"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Nassar: Lisan Jadi Ukuran Kesuksesan Ramadan

Menjaga Lisan, Salah Satu Kunci Keberhasilan Ibadah Puasa

Puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi momen untuk memperbaiki diri dan menjaga lisan dari perkataan buruk. Dalam Islam, lisan memiliki kekuatan yang sangat besar, bahkan bisa melukai lebih dalam daripada tangan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menekankan pentingnya berkata baik atau diam.

Mengapa Lisan Penting Dijaga?

Lisan adalah salah satu amalan yang mudah dilakukan, namun jika tidak dijaga, bisa menyebabkan dosa yang besar. Jika seseorang melukai orang lain dengan tangan, luka tersebut akan terlihat. Namun, jika lisan digunakan untuk menyakiti hati seseorang, luka itu tidak terlihat, tetapi bisa sangat dalam dan membekas di hati. Ini membuat kita sadar bahwa menjaga lisan adalah hal yang sangat penting dalam menjalani ibadah puasa.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

“Kam min shaaimin laisa lahu min shiyaamihi illal ju’u wal ‘athasy.”

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus.”

Dari sabda ini, kita diajak untuk merenungkan kembali arti sebenarnya dari puasa. Selain menahan lapar dan haus, kita juga harus mampu menahan lisan dari perkataan yang tidak baik.

Tiga Cara Sederhana untuk Menjaga Lisan

Ada tiga cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga lisan selama bulan Ramadan:

  1. Jauhi lingkungan atau pergaulan yang tidak bermanfaat

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”

    Dengan menjauhi lingkungan yang tidak sehat, kita dapat menghindari terjerumus dalam perkataan yang tidak baik.

  2. Berhati-hati dalam berkomentar di media sosial

    Di zaman modern ini, banyak orang terluka bukan karena perkataan langsung, tetapi karena komentar di media sosial. Maka dari itu, kita harus lebih bijak dalam menulis dan berkomentar agar tidak menyakiti hati orang lain.

  3. Fokus pada tujuan utama puasa yaitu mencapai ketakwaan

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

    “La’allakum tattaqun.”

    Artinya: “Agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.”

    Salah satu tanda orang yang bertakwa adalah mampu menjaga lisannya dari perkataan yang buruk.

Kisah Para Ulama Salaf

Ada sebuah kisah dari seorang ulama salaf yang sering membawa batu kecil di mulutnya setiap hari. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal tersebut, ia menjawab:

“Aku melakukan ini karena aku takut lisanku mengucapkan sesuatu yang dapat mendatangkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Dari kisah ini, kita belajar bahwa para ulama terdahulu sangat berhati-hati dalam menjaga lisan mereka. Mereka takut jika perkataan yang keluar dapat menyakiti hati orang lain atau mendatangkan dosa.

Kesimpulan

Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, mari kita bersama-sama tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan kita dari perkataan yang dapat menyakiti orang lain. Dengan menjaga lisan, kita bisa memastikan bahwa ibadah puasa kita tidak sia-sia dan benar-benar mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *