"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Empat Tradisi Unik Warga Yogyakarta Menyambut Ramadhan

Tradisi Masyarakat Yogyakarta dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Menjelang bulan puasa atau Bulan Suci Ramadhan, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki sejumlah tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Tradisi-tradisi ini biasanya berkaitan dengan persiapan menyambut ibadah puasa, baik dari segi agama maupun kehidupan sosial masyarakat. Berbagai tradisi ini tidak terikat pada waktu tertentu dan dilakukan setiap tahunnya sebagai bagian dari identitas budaya Yogyakarta. Selain memiliki nilai religius, sejumlah tradisi ini juga mencerminkan kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini.

Berikut empat tradisi masyarakat Yogyakarta dalam menyambut bulan Ramadhan:

1. Tradisi Apeman

Tradisi Apeman merupakan sebuah tradisi yang digelar menjelang bulan Ramadhan dengan memadukan unsur keagamaan dan adat kesenian Jawa. Tradisi Apeman memiliki makna sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan, permintaan maaf antar umat muslim, bentuk ungkapan syukur menjelang bulan suci Ramadhan, dan mendoakan para leluhur terdahulu. Selain itu, penyelenggaraan tradisi ini juga bisa mempererat kebersamaan antar masyarakat.

Kata ‘Apem’ dalam penamaan tradisi ini berasal dari bahasa Arab ‘Afwan’ atau masyarakat Jawa menyebutnya ‘Apem’. Dalam penyelenggaraan tradisi ini, semua masyarakat turut berpartisipasi dalam pembuatan apem. Adapun, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat apem, yakni tepung beras, tepung terigu, air santan, gula pasir, tape singkong, dan fermipan.

Setelahnya, kue apem yang sudah dibuat akan dikumpulkan dan dibentuk menjadi gunungan, kemudian gunungan apem ini dikirab seperti pawai. Selesai dari kirab, gunungan apem akan dibagikan kepada masyarakat. Kue apem yang dibagikan, dipercaya masyarakat Yogyakarta bisa membawa berkah bagi siapa saja yang berhasil mendapatkannya.

2. Tradisi Padusan

Tradisi Padusan merupakan sebuah tradisi membersihkan diri jelang bulan Ramadhan dengan cara mandi atau berendam di sumber mata air. Penyucian diri dengan mandi di pantai, sungai, atau sumber air alami ini menjadi sebuah simbol spiritual dan pembersihan diri dari dosa.

Tradisi padusan diselenggarakan agar umat islam bisa maksimal dalam melaksanakan ibadah dengan kondisi yang suci lahir dan batin. Di D.I. Yogyakarta terdapat lima tempat yang biasa dijadikan sebagai tempat melaksanakan tradisi padusan, yakni pantai Parangtritis, Blue Lagoon, pantai-pantai di Gunung Kidul, umbul-umbul di Sleman, dan wisata air di kawasan Kulonprogo.

3. Tradisi Hajad Dalem Kuthomoro

Tradisi Hajad Dalem Kuthomoro merupakan tradisi adat Keraton Yogyakarta yang digelar setiap bulan Ruwah atau Sya’ban untuk mengirim doa dan berziarah ke makam-makam leluhur Keraton menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini biasa dilaksanakan setiap tanggal 13 Ruwah dengan Sri Sultan yang mengutus Abdi Dalem Kanca Jai dan Suranata untuk mengirim ubarampe ke Kawedanan Pengulon. Seluruh ubarampe yang dikirim berbau wangi sebagai simbol mengharumkan, memuliakan, dan menjunjung tinggi nama baik leluhur yang sudah tiada.

4. Tradisi Nyadran

Tradisi Nyadran merupakan sebuah tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa, khususnya di wilayah D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tradisi Nyadran diselenggarakan setiap tahun pada bulan Sya’ban sekaligus mendekati bulan suci Ramadhan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia.

Penamaan ‘Nyadran’ dari tradisi ini diambil dari bahasa Sansekerta, yakni ‘Sraddha’ yang berarti keyakinan. Pada awalnya, tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan animisme, namun kemudian tradisi ini mengalami akulturasi dengan budaya Islam setelah masuknya ajaran islam ke Pulau Jawa melalui Wali Songo. Perubahan ini membuat tradisi nyadran menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah yang diberikan. Pelaksanaan tradisi Nyadran biasa diawali dengan membersihkan makam leluhur, dilanjutkan dengan doa bersama, dan ditutup dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *