Tekanan Eksternal dan Internal Berdampak pada IHSG
Pekan ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sebesar 1,37% dari level 9.075,40 menjadi 8.951,01. Penurunan ini terjadi selama periode 19 hingga 23 Januari 2026, yang menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan besar.
Setelah mencapai rekor tertinggi baru (ATH) pada penutupan Selasa (20/1/2026), IHSG tidak mampu mempertahankan tren positifnya. Dalam tiga hari perdagangan berikutnya, indeks komposit terus berada di zona merah. Pada Jumat (23/1/2026), IHSG turun sebesar 0,46% atau 41,17 poin.
Menurut Liza Camelia, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Rupiah sempat melemah hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp16.985 per dolar AS. Hal ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko domestik yang semakin meningkat.
Pelemahan rupiah juga diiringi dengan meningkatnya persepsi risiko, khususnya terkait kredibilitas kebijakan ekonomi nasional. Isu tentang disiplin fiskal serta independensi bank sentral dinilai oleh investor sebagai faktor yang mendorong kenaikan risk premium aset Indonesia. Akibatnya, pasar saham dan obligasi mengalami tekanan.
“Ke depan, arah IHSG akan lebih ditentukan oleh stabilisasi rupiah dan potensi pembalikan foreign flow, bukan hanya oleh narasi pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga,” ujar Liza.
Kebijakan BI dan Arus Dana Asing
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menjaga suku bunga acuan pada level 4,75%, yang dinilai mampu meredam kepanikan pasar. Namun, kebijakan ini belum cukup kuat untuk mengembalikan sentimen risk-on, terutama karena arus dana asing masih terus keluar dari pasar domestik.
Arus keluar portofolio asing mencapai sekitar US$1,6 miliar hingga 19 Januari 2026. Dalam dua hingga tiga hari terakhir, arus keluar investor asing di pasar saham semakin deras. Kondisi ini menjadi salah satu pemicu rontoknya IHSG, yang sebelumnya dinilai sudah berada di area jenuh beli setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.174.
Meski situasi pasar sedang bergejolak, fondasi makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%, sementara untuk 2025 diperkirakan sebesar 4,7–5,5%.
Perhatian Pasar Global
Memasuki pekan depan, perhatian pelaku pasar global akan tertuju pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–28 Januari 2026. Hasil rapat tersebut akan menjadi penentu utama arah risk appetite pasar global, khususnya bagi negara berkembang, serta memengaruhi pergerakan imbal hasil dolar AS yang berdampak langsung pada rupiah dan IHSG.
Selain FOMC, investor juga akan mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat berbasis Personal Consumption Expenditure (PCE), data aktivitas ekonomi seperti PMI, serta perkembangan earnings season global yang berpotensi menggeser sentimen pasar saham regional.
Dari kawasan Asia, perhatian tertuju pada Jepang, terutama dinamika suku bunga dan pergerakan obligasi pemerintah Jepang (JGB) serta yen.
Konsistensi Komunikasi Kebijakan
Di dalam negeri, sentimen pasar tidak hanya bergantung pada rilis data ekonomi, tetapi juga pada konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah dan otoritas moneter. Komitmen terhadap disiplin fiskal, independensi Bank Indonesia, serta langkah-langkah konkret stabilisasi rupiah melalui instrumen moneter dan intervensi pasar dinilai akan menjadi kunci dalam menentukan arah risk premium Indonesia dalam jangka pendek.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











