"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Peluang ekspor RI melaju setelah AS bebas tarif CPO dan kakao

Peluang Peningkatan Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat

Lampu hijau terhadap pengecualian tarif Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao, membuka peluang yang signifikan bagi peningkatan ekspor. Namun, meski kebijakan ini dianggap positif, beberapa ahli menilai bahwa kebijakan tersebut belum optimal jika hanya berfokus pada komoditas mentah tanpa mendorong produk bernilai tambah.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, menyatakan bahwa kinerja ekspor minyak sawit Indonesia ke AS selama ini menunjukkan tren yang solid. Bahkan, ekspor minyak sawit ke AS telah konsisten meningkat dan kini berada di atas 2 juta ton. Dalam laporan Gapki, ekspor sawit Indonesia ke AS mencapai 2,5 juta ton pada 2023, meskipun mengalami penurunan menjadi 2,3 juta ton pada 2024. Eddy menilai bahwa jika tarif masuk sawit ke AS diturunkan menjadi 0%, maka potensi ekspor bisa mencapai 3 juta ton dalam dua tahun ke depan.

Namun, dampak pengecualian tarif terhadap komoditas kakao dinilai tidak terlalu signifikan. Ketua Umum Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) periode 2025–2028, Soetanto Abdoellah, menjelaskan bahwa ekspor kakao Indonesia ke AS masih memiliki volume yang relatif kecil dibandingkan pengiriman ke China dan Belanda. Produk kakao yang diekspor ke AS meliputi lemak kakao (butter), cokelat (chocolate), dan biji kakao (beans), dengan volume yang jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lain. Selain itu, ekspor cokelat Indonesia ke AS juga masih di bawah pengiriman ke sejumlah negara ASEAN seperti Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Soetanto menilai bahwa meskipun ada peningkatan kecil, potensi pertumbuhan ekspor kakao ke AS akan berada di bawah 10%. Ia juga menyebutkan bahwa pelaku usaha kakao menghadapi tantangan dari ketatnya regulasi keamanan pangan AS, termasuk isu residu pestisida dan logam berat. Di sisi lain, harga biji kakao global yang turun hingga di bawah US$4.000 per ton membuat pelaku usaha cenderung bersikap wait and see untuk menghindari risiko kerugian.

Sementara itu, Direktur PT Noozkav Kopi Indonesia, Daroe Handojo, menyatakan bahwa permintaan kopi dari AS sudah mulai meningkat. Ia optimistis bahwa perjanjian dagang antara AS dan Indonesia akan memberikan dampak positif terhadap kinerja perdagangan Indonesia. Daroe bahkan memperkirakan bahwa pasar AS berpotensi menggantikan porsi ekspor kopi Indonesia ke negara lain.

Meski demikian, Daroe menekankan bahwa tantangan utama bagi pelaku usaha kopi adalah peningkatan kualitas dan kuantitas produksi serta pemenuhan aspek ketertelusuran.

Tantangan Hilirisasi dan Perdagangan Berisiko Menyempit

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, menilai bahwa pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas ekspor Indonesia patut diapresiasi karena memberikan dampak positif langsung bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Namun, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak berhenti pada pembebasan tarif komoditas mentah semata, tetapi perlu mendorong nilai tambah melalui hilirisasi produk turunan dan olahan.

Faisal menekankan bahwa jika pengecualian tarif hanya berlaku bagi bahan mentah, manfaat ekonomi yang diperoleh dinilai tidak maksimal. Ia juga menyebut bahwa peningkatan ekspor akan jauh lebih besar apabila pengecualian tarif juga mencakup produk-produk turunan dengan nilai tambah lebih tinggi. Jika Indonesia kembali fokus mengekspor komoditas mentah, kebijakan tersebut justru berpotensi bertentangan dengan agenda hilirisasi nasional.

Di sisi lain, Faisal menilai tekanan terhadap kinerja ekspor Indonesia pada 2026 masih relatif besar. Surplus perdagangan Indonesia pada 2026 akan menyempit dibandingkan 2025. Ia juga menyebut bahwa produk manufaktur dan industri olahan, yang diharapkan menjadi motor ekspor bernilai tambah tinggi, justru masih menghadapi tarif dan hambatan perdagangan yang lebih ketat di pasar AS.

Faisal menilai tekanan perdagangan sepanjang 2026 tidak hanya berasal dari kebijakan AS, melainkan juga dari dinamika perdagangan global. Ia menyarankan adanya perhitungan yang matang dalam setiap kesepakatan dagang, termasuk mengukur manfaat dan potensi kerugian yang ditimbulkan. Selain itu, penguatan diplomasi perdagangan juga merupakan hal krusial agar Indonesia memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi negara mitra besar seperti AS. Dengan begitu, kepentingan nasional tidak dikorbankan dalam proses negosiasi.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *