"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Wali Kota Malang Evaluasi MBG Prasmanan Usai Uji Coba di MIN 2

Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan Sistem Prasmanan di Kota Malang

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menyatakan bahwa uji coba program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan masih dalam proses evaluasi sebelum diterapkan secara lebih luas. Meski mendapat respons positif dari siswa karena variasi menu dan fleksibilitas porsi, beberapa hal teknis perlu diperhatikan sebelum kebijakan ini dilanjutkan.

Respons Positif dari Siswa

Program MBG Prasmanan di Kota Malang telah dilakukan secara perdana di MIN 2 Kota Malang pada Kamis (2/4/2026). Wahyu Hidayat turut hadir dalam kegiatan ini bersama sejumlah kepala dinas dan anggota dewan. Menurutnya, meskipun konsep prasmanan mendapat apresiasi dari siswa, terdapat beberapa aspek yang harus menjadi perhatian khusus.

“Yang harus diperhatikan adalah soal waktu. Karena ini antre dan makan butuh waktu, tentu ada potensi jam pelajaran tersita. Ini yang harus diatur,” kata Wahyu.

Ia menilai, berbeda dengan sistem nasi kotak yang bisa langsung dibagikan secara serentak, model prasmanan membutuhkan manajemen waktu yang lebih matang karena siswa harus antre sebelum makan.

“Kalau ompreng kan langsung dibagi, siswa bisa langsung makan. Kalau prasmanan ini ada proses antre, itu yang harus disesuaikan dengan jadwal sekolah,” jelasnya.

Keunggulan Sistem Prasmanan

Meski demikian, Wahyu mengakui keunggulan sistem prasmanan dari sisi kualitas makanan. Ia menyebut makanan yang disajikan lebih hangat, tidak berair, dan terasa lebih alami dibandingkan dengan sistem distribusi tertutup.

“Karena tidak langsung dimasukkan ke kotak, makanan lebih fresh. Ini yang membuat siswa juga lebih menikmati,” ungkapnya.

Setelah uji coba ini, Wahyu akan mengumpulkan seluruh hasil evaluasi untuk kemudian dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Hasil tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan lanjutan program MBG di daerah.

“Nanti kita evaluasi, kita laporkan ke BGN melalui koordinasi yang sudah ada. Dari situ akan ditentukan apakah model ini bisa diperluas atau perlu penyesuaian,” katanya.

Peluang bagi Sekolah Lain

Wahyu juga membuka peluang bagi sekolah lain untuk menerapkan sistem serupa. Namun dengan sejumlah pertimbangan teknis, seperti ketersediaan ruang dan kesiapan pengaturan waktu.

Selain itu, ia memastikan bahwa pelaksanaan MBG di Kota Malang sejauh ini masih dalam kondisi aman dan terkendali berdasarkan hasil pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait.

“Bisa saja diterapkan di sekolah lain, tapi harus dilihat kondisi masing-masing. Karena ada kelebihan dan kekurangannya,” tegasnya.

Uji Coba di MIN 2 Kota Malang

Di sisi lain, Kepala SPPG Kota Malang Sukun, Gadang 2, Ita Herlistyowati, mengungkapkan bahwa uji coba prasmanan ini merupakan arahan langsung dari pusat sekaligus momentum kegiatan halalbihalal di sekolah. Ia menyebut uji coba di MIN 2 Kota Malang ini menjadi yang pertama dilakukan oleh SPPG Gadang 2, dengan total sekitar 1.600 porsi makanan yang disiapkan, termasuk untuk tenaga pendidik.

Menu yang disajikan pun dibuat spesial dengan nuansa Lebaran. Seperti ayam, sayur cecek tahu, sayur Manisa, ayam, telur kecap, kerupuk dan es buah.

“Karena masih suasana Lebaran, jadi menunya juga menyesuaikan,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, siswa mengambil makanan sendiri dengan sistem antre dalam beberapa jalur. Namun, tetap ada pengawasan dari tim SPPG dan guru untuk mengontrol porsi agar tidak berlebihan.

“Anak-anak mengambil sendiri, tapi tetap diawasi tim kami. Jadi kalau ada yang berlebihan bisa diarahkan,” katanya.

Tantangan dalam Sistem Prasmanan

Meski berjalan lancar, Ita mengakui ada tantangan baru dalam sistem prasmanan, terutama dari sisi persiapan dan distribusi.

“Kalau prasmanan ini memang lebih ribet di persiapan. Karena makanan dibawa dalam jumlah besar dan harus ditata di lokasi. Beda dengan ompreng yang sudah siap dibagikan,” jelasnya.

Ke depan, pihaknya masih menunggu hasil evaluasi untuk menentukan apakah sistem ini akan dilanjutkan atau perlu perbaikan.

“Kalau efektif, tentu ada kemungkinan dilanjutkan. Tapi kalau ada kendala, kita cari solusi bersama. Kami siap mengikuti arahan selanjutnya,” tandasnya.


Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *