"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

OTT KPK Dikritik Ustaz Dasad Latif: Kali Ini Hakim yang Tertangkap

Penangkapan Wakil Ketua PN Depok dan Reaksi Masyarakat

Dalam beberapa hari terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan serangkaian Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap berbagai pejabat negara. OTT pertama dilakukan di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kemudian dilanjutkan dengan penangkapan di Kantor Pajak Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Terbaru, pada Kamis (5/2/2026), KPK menangkap Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Depok, Bambang Setyawan (BS), yang diduga terlibat dalam transaksi suap terkait sengketa lahan.

Penangkapan tersebut memicu berbagai respons dari masyarakat, termasuk Ustaz Dasad Latif. Dalam unggahannya di Instagram @dasadlatif121 pada Jumat (6/2/2026), ia menyebut penangkapan hakim sebagai “kesialan” dan menyindir Sila Kelima Pancasila. Menurutnya, sila tersebut seharusnya menjunjung keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, namun kini hanya berlaku bagi mereka yang mampu membayar.

Unggahan Ustaz Dasad Latif mendapat banyak tanggapan di kolom komentar. Beberapa netizen menyampaikan pendapat mereka, seperti:

  • @hendra_ramuzz: “Inget kampanye Prabowo akan naikkan gaji hakim biar ga bisa disogok”
  • @mhmmdlw: “Gemoy : ‘gaji pejabat kita naikkan supaya tidak korupsi’”
  • @alfianrachmad88: “Innalilahi”
  • @wenda_ponumbol16: “Rakyat hanya jadi penonton melihat manusia yang serakah”

Kronologi Penangkapan Wakil Ketua PN Depok

Berdasarkan informasi yang diperoleh, penangkapan Wakil Ketua PN Depok Bambang Setyawan dilakukan dalam operasi tangkap tangan yang berlangsung pada Kamis (5/2/2026) sore. Diduga kuat, BS terlibat dalam transaksi suap untuk memuluskan perkara sengketa lahan. Plt Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, mengungkap bahwa pihak KPK menemukan adanya proses transaksi uang antara pihak swasta dan aparat penegak hukum (APH).

“Ada delivery, ada sejumlah uang yang berpindah dari pihak swasta kepada pihak APH,” kata Asep. Ia juga membenarkan bahwa transaksi haram tersebut dilakukan oleh BS terkait pengurusan sengketa lahan di wilayah Depok. Untuk saat ini, KPK sedang mendalami apakah kasus tersebut berdiri sendiri atau memiliki keterkaitan dengan penyelidikan lain di Depok.

Selain itu, Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto membenarkan bahwa pihak yang ditangkap merupakan unsur APH. Ia menyebut bahwa tim penyidik telah menyita uang tunai sebagai barang bukti, dengan jumlah mencapai ratusan juta rupiah.

Dukungan dari Hakim Ad Hoc

Para hakim ad hoc yang tergabung dalam Forum Solidaritas Hakim Ad Hoc (FSHA) memberikan dukungan terhadap langkah KPK dalam memproses oknum hakim yang diduga terlibat praktik suap. Perwakilan FSHA, Aidil Akbar, menyatakan bahwa tindakan cepat aparat penegak hukum penting untuk menjaga marwah peradilan. Ia menekankan bahwa praktik transaksional atau permainan perkara merusak integritas individu dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum di Indonesia.

FSHA juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berkompromi terhadap praktik-praktik suap di lembaga peradilan. Mereka mendukung penuh penegakan hukum dan memberikan sanksi berat hingga pemecatan kepada oknum yang telah meruntuhkan marwah peradilan.

Persoalan Tunjangan Hakim Ad Hoc

Selain masalah korupsi, para hakim ad hoc juga mengeluhkan kesenjangan penghasilan antara hakim karier dan hakim ad hoc. Saat ini, hakim ad hoc menerima tunjangan yang jauh lebih rendah dibandingkan hakim karier. Misalnya, hakim ad hoc tindak pidana korupsi menerima Rp 18,4 juta, sedangkan hakim karier dapat menerima hingga Rp 110,5 juta.

Kesenjangan ini memunculkan rasa ketidakadilan di kalangan hakim ad hoc. Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto agar segera menyesuaikan tunjangan untuk hakim ad hoc. Namun, kekhawatiran muncul setelah penangkapan oknum hakim karier di PN Depok, karena bisa memengaruhi perjuangan mereka untuk mendapatkan penghargaan yang layak.


Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *