"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Membangun Pendidikan Budaya Papua: Angginak Sepi Wanimbo

Membangun Pendidikan Berbasis Budaya Papua

Sejak Allah menciptakan manusia, setiap orang ditempatkan di wilayah yang memiliki bahasa dan budaya masing-masing. Misalnya, saudara-saudari kita yang tinggal di Jawa, Surabaya, Makasar, Manado, Australia, Jepang, Korea, Cina, Amerika, India, dan sekitarnya memiliki keunikan tersendiri.

Demikian pula dengan Penduduk Orang Asli Papua yang tinggal dari Sorong hingga Merauke. Di wilayah ini, mereka hidup, berkarya, beranak cucu, dan berkembang biak. Dalam wilayah tersebut terdapat 428 bahasa dan budaya yang berbeda. Contohnya, di Papua Pegunungan, penduduk memiliki rumah tradisional yang disebut Honai. Honai ini memiliki tiga model, yaitu honai laki-laki, honai untuk kandang ternak babi, dan honai perempuan/ibu-ibu.

Hebatnya, orang Papua memiliki kemampuan untuk membuat Honai, kebun, pagar, jembatan gantung, pana, busur, tombak, koteka, cawat, dan lainnya tanpa diajarkan oleh guru-guru besar dari luar Papua. Tuhan langsung mengajarkan cara-cara ini kepada moyang orang Papua. Mereka belajar tentang cara hidup yang sehat, etika, proses meminum sampai dengan pernikahan, pengaturan batu untuk masak bakar batu di kolam, panah babi, bela dan potong untuk makan bersama keluarga.

Pendidikan dasar bagi moyang orang Papua dimulai sejak dulu, biasanya diajarkan di dalam Honai. Bagi laki-laki, mereka diajarkan bagaimana cara membuat Honai, peran, kebun, busur dan panah, panah babi, bela dan potong untuk makan dengan jumlah besar. Mereka juga belajar cara menghargai sesama keluarga, terlebih dahulu seorang suami menghargai istri dan anak-anaknya.

Di sisi lain, di Honai perempuan, ibu-ibu mengajarkan kepada anak gadis untuk belajar menanam ubi, sayur, masak, menganyam/merayut noken, cawat, serta belajar menghargai suami dan membesarkan babi karena babi merupakan salah satu hewan yang bernilai bagi Penduduk Orang Asli Papua.

Nenek moyang asli Papua memiliki kehidupan yang mandiri, otonom, independen, berdaulat, dan merdeka dalam kehidupan sehari-hari di atas tanah dan negeri mereka sendiri. Makan dan minum mereka berasal dari alam sekitar, seperti ubi sayur, kacang, buah, hewan ternak babi, kelinci, ikan, udang, serta ada di hutan seperti kus-kus hutan, kelapa hutan, dan lainnya.

Konsumsi makanan lokal ini membuat postur tubuh moyang orang Papua menjadi kuat, gesit, dan tinggi baik bagi pria maupun wanita. Usia mereka bisa mencapai 80 hingga 90 tahun. Angka kematian sangat rendah, tetapi peningkatan angka kelahiran manusia terjadi. Kematian bagi orang Papua pada masa itu juga ada, namun kemungkinan besar disebabkan oleh faktor usia atau meninggal dalam pertempuran di medan perang.

Misi utusan Tuhan datang menyatakan Injil kebenaran Allah kepada orang Papua. Sejak saat itulah, Moyang Orang Asli Papua diperkenalkan dengan hal-hal baru yang semakin berkembang di berbagai bidang. Waktu terus berjalan, pemerintah Indonesia membacakan kemerdekaan pada 1945 lalu mekarkan wilayah pemerintahan disebut Provinsi, Kabupaten, Distrik, dan Desa/Kampung.

Pemerintah Indonesia mulai menguasai wilayah Papua melalui daerah baru lalu menerapkan kebijakan dengan sistematis, terukur, terarah, terprogram, dan masif. Kebijakan baru yang diambil oleh pemerintah Indonesia hingga saat ini benar-benar dilumpuhkan, dibutahkan, dimusnahkan, dihilangkan tatanan nilai-nilai bahasa dan budaya sebagai warisan leluhur oleh moyang Orang Asli Papua melalui sistem pendidikan yang diajarkan di setiap sekolah dasar hingga perguruan tinggi di tanah Papua.

Nilai-nilai budaya sebagai jati diri dan warisan leluhur bagi orang Papua sangat penting. Oleh karena itu, setiap orang asli Papua harus kembali belajar untuk menghidupkan, melestarikan nilai budaya untuk masa depan generasi emas Papua. Menghidupkan kembali melalui pendidikan di Honai, komunitas, literasi persekutuan gereja, bahkan di setiap sekolah dasar hingga perguruan tinggi dari Sorong hingga Merauke.

Salah satu contoh adalah beberapa daerah seperti Biak, Jayapura, Jayawijaya Wamena, Tolikara sudah memulai proses belajar mengajar tentang bahasa dan budaya masuk materi muatan lokal “Mulok”. Bagi provinsi dan kabupaten kota lain di tanah Papua yang belum memulai pendidikan berbasis budaya, jangan anggap biasa-biasa tetapi ini benar-benar kekayaan yang berharga yang dimiliki oleh kami orang asli Papua yang hidup di bumi Cenderawasih.

Oleh karena itu, tanggung jawab kita semua, terlebih dahulu bagi ayah dan ibu untuk membudayakan ajar bahasa dan nilai-nilai sosial budaya Papua. Kepada setiap generasi emas untuk memahami dan mempertahankan demi masa depan muda-mudi dan bangsa Papua.

“Mengenal bahasa dan budaya memiliki harapan masa depan dan tidak mengenal bahasa dan budaya tidak memiliki harapan masa depan.”

Selamat membaca bagi bapa ibu yang setia membaca dan melaksanakannya? Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua..waaa….waaa. Kinaonak…Waaaa….Waaaa. TiEyom Tiom, 24 – 02 – 2026, Waktu, 7. 45 Waktu Papua Barat.***


Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *