Pertumbuhan Ekonomi Sumatra Barat pada 2025
Padang – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatra Barat pada tahun 2025 sebesar 3,37%. Angka ini jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5,11%. Kepala BPS Sumbar Nurul Hasanudin menjelaskan bahwa struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumbar menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku tahun 2025 tidak mengalami perubahan signifikan. Namun, perekonomian Sumbar masih didominasi oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang sebesar 22,12%.
“Sektor pertanian memang menjadi penyumbang utama perekonomian di Sumbar. Namun, kami juga mencatat adanya lapangan usaha jasa lainnya yang menunjukkan pertumbuhan signifikan, yaitu sebesar 8,50%,” ujarnya.
Selain itu, pertumbuhan yang cukup tinggi tercatat pada lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 8,09%. Meski demikian, lapangan usaha yang dominan yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan hanya tumbuh sebesar 4,14%. Sementara itu, lapangan usaha transportasi dan pergudangan serta konstruksi mengalami kontraksi sebesar 0,01% dan 1,40%.
Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV-2025
Nurul menjelaskan bahwa ekonomi Sumbar pada triwulan IV-2025 tumbuh sebesar 1,69% secara year on year (yoy) dibandingkan triwulan IV-2024. Capaian ini tertinggal dari capaian nasional sebesar 5,39%.
Dia menyebutkan bahwa lapangan usaha jasa Keuangan serta jasa lainnya mengalami pertumbuhan terbesar masing-masing sebesar 15,58% dan 11,96%, diikuti jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 11,66%, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 6,63%. Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki peran dominan tumbuh sebesar 1,37%.
Dari sisi quarter to quarter (qtq), ekonomi Sumbar hingga triwulan IV-2025 tumbuh sebesar 0,39%. Lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial mengalami pertumbuhan terbesar masing-masing sebesar 18,98% dan 9,98%, diikuti pengadaan listrik dan gas sebesar 5,83%.
Sebaliknya, lapangan usaha industri pengolahan dan informasi dan komunikasi terkontraksi sebesar 6,57% dan 4,14%. Sementara itu, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang memiliki peran dominan tumbuh sebesar 0,84%.
Kontraksi pada Beberapa Sektor
Sedangkan untuk lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor terkontraksi sebesar 1,16%, serta lapangan usaha transportasi dan pergudangan terkontraksi sebesar 0,75%.
“Bencana alam yang terjadi pada triwulan VI-2025 memang turut memengaruhi perekonomian di Sumbar,” jelas Nurul.
Struktur Perekonomian Pulau Sumatra
Dari sisi spasial, struktur perekonomian Pulau Sumatra pada tahun 2025 didominasi oleh Provinsi Sumatra Utara dengan kontribusi terhadap PDRB Pulau Sumatra sebesar 23,54%, diikuti Riau sebesar 22,88%, Sumatra Selatan sebesar 13,71%, Lampung sebesar 9,98%, Kepulauan Riau sebesar 7,27%, Jambi sebesar 6,66%, Sumatra Barat sebesar 6,71%, Aceh sebesar 4,90%, Kepulauan Bangka Belitung sebesar 2,22%, dan Provinsi Bengkulu sebesar 2,13%.
Untuk pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh Provinsi Kepulauan Riau sebesar 6,94%, diikuti Sumatra Selatan sebesar 5,35%, Lampung sebesar 5,28%, Jambi sebesar 4,93%, Bengkulu sebesar 4,80%, Riau sebesar 4,79%, Sumatra Utara sebesar 4,53%, Kepulauan Bangka Belitung sebesar 4,09%, Sumatra Barat sebesar 3,37%, dan Aceh sebesar 2,97%.
Peluang Pertumbuhan Ekonomi Sumbar di Tahun 2026
Bank Indonesia melihat ekonomi Provinsi Sumbar memiliki peluang untuk tumbuh positif pada triwulan I/2026 seiring adanya momen Ramadan dan Idulfitri serta didorong mulai pulihnya penanganan pascabencana.
Kepala Perwakilan BI Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan momen Ramadan dan Idulfitri akan membawa pergerakan ekonomi yang bagus, terutama di sektor perdagangan dan jasa transportasi.
“Tapi bicara soal sektor perdagangan ini, hal yang perlu dipastikan oleh pemerintah daerah dari sekarang adalah memastikan pasokan dan ketersediaan pangan aman dan cukup, agar inflasi tetap terjaga,” katanya.
Dia menjelaskan bahwa bencana alam yang terjadi pada November 2026 lalu telah memberikan dampak yang cukup parah pada sektor pertanian. Dari data Pemprov Sumbar, total luas lahan pertanian yang terdampak bencana alam mencapai 6.713 hektare, yang tersebar di sebagian besar wilayah di Sumbar.
Majid melihat apabila persoalan pasokan dan ketersediaan pangan tidak secepat mungkin diambil langkah-langkah jitu, gejolak inflasi akan sulit dibendung. Tapi, kalau pangan nantinya tidak ada kekurangan pasokan, maka perekonomian Sumbar akan tumbuh positif.
“Kami bersama TPID (tim pengendali inflasi daerah) telah rapat membahas ini. Harapan kami, tentu momen Ramadan dan Idulfitri nanti membuat ekonomi Sumbar bangkit,” ujar dia.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Ekonomi
Kemudian, hal yang juga menjadi penentu pendorong pertumbuhan perekonomian itu adalah percepatan pemulihan infrastruktur yang terdampak bencana alam. Di mana banyak masyarakat yang kehilangan rumah akibat bencana alam, jalan-jalan banyak yang rusak, baik itu jalan nasional hingga ke jalan kabupaten dan kota, serta kondisi lainnya yang tentunya diharapkan bisa segera pulih.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











