Peristiwa KTT Board of Peace dan Reaksi Publik
Dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) Board of Peace di Washington D.C., bendera Indonesia terlihat berdampingan dengan bendera Israel, memicu reaksi dari warganet di media sosial. Acara ini diselenggarakan oleh Donald J. Trump Institute of Peace dan turut dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Posisi Bendera Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi
Dalam acara tersebut, bendera Merah Putih Indonesia berada tepat di samping bendera Israel. Hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan netizen Indonesia. Beberapa komentar menyebut bahwa penempatan bendera tersebut tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
- “Ironi kan? Yes, cuma kita bisa apa?”
- “Desainernya nggak sengaja nih.”
- “Sengaja keknya bendera Israel didempetin sama Indo.”
Bendera Indonesia berada di urutan keenam dari kanan, diapit oleh bendera India dan Israel. Penempatan ini menjadi sorotan utama dalam acara yang bertujuan untuk mendorong perdamaian di Palestina.
Tujuan Board of Peace
Board of Peace digagas oleh Presiden AS Donald Trump dan bertujuan untuk mewujudkan perdamaian di Palestina. Forum ini juga mencakup pengawasan rekonstruksi Gaza serta implementasi resolusi Dewan Keamanan PBB. Selain itu, forum ini berupaya mendorong gencatan senjata antara Israel dan Hamas serta merekonstruksi wilayah Gaza.
Analisis Dino Patti Djalal
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, memberikan analisis kritis mengenai proses Board of Peace. Ia mengungkap sembilan poin penting tentang potensi risiko dan kelemahan dari forum tersebut:
-
Proses rapuh dan berisiko tinggi
Meskipun Board of Peace sudah mulai bekerja, proses ke depannya masih rapuh dan penuh risiko. -
Dominasi Trump
Peran Donald Trump dalam Board of Peace sangat dominan, sehingga memunculkan pertanyaan tentang independensi forum tersebut. -
Aspek keamanan mulai berjalan, tetapi sulit
Pembentukan Palestinian Security Force dan International Stabilization Force (ISF) menandai awal dari aspek keamanan. Namun, tantangan di lapangan sangat berat, terutama terkait demiliterisasi. -
Kurang empati dari pihak AS
Pidato pihak AS dirasa tidak berempati terhadap korban jiwa dan penderitaan warga Gaza sejak agresi militer Israel pada 7 Oktober 2023. -
Pernyataan tidak sensitif soal bisnis
Pernyataan anggota Dewan Eksekutif Board of Peace tentang potensi nilai bisnis di Gaza dinilai tidak sensitif terhadap penderitaan warga setempat. -
Minim aspek politik
Tidak adanya referensi mengenai perkembangan politik di Gaza dalam masa transisi, hanya fokus pada aspek administrasi. -
Tata kelola dana belum transparan
Tata kelola dana yang dikumpulkan oleh anggota Board of Peace masih belum jelas dan akan menjadi sorotan. -
Negara Islam terlihat kompak
Negara-negara Islam dan mayoritas Muslim dalam Board of Peace tampak kompak dalam pendekatannya. -
Masih jauh dari dukungan untuk kepentingan Palestina
Proses di lapangan masih jauh dari prinsip Palestine-led process, di mana rakyat Palestina memiliki kepemimpinan utama dalam penyelesaian konflik.
Keterbatasan Peran Indonesia
Dino Patti Djalal juga menyoroti keterbatasan peran Indonesia dalam Board of Peace. Ia menilai bahwa forum ini masih memiliki kelemahan dan berisiko mandek atau bahkan ambruk akibat perbedaan kepentingan antar anggotanya.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











