"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Makassar Bersinergi dengan Gowa-Maros, Kelola 1.000 Ton Sampah Jadi 20 MW Listrik

Kerja Sama Lintas Daerah dalam Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik

Pemerintah Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Maros telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) untuk penyelenggaraan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek ini bertujuan untuk mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari, dengan rincian sebanyak 800 ton dari Makassar, 150 ton dari Gowa, dan 50 ton dari Maros. Dengan kapasitas tersebut, proyek ini diharapkan mampu menghasilkan listrik sebesar 20–25 MegaWatt.

Kolaborasi antar daerah ini merupakan langkah konkret dalam mendukung implementasi PSEL di wilayah Mamminasata. Proyek ini juga menjadi bagian dari program nasional pengelolaan sampah berbasis energi (waste to energy), yang bertujuan untuk menjawab tantangan timbulan sampah yang terus meningkat di perkotaan.

Peran Pemerintah Kota Makassar

Pemerintah Kota Makassar telah menyiapkan lahan seluas 10 hektare di kawasan TPA Tamangapa untuk memenuhi kebutuhan 7 hektare sebagai lokasi pembangunan fasilitas PSEL. Lokasi ini dipilih karena memiliki potensi bahan baku tambahan dari timbunan sampah lama yang masih bisa dimanfaatkan. Sebanyak 20–25 persen sampah yang ada di TPA masih dapat digunakan sebagai bahan baku.

Selain itu, Pemerintah Kota Makassar juga memastikan penggunaan teknologi modern yang ramah lingkungan dalam proyek ini. Teknologi yang digunakan telah teruji dan tidak akan menimbulkan dampak negatif seperti yang dikhawatirkan oleh masyarakat. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan bahwa fasilitas PSEL justru hadir untuk mengolah sampah agar tidak menggunung dengan pengolahan yang memenuhi standar keamanan.

Penanganan Sampah di Makassar

Timbulan sampah di Makassar saat ini mencapai sekitar 800 ton per hari dan dinilai masih dapat dioptimalkan. Namun, kapasitas pengangkutan yang dimiliki Pemerintah Kota Makassar baru berada di kisaran 67 persen, sehingga perlu dilakukan peningkatan untuk memaksimalkan layanan pengangkutan sampah.

Dengan tambahan pasokan dari Kabupaten Gowa sekitar 150 ton per hari dan Kabupaten Maros sekitar 50 ton per hari, fasilitas PSEL diproyeksikan mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari. Hasilnya, energi listrik yang dihasilkan berkisar antara 20–25 MegaWatt, tergantung kualitas sampah yang masuk.

Upaya Pembenahan Sistem Persampahan

Pemerintah Kota Makassar juga tengah membenahi secara menyeluruh sistem persampahan di kota ini. Salah satu fokus utamanya adalah percepatan transisi dari metode open dumping menuju sanitary landfill. Selain itu, penguatan pengelolaan sampah dari hulu juga dilakukan melalui berbagai inisiatif seperti pemilihan sampah berbasis RT/RW, penguatan bank sampah, optimalisasi TPS3R, pengolahan sampah organik melalui maggot dan kompos, serta pemanfaatan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel).

Wali Kota Makassar juga menjelaskan bahwa saat ini semua blok-blok yang harus dilakukan cover soil setiap hari sudah dipetakan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada lagi open dumping yang bisa memberikan tingkat pencemaran yang tinggi di kota ini.

Kedepan, PSEL sebagai Solusi Terintegrasi

PSEL bukan hanya menjadi solusi hilir, tetapi juga terintegrasi dengan pembenahan sistem pengelolaan sampah kota. Dengan adanya proyek ini, diharapkan mampu mengurangi dampak lingkungan akibat penumpukan sampah dan sekaligus memanfaatkan sampah sebagai sumber energi.


Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *