"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Daerah  

Pihak lapangan padel dianggap bising dan buka 24 jam, lurah umumkan dua kesepakatan

Protes Warga Terkait Kebisingan di Lapangan Padel Fourth Wall

Warga sekitar lapangan padel Fourth Wall di Jalan Haji Nawi Raya, Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan mengeluhkan kebisingan yang terjadi akibat operasional lapangan tersebut. Seorang warga, Idham, mengungkapkan bahwa lapangan padel beroperasi selama 18 jam per hari, mulai pukul 06.00 hingga 24.00 WIB. Ia menyampaikan keluhan ini karena kebisingan yang terus-menerus mengganggu kenyamanan tinggalnya.

Idham menuturkan bahwa lapangan padel tersebut dibangun sejak Oktober 2025 dan selesai pada Januari 2026. Namun, ia menyebut tidak ada sosialisasi sama sekali terkait pembangunan tersebut. “Kami tidak tahu sama sekali bahwa bangunan ini adalah lapangan padel,” ujarnya.

Pada 31 Januari 2026, Idham bersama pemilik lapangan padel melakukan pertemuan. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan dua tuntutan, yaitu meminta pemilik lapangan memasang soundproofing atau peredam suara dan menghentikan sementara operasional saat pemasangan alat peredam. Namun, pemilik lapangan menolak tuntutan tersebut dengan alasan bahwa lapangan mereka sudah sesuai standar internasional.

Penjelasan dari Pihak Lapangan Padel

Perwakilan pengelola lapangan padel Fourth Wall, Fajar Adiputra, memberikan klarifikasi terkait polemik kebisingan yang dikeluhkan warga. Ia menjelaskan bahwa pengelola telah menjalankan operasional sesuai aturan yang berlaku, termasuk batas kebisingan. Menurut Fajar, tingkat kebisingan di lapangan padel tersebut berada di angka sekitar 70 desibel, yang dianggap masih sesuai ketentuan.

Namun, Fajar mengakui bahwa masalah muncul karena lokasi lapangan padel yang berdampingan langsung dengan kawasan permukiman warga. Perbedaan aturan zonasi inilah yang dinilai menjadi akar permasalahan. “Kalau mengikuti aturan di zonasi kami sebenarnya tidak menyalahi. Tapi karena beririsan dengan zonasi rumah tinggal yang batas desibelnya lebih rendah, itu yang jadi persoalan,” ujar Fajar.

Kesepakatan dalam Mediasi

Lurah Gandaria Selatan Ikhsan Kamil menyampaikan hasil kesepakatan dalam proses mediasi. Kesepakatan pertama adalah pengelola lapangan padel akan memasang soundproofing atau peredam suara di bagian dinding yang berbatasan dengan rumah warga. Target dari pemasangan tersebut adalah menurunkan desibel.

Adapun kesepakatan kedua terkait jam operasional lapangan padel. Warga menuntut agar lapangan hanya dibuka pada pukul 14.00-19.00 selama pemasangan alat peredam suara. Sementara pihak pengelola meminta jam operasional pada pukul 13.00-21.00. Menurut Ikhsan, pengelola lapangan padel akan memenuhi permintaan warga soal jam operasional.

Nantinya, tes desibel akan dilakukan setelah peredam suara selesai dipasang. Ikhsan menyebut tingkat kebisingan yang ditimbulkan tidak boleh di atas 70 desibel. “Makanya saya bilang tadi, harus ada tes desibel setelah pemasangan soundproofing. Jangan cuma menerima hasil akhirnya saja seperti itu. Tapi harus dites,” ungkap Ikhsan.

Insiden Atap Lapangan Padel di Taman Villa Meruya

Selain masalah kebisingan, insiden atap lapangan padel di Taman Villa Meruya, Kembangan, Jakarta juga mendapat perhatian dari Komisi D DPRD DKI Jakarta. Hal ini terjadi saat rapat kerja dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Citata) di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (27/10/2025).

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengatakan, dalam rapat tersebut pihaknya berdiskusi terkait peran Dinas Citata dalam melakukan pengawasan dan pemberian izin bangunan. “Kami menekankan pentingnya memastikan gedung-gedung yang tidak layak bisa ditangani secara serius,” kata Yuke.

Contohnya insiden atap lapangan Padel di Meruya yang ambruk baru-baru ini, Komisi D meminta Dinas Citata segera menindaklanjuti. “Kekhawatirannya apakah itu murni kesalahan struktur atau ada pelanggaran dalam proses perizinan. Hal itu kami minta agar ditindaklanjuti,” tegas dia.

Sebelumnya diberitakan, pemilik lapangan padel di Taman Villa Meruya, Kembangan, Jakarta buka suara terkait insiden ambruknya atap lapangan yang terjadi pada Minggu (26/10/2025) siang. Saat kejadian, tengah berlangsung turnamen padel dan tenis di lapangan tersebut.

Pemilik Anwa Racquet Club, Wawa Lukman, menepis tudingan bahwa peristiwa tersebut karena kelalaian teknis dari pihak pengelola. Ia berdalih hal itu merupakan murni musibah akibat hujan deras disertai angin kencang. “”

“Ini murni musibah, bukan maunya kami. Hujan terlalu besar, sehingga terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan,” ujar Wawa di lokasi.

Menurut Wawa, sesaat setelah atap ambruk, pihaknya langsung menutup akses ke area terdampak dan mengevakuasi seluruh pemain serta panitia yang sedang berada di dalam. “”

“Begitu kejadian, langsung kami tutup. Tidak boleh ada yang masuk. Setelah kondisi agak tenang, baru barang-barang di dalam kami suruh cepat keluar, takut terjadi sesuatu,” katanya.

Ia bersyukur karena seluruh peserta, termasuk para atlet dan penonton berhasil keluar dengan selamat. “Kami bersyukur tidak ada korban cedera maupun korban jiwa. Itu yang paling penting,” tambahnya.

Rafitman

Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *