"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Budaya  

Dua dekade melawan arus Ciliwung, Pitri bertahan menangkap ikan sapu-sapu di air keruh



JAKARTA,

— Di bawah kolong Jembatan Ciliwung Kalibata, Jakarta Selatan, Pak Pitri (65) telah hafal betul aroma air sungai yang cokelat pekat. Bau lumpur, sampah, dan amis ikan bercampur jadi satu, menempel di kulit dan pakaian. Di tempat itulah, selama dua puluh tahun terakhir, hidupnya bergulir di atas air keruh, di antara arus sungai dan bayang-bayang bahaya yang tak kasatmata.

“Sudah lama, puluhan tahun. Di sini saya yang nangkep,” kata Pitri kepada
,
Kamis (22/1/2026) siang. Ia duduk jongkok di atas rakit apung berwarna hijau cerah, rakitan kubus plastik yang mengapung tepat di tepi aliran Sungai Ciliwung. Tangannya yang keriput bergerak pelan namun mantap memegang pisau kecil. Dengan satu tarikan, kulit keras ikan sapu-sapu terkelupas, terpisah dari dagingnya yang kemerahan.

Bagi Pitri, ikan sapu-sapu bukan sekadar tangkapan. Ikan ini menjadi alasan ia tetap bertahan hidup di bantaran sungai, meski hujan deras, banjir, dan ancaman lain kerap datang tanpa aba-aba. “Kalau hujan, banjir, ya susah. Tapi mau gimana lagi,” ujarnya singkat.

Kesulitan terbesar bukan hanya arus deras atau air sungai yang naik mendadak. Di sepanjang Sungai Ciliwung, Pitri menyadari ada ancaman lain yang jarang dibicarakan. “Ada buaya, pasti ada lah,” katanya datar. Tak ada nada dramatis di suaranya, seolah keberadaan buaya di sungai tercemar itu hanyalah satu dari sekian risiko yang telah ia terima sejak lama. “Tapi ya bismillah saja,” ucap dia sembari tersenyum.

Di tengah kondisi Ciliwung yang semakin tercemar, Pitri menyebut ikan lain nyaris tak tersisa. Dominasi ikan sapu-sapu menjadi penanda perubahan ekosistem sungai yang dulu masih menyimpan beragam jenis ikan air tawar. “Ada, tapi ikan lain hampir enggak ada. Kebanyakan ini,” tutur Pitri.

Pengolahan di bawah jembatan

Siang itu, suasana di bawah Jembatan Ciliwung Kalibata tampak kontras dengan padatnya lalu lintas di atas. Di tepi sungai, menemui sekelompok pencari ikan yang tengah sibuk mengolah hasil tangkapan mereka. Beralaskan rakit hijau, pria dan perempuan duduk jongkok berjejer. Pisau-pisau kecil bergerak cepat menyayat kulit ikan sapu-sapu yang keras bak perisai. Kulit hitam dan kasar dipisahkan, sementara dagingnya dikumpulkan ke dalam kantong plastik merah.

Daging tersebut akan dijual kembali. Sementara kulitnya, karena tidak dapat diolah, dibuang ke sungai atau dikubur jika memungkinkan. Sesekali, seorang pencari ikan menunjukkan segenggam telur ikan sapu-sapu berwarna oranye terang. Telur-telur kecil itu berkilau terkena cahaya matahari, kontras dengan air sungai yang keruh.

Bagi mereka, hampir setiap bagian ikan memiliki nilai ekonomi. Telur dijual untuk umpan memancing. Daging dijual per kilogram. Bahkan keberadaan ikan sapu-sapu itu sendiri menjadi sumber penghidupan alternatif di tengah sempitnya lapangan kerja.

Ali dan ritme bertahan hidup

Di antara mereka, Ali (35) tampak sibuk membantu proses pembersihan ikan. Berbeda dengan Pitri, Ali mengaku tidak selalu turun menangkap ikan. “Saya cuma bersihin aja. Karena banjir, hasilnya sedikit,” kata Ali. Menurut dia, air sungai yang tinggi membuat lubang-lubang tempat ikan bersembunyi tak terlihat. Jala pun sulit menjangkau dasar sungai.

“Kalau air enggak nyampe dasar, jala susah. Biasanya banyak, sekarang kerasa dikit,” tutur dia. Ali telah sekitar 10 tahun berkecimpung dalam pekerjaan ini, meski tidak seintens Pitri. Ia menyebut dirinya hanya “angot-angotan”. Biasanya, satu kali tangkapan bisa lebih dari sepuluh ekor. Dalam kondisi normal, para pencari ikan bahkan ada yang menyelam langsung ke dalam lubang-lubang di dasar sungai.

“Sekarang dikit,” kata dia. Alat yang digunakan pun sederhana: jala dan ban. Tidak ada teknologi canggih. Mereka hanya mengandalkan insting, pengalaman, dan keberanian. Di lokasi ini, sekitar 15 orang terlibat dalam aktivitas pencarian dan pengolahan ikan. Namun, tidak semua selalu terlihat oleh orang yang melintas di atas jembatan.

“Banyak yang lewat aja, enggak berhenti. Jadi orang enggak tahu,” kata Ali. Pembagian hasil dilakukan secara mandiri. Siapa yang menangkap, itulah miliknya. Setelah dibersihkan, daging ditimbang dan dijual per kilogram kepada bos yang mengelola distribusi.

“Hasilnya enggak pasti. Paling dikit sekitar 7 kilo. Sekarang paling 8 kilo juga nggak ada,” ujar dia. Telur ikan dijual dengan harga berbeda. Untuk umpan memancing lele, satu kilogram dihargai Rp 20.000. Sementara telur dari lubang bisa dijual satuan, sekitar Rp 5.000 per seribu butir. “Ikan lain enggak suka amis. Lele sama bawal yang cocok,” kata Ali.

Ikan yang jadi perdebatan

Belakangan, ikan sapu-sapu ramai diperbincangkan publik, terutama setelah muncul kabar ikan ini diolah menjadi makanan. Ali mengaku heran dengan kehebohan tersebut. “Kalau dari kami, enggak langsung ke penjual makanan. Saya juga heran orang bisa heboh. Dari dulu juga ikan,” kata Ali. Menurut dia, selama bukan makanan haram, seharusnya tidak menjadi persoalan.

“Namanya juga ikan. Bukan makanan haram juga,” ucap dia. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sebagian daging ikan sapu-sapu memang berakhir di rantai pangan, meski tidak selalu disadari oleh konsumen.

Peringatan dari KPKP DKI Jakarta

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menegaskan ikan sapu-sapu dari sungai tercemar pada prinsipnya tidak layak dikonsumsi manusia. “Ikan sapu-sapu secara biologis bisa dikonsumsi jika berasal dari hasil budidaya yang terkontrol, bukan di sungai atau waduk yang tercemar,” ujarnya saat dihubungi
,
Kamis (22/1/2026). Itu pun, kata Hasudungan, masih harus disertai uji laboratorium, baik logam berat maupun mikrobiologi.

“Pada kali yang tercemar, risiko kontaminasi cemaran logam berat berbahaya sangat tinggi dan kontaminan lain seperti E coli,” kata Hasudungan. Ia menjelaskan, ikan hasil tangkapan liar seperti di Ciliwung tidak melalui sistem pengawasan keamanan pangan. Akibatnya, ikan tersebut tidak bisa dipastikan memenuhi standar mutu. “Tidak memenuhi standar keamanan dan standar mutu pangan,” tegasnya.

Menurut Hasudungan, berbagai penelitian menunjukkan ikan sapu-sapu dari sungai tercemar dapat mengandung logam berat seperti arsen, kadmium, timbal, dan merkuri. “Logam berat ini cenderung terakumulasi dalam tubuh ikan, meningkatkan risiko keracunan kronis jika dikonsumsi rutin,” ujar dia. Selain itu, ikan juga berpotensi membawa bakteri patogen, parasit, mikroplastik, hingga residu pestisida dan bahan kimia limbah.

“Risiko ini meningkat jika ikan tidak dimasak dengan benar,” ucap Hasudungan. Karena itu, KPKP mengimbau masyarakat dan pedagang makanan untuk tidak menggunakan ikan dari perairan tercemar sebagai bahan pangan. Alternatif pemanfaatan yang disarankan adalah sebagai pakan ternak non-konsumsi atau pupuk.

Dari sisi ekologis, KPKP menilai ikan sapu-sapu bukan solusi pencemaran, melainkan indikator perairan yang bermasalah. “Ikan sapu-sapu bukan bio-remediator yang efektif, melainkan indikator perairan yang tercemar,” kata Hasudungan. Spesies ini bersifat invasif, bereproduksi cepat, dan mampu bertahan di kondisi ekstrem. Dominasi ikan sapu-sapu turut berkontribusi pada rendahnya keanekaragaman hayati Sungai Ciliwung.

Daging Ikan Jadi Bahan Siomay

Di sisi lain, di area Stasiun Duren Kalibata, Mamat (bukan nama sebenarnya) (51), pedagang siomay, mengakui menggunakan ikan sapu-sapu sebagai bahan baku. “Kalau pakai daging ikan sapu-sapu, warnanya memang agak lebih gelap, mirip bakso,” ujar dia. Aroma amis diakui lebih kuat, namun bisa diakali dengan jeruk nipis. Ia juga menegaskan tidak selalu menggunakan ikan sapu-sapu secara penuh. “Kadang saya campur sama ikan yang dagingnya dijual di pasar,” tutur Mamat.

Alasan utama pemilihan daging ikan ini sederhana: harga lebih murah. “Ya karena lebih murah. Terus juga kan sama-sama ikan,” kata Mamat. Namun, sejak isu penggunaan ikan sapu-sapu sebagai bahan siomay ramai, penjualan ikut terpengaruh. “Ada yang jadi beli, ada juga yang enggak jadi,” kata dia. Meski begitu, Mamat mengaku tetap berjualan selama dianggap halal dan belum pernah ada laporan keracunan.

Kisah ikan sapu-sapu di Ciliwung menjadi potret kompleks Jakarta: sungai tercemar, ekosistem rusak, ekonomi informal yang bertahan, dan konsumen berada di ujung rantai. Bagi Pitri dan Ali, ikan sapu-sapu adalah soal hidup sehari-hari. Bagi pemerintah, ia adalah persoalan lingkungan dan kesehatan. Bagi pedagang, ia adalah bahan murah. Bagi pembeli, sering kali hanya seporsi siomay di pinggir jalan.

Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *