Pertemuan CSA 030 di Bali: Memperkuat Kerja Sama Lautan dan Perikanan
Pertemuan 30th Session of the Coastal States Alliance (CSA 030) telah resmi berlangsung di Bali, Indonesia. Kali ini, pertemuan yang sebelumnya dilakukan secara hybrid, diadakan secara luring selama dua hari, yaitu 30 dan 31 Januari 2026. Bali dipilih sebagai lokasi pelaksanaan karena keunikan dan kesiapan infrastruktur yang mendukung kegiatan internasional.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KP), Didit Herdiawan Ashaf, hadir mewakili Menteri KP dan menyampaikan pandangan penting mengenai peran CSA dalam menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Lotharia Latif, kegiatan ini merupakan kolaborasi antara SFACT (Sustainable Fisheries and Communities Trust) dan KKP bersama beberapa negara anggota CSA.
CSA adalah wadah negara-negara pantai di Samudra Hindia yang bertujuan untuk mendorong tata kelola sumber daya ikan yang adil, berkelanjutan, dan berbasis aturan. Dalam kerangka kerja Indian Ocean Tuna Commission (IOTC), CSA berupaya memperkuat saling pengertian, mengidentifikasi area konvergensi, serta berkontribusi dalam pembahasan alokasi sumber daya perikanan.
Saat ini, CSA terdiri dari 12 negara anggota, yaitu Bangladesh, India, Indonesia, Iran, Malaysia, Maladewa, Madagaskar, Mozambik, Pakistan, Somalia, Afrika Selatan, dan Sri Lanka. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari semua negara anggota tersebut, serta organisasi internasional pendukung seperti Sustainable Fisheries and Communities Trust (SFACT), International Pole and Line Foundation (IPNLF), dan Sekretariat CSA.
Jumlah peserta dalam pertemuan kali ini mencapai 50 orang. Sidang ini diselenggarakan untuk memperkuat koordinasi antara negara-negara anggota, khususnya dalam menghadapi pertemuan IOTC. Tujuan utamanya adalah mengamankan kepentingan nasional dan meningkatkan posisi tawar negara-negara pantai dalam negosiasi dengan Distant Water Fishing Nations (DWFN).
Salah satu hasil utama dari pertemuan ini adalah deklarasi Joint Statement mengenai pembentukan CSA. Selain itu, pertemuan ini juga menjadi kesempatan untuk menjaga momentum, memperkuat solidaritas antar negara pantai, serta meningkatkan koordinasi menjelang pertemuan IOTC.
Sidang ini juga mendukung kemajuan berkelanjutan menuju penguatan kelembagaan CSA, termasuk pengaturan tata kelola yang praktis, mekanisme operasional, serta peta jalan menuju penandatanganan MoU pada Ocean Impact Summit (OIS) 2026 yang akan diselenggarakan di Bali pada Juni 2026.
Chairman CSA 030, Prof. Indra Jaya, menekankan pentingnya membangun platform bersama untuk memperjuangkan hak-hak negara-negara pantai dalam memanfaatkan sumber daya perikanan, khususnya tuna. Di Samudra Hindia terdapat sekitar 16 spesies tuna, yang bermigrasi lintas negara. Oleh karena itu, negara-negara pantai berjuang bersama untuk membangun satu platform agar dapat efektif dalam memperjuangkan hak-hak mereka.
Setelah 30 kali pertemuan, seluruh anggota CSA kini memiliki kesamaan persepsi bahwa negara-negara pantai memiliki hak berdaulat untuk memanfaatkan ikan di daerah teritorialnya dan akses di lepas pantai.
Sebelumnya, pada tahun 2025 lalu, KKP berhasil menambah kuota tangkapan tiga jenis tuna untuk Indonesia dalam Sidang IOTC yang berlangsung di La Reunion, Perancis. Kuota penangkapan big eye tuna naik 2.791 ton, menjadi 21.396 ton untuk periode 2026–2028, sedangkan kuota skipjack tuna ditetapkan menjadi 138 ribu ton. Penyesuaian kuota yellowfin tuna juga disepakati menjadi 45.426 ton untuk tahun 2025.
Delegasi Republik Indonesia yang dipimpin Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya, Trian Yunanda, menegaskan komitmen KKP dalam memperjuangkan kepentingan nasional pada forum IOTC dan rangkaian pertemuan teknis pendukung lainnya. “Kita berhasil mengawal berbagai isu strategis mulai dari peningkatan kuota tangkapan tuna, penggunaan observer, perlindungan awak kapal perikanan, hingga penguatan kerja sama negara pantai,” ujar Trian.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”











