Rizky Armanda, Wartawan Tribun Pekanbaru Meraih Penghargaan Jurnalistik PWI 2026
Rizky Armanda, seorang wartawan dari Tribun Pekanbaru, berhasil meraih penghargaan dalam acara puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Serang, Provinsi Banten. Acara ini digelar pada Senin (9/2/2026) dan menjadi momen penting bagi para insan pers di Indonesia.
Hari Pers Nasional (HPN) diperingati setiap tanggal 9 Februari setiap tahunnya. Perayaan ini bertujuan untuk menghormati peran jurnalis dalam demokrasi serta merayakan lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tahun ini, Provinsi Banten dipilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan HPN 2026 yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 9 Februari. Acara utama diselenggarakan di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kecamatan Curug, Kota Serang.
Dalam acara tersebut, Rizky Armanda menerima Anugerah Jurnalistik PWI 2026 dalam kategori Media Siber dengan judul karya “Jejak Pengabdian di Tanah Suka Palembayan”. Penghargaan ini diberikan atas karyanya yang menyoroti peran anggota Polri dalam penanganan bencana banjir bandang dan longsor di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Profil Rizky Armanda
Rizky Armanda lahir di Bangka Belitung pada 19 Juni 1992. Ia adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, Taufik M Yatim, telah meninggal dunia, sedangkan ibunya bernama Murni Astra.
Pendidikan Rizky mencakup:
– SDN 1 Pasir Penyu Inhu
– SMPN 1 Pasir Penyu
– SMAN 1 Pasir Penyu
– S1 Jurusan HI Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau
Karier Rizky dimulai sejak 2016 sebagai reporter di Tribun Pekanbaru. Selain itu, ia memiliki hobi bermusik dan merupakan anggota grup band Flock yang telah merilis empat single. Dalam dunia jurnalistik, ia telah bekerja selama sekitar 10 tahun di Tribun Pekanbaru, dengan fokus pada liputan di bidang hukum dan kriminal.
Pengalaman Liputan di Lokasi Bencana
Sebagai wartawan, Rizky sering melakukan liputan hingga tengah malam atau dini hari. Ia juga pernah menghadapi ancaman dan konflik dengan narasumber yang tidak menyukai berita negatif yang ditulisnya. Namun, ia tetap menjalani tugasnya dengan tanggung jawab.
Dalam momentum HPN 2026, Rizky bersyukur mendapatkan penghargaan Anugerah Jurnalistik PWI 2026 dalam kategori media siber. Penghargaan ini diberikan bekerjasama dengan Mabes Polri. Ia mengucapkan terima kasih kepada jajaran redaksi Tribun Pekanbaru, rekan-rekan peliputan, serta Kapolda Riau dan jajaran yang telah membantu prosesnya.
Karya tulisan feature berjudul “Jejak Pengabdian di Tanah Duka Palembayan” menjadi alasan Rizky meraih penghargaan tersebut. Artikel ini menceritakan tentang anggota Polri dari Polda Riau yang tergabung dalam tim Misi Kemanusiaan, yang membantu penanganan pasca bencana banjir bandang dan longsor di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Proses Peliputan yang Menantang
Proses peliputan berlangsung selama dua hari. Rizky berangkat dari Pekanbaru ke lokasi pada 1 Desember 2025, mulai melakukan peliputan pada 2 hingga 3 Desember, dan kembali ke Pekanbaru pada 4 Desember 2025.
Di lokasi bencana, ia melihat langsung situasi yang memprihatinkan. Ia mengalami cidera di bagian kaki akibat terpeleset saat melakukan peliputan. Kaki kirinya terkilir dan harus dibantu oleh teman-temannya untuk berjalan di jalan-jalan lumpur. Proses penyembuhan memakan waktu sekitar dua pekan.
Dalam artikelnya, Rizky berusaha menggambarkan lebih detail apa yang terjadi di lapangan, termasuk bagaimana peristiwa banjir bandang dan longsor terjadi, penemuan mayat, serta upaya anggota polisi dalam mencari korban hilang di tengah lumpur dan reruntuhan bangunan.
Selain itu, Polda Riau juga memberikan bantuan logistik seperti makanan, selimut, peralatan bayi, kendaraan water treatment, alat berat, serta tim trauma healing. Semua bantuan ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











