"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Cendekiawan NU: Sistem Pendidikan LDII Dilakukan Secara Masif dari Sabang hingga Merauke

Peluncuran Buku Baru tentang Sistem Pendidikan LDII

Cendekiawan NU Ahmad Ali resmi meluncurkan buku terbarunya yang berjudul “Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius, dari Sabang sampai Merauke”. Acara peluncuran dan bedah buku ini diadakan di Sinabung Eight, Jakarta Selatan, pada Selasa (10/3/2026). Buku ini menjadi hasil kajian mendalam mengenai perilaku positif dan nilai-nilai moral yang diterapkan dalam lingkungan LDII. Melalui karya ini, ia membedah internalisasi nilai-nilai kebajikan, yang mampu membentuk karakter warga LDII yang selaras dengan tuntutan zaman tanpa meninggalkan akar religiusitas.

Buku ini diselenggarakan oleh Penerbit Deepublish Yogyakarta dan menghadirkan para pakar pendidikan Islam sebagai penanggap, untuk menguji indikator “Profesional Religius” yang menjadi identitas warga LDII. Dalam paparannya, Ahmad Ali mengungkapkan ketertarikannya meneliti LDII bermula dari dinamika negatif dan kontroversi yang ia dengar sejak tahun 2001. Hal tersebut mendorongnya melakukan penelitian langsung untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.

“Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak mereka ketahui. Prasangka negatif sering kali lahir dari ketidaktahuan. Sebagai orang NU yang awalnya tidak mengenal LDII, saya tidak ingin menjadi musuh bagi siapapun. Saya ingin menjadi kawan dengan cara memahami sistem mereka secara objektif,” ujar Ahmad Ali dalam pernyataannya, Jumat(13/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut dilakukannya dari sudut pandang positif untuk memahami praktik keagamaan dan nilai moral yang berkembang di lingkungan LDII. Hasil riset itu kemudian melahirkan buku pertama mengenai nilai-nilai kebajikan dalam jamaah LDII.

Salah satu temuan kunci dalam buku ini adalah bagaimana LDII berhasil mengimplementasikan sistem pendidikan yang seragam di seluruh Indonesia, mulai dari urusan kebersihan dan kesucian (Thoharoh), hingga penerapan 29 Karakter Luhur, sehingga terbitlah jilid kedua ini.

“Ternyata, rahasia dibalik perilaku positif warga LDII yang saya tulis di buku pertama adalah sistem pendidikan yang diterapkan secara masif dari Sabang sampai Merauke. Mereka memiliki platform yang sama dalam membentuk karakter profesional religius,” tambah Ahmad Ali.

Pendapat Para Pakar Pendidikan Islam

Bedah buku ini menghadirkan tiga pakar pendidikan sebagai pembedah untuk memberikan bobot akademis pada karya tersebut. Guru Besar PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KH Dede Rosyada, mengapreasiasi terbitnya buku dan model pendidikan yang dijalankan LDII. Menurutnya, LDII telah lebih dulu mempraktikkan penguatan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

“Dalam buku jilid kedua ini dijelaskan bahwa pendidikan formal yang dikembangkan memiliki orientasi keterampilan sesuai dengan kondisi lokal, sehingga ketika siswa lulus mereka memiliki bekal kemampuan yang dapat digunakan dalam dunia kerja,” ujar KH Dede Rosyada.

Ia menilai langkah ini sejalan dengan semangat ‘Merdeka Belajar’ yang digagas pemerintah, yakni lulusan sekolah tidak hanya memiliki ijazah tetapi juga keahlian nyata. “Lebih dari itu, penguatan dimensi agama di LDII tidak sekadar menjadi wacana atau teori, tetapi sudah menjadi kultur dan kebiasaan. Agama itu lahir melalui pembiasaan, dan LDII sukses membangun budaya tersebut,” tuturnya.

Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Universitas PTIQ Nur Afif, dan Made Saihu, juga memberikan indikator-indikator penting mengenai sejauh mana platform “Profesional Religius” telah terimplementasi di lapangan. Melalui peluncuran dan bedah buku ini, para akademisi berharap kajian mengenai sistem pendidikan dan nilai kebajikan di lingkungan LDII, dapat menjadi bahan referensi akademik serta membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai praktik pendidikan keagamaan di Indonesia.

Sistem Pendidikan LDII yang Seragam

Buku ini menjelaskan bahwa sistem pendidikan LDII berjalan masif, seragam, dan membentuk perilaku positif anggotanya. Dari Sabang hingga Merauke, LDII menerapkan sistem yang sama dalam membentuk karakter profesional religius. Salah satu aspek penting dalam sistem ini adalah penerapan 29 Karakter Luhur yang mencakup berbagai nilai moral dan etika.

Penerapan sistem ini juga mencakup urusan kebersihan dan kesucian (Thoharoh), yang menjadi dasar dari kehidupan sehari-hari anggota LDII. Dengan demikian, LDII tidak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga pada pembentukan karakter yang kuat dan berlandaskan nilai-nilai religius.

Relevansi dengan Kebutuhan Zaman

Buku ini juga menyoroti relevansi platform “Profesional Religius” dengan kebutuhan zaman dan dunia kerja. Menurut para akademisi, LDII telah mampu menggabungkan antara pendidikan keagamaan dan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Hal ini sejalan dengan semangat ‘Merdeka Belajar’ yang diharapkan dapat menciptakan lulusan yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga memiliki keahlian nyata.


Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *