"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Gappet dan Gapjal: Seni Berjemaah yang Tersesat

Pengalaman Pribadi dengan Kegagapan dalam Menggunakan Peta

Saya seorang yang sangat buta peta. Bukan hanya peta dunia, bahkan peta jalan saja sudah cukup membuat kepala saya pusing. Saya lebih cocok disebut sebagai “gapjal” atau gagap peta dan gagap jalan. Arah mata angin seperti utara, selatan, barat, dan timur terdengar seperti istilah teoritis yang jarang digunakan dalam kehidupan nyata.

Yang melekat di pikiran saya hanyalah rute-rute yang sering saya lewati setiap hari. Selebihnya, garis-garis jalan di kepalaku seperti menipis, berbayang, lalu menguap. Saya pernah membuktikan kegagapan ini secara nyata. Suatu kali, setelah reuni, saya diantar pulang oleh seorang teman. Di tengah perjalanan, dia bertanya, “Belok ke mana?” Dengan keyakinan yang tidak disertai pengetahuan apa pun, saya menjawab, “Ke kiri.” Dan taraaa—kami justru makin menjauh dari rumahku.

Beberapa menit kemudian, saya menyerah dan membuka Google Maps. Sejak saat itu, saya berdamai dengan satu fakta penting: rasa percaya diri soal arah tidak selalu berbanding lurus dengan kebenaran. Mungkin itulah sebabnya saya sangat menyukai KRL yang sepaket dengan ojek daring. Hidup terasa lebih aman ketika sistem transportasi sudah disusun oleh orang-orang yang benar-benar paham peta. Tugas saya tinggal ikut alur, bukan mengira-ngira.

Pengalaman Naik Mobil Daring

Hal serupa terjadi setiap kali naik mobil daring. Kalau driver bertanya soal rute, saya menjawab diplomatis, “Terserah Bapak saja, yang penting tidak macet.” Kedengarannya bijak. Padahal sesungguhnya itu bentuk kejujuran paling sopan: saya tidak tahu arah.

Lucunya, kegagapan ini ternyata menular. Ada satu kejadian lain, jauh sebelum Google Maps secanggih sekarang. Seorang teman mengajak saya menjenguk teman lain dan dia membawa mobil sendiri. Untuk memudahkan, kami janjian bertemu di sebuah mal sebelum berangkat bersama. Karena dia membawa mobil sendiri, saya mengira—dan ini asumsi fatal—bahwa dia tahu jalan.

Selepas dari mal, dengan mantap dia memimpin arah. Kami mengobrol sepanjang perjalanan hingga tiba di sebuah persimpangan. Mobil berhenti. Lalu dia bertanya, “Ini kita ambil arah mana?” Saya bengong. Tepok jidat. Mana saya tahu! Dia terlihat heran. “Loh, kamu tahu rumahnya, kan? Katanya pernah ke sana.” “Pernah,” jawab saya jujur, “tapi aku nggak tahu arahnya.”

Tanpa komentar panjang, dia kembali menjalankan mobil. Saya diam. Awalnya saya pikir dia tiba-tiba ingat arah. Namun, setelah sekian lama dan tujuan tak kunjung tercapai, saya bertanya, “Kamu tahu jalannya?” “Gak blas!” jawabnya sambil ngakak. Di situlah saya sadar: kami sudah kesasar berjamaah.

Kegagapan yang Menyelematkan

Katanya, daripada diam, mending jalan saja. Siapa tahu dengan melihat-lihat situasi, akhirnya sampai. Sebuah filsafat hidup yang terdengar optimistis, meski sedikit nekat. Mau tak mau, alih-alih GPS, saya memilih mengandalkan MPS—mouth positioning system. Bertanya sambil berharap yang ditanya tahu arah.

Akhirnya saya menelepon teman yang hendak kami kunjungi. Dan tahu apa yang terjadi? Dia pun tidak bisa mengarahkan kami ke rumahnya sendiri. Rasanya ingin berteriak kegirangan: horeee, saya punya banyak teman gapjal!

Telepon kemudian diambil alih oleh anaknya. Kami diminta menyebutkan gedung atau toko terdekat yang bisa kami lihat. “Nanti saya jemput, Tan,” katanya. Dan begitulah. Orang-orang gagap peta akhirnya diselamatkan oleh generasi yang lebih akrab dengan penanda lokasi.

Kesimpulan

Sejak itu saya berpikir, mungkin tidak semua orang ditakdirkan bersahabat dengan peta. Ada yang sekali lewat langsung hafal, ada pula yang harus lewat berkali-kali dan tetap membuka navigasi. Tak apa-apa. Toh, peta diciptakan bukan untuk menguji daya ingat, melainkan untuk menolong. Seperti hidup—kadang kita tak perlu sok tahu arah, cukup jujur mengakui bahwa kita butuh penunjuk jalan.

Untungnya sekarang, selalu ada suara tenang yang berkata: “In 100 meters, turn left.” Saya ikut saja. Biar aman.

Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *