang tua yang bilang sekarang tenang kalau meninggal karena ada yang mengirim Al-Fatihah untuk saya. Dulu tidak terbayang anak-anak bisa membaca Al-Fatihah, Surat Yasin, dan salat gaib,” kata Abu.

Cita-cita Ustaz Abu



Abu bercita-cita anak didiknya menjadi ustaz dan mengajari agama kepada anak-anak tunarungu di kampung halaman masing-masing. “Dengan ilmu agama, kalian harus jadi pengajar. Lulus dari sini harus jadi pengajar Al-Quran dan agama. Karena di luar sana belum ada hafiz Al-Quran dari tunarungu, belum ada ustaz dari tunarungu, belum ada pengajar agama dari tunarungu yang berbasis pondok,” katanya.

“Kalian harus menyelamatkan dunia pendidikan tunarungu. Kalian sendiri yang alim, kalian sendiri yang hafiz,” pungkasnya.

Tergerak Mengajar di Sini



Ustaz Muhammad Aldi dari Tasikmalaya datang ke ponpes ini sebagai pengajar dan pembimbing santri sejak tiga tahun lalu. “Dulu ketika selesai mondok, saya melihat anak-anak dengan hambatan pendengaran memiliki semangat belajar agama dan menghafal yang luar biasa. Dari situ saya tergerak untuk membersamai mereka,” kata Aldi.

Aldi kemudian belajar bahasa isyarat secara otodidak hingga akhirnya mampu mengajar santri tunarungu. “Mereka ibarat gelas kosong. Kita sampaikan satu hadis, mereka tangkap, pahami, lalu amalkan,” katanya.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *