"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Ketua BEM UGM Diteror, Guru Besar UII: Prihatin Kritik Akademisi dan Tekanan Mahasiswa

Kasus Teror terhadap Ketua BEM UGM: Kekhawatiran atas Ruang Kebebasan Berpendapat

Kasus teror yang dialami oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Tiyo Ardianto, menimbulkan kekhawatiran terkait sempitnya ruang kebebasan berpendapat dan perlindungan terhadap mahasiswa yang menyuarakan aspirasi. Tiyo mengaku menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan setelah menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan nasional, termasuk kebijakan Presiden Prabowo Subianto dan kasus anak yang akhir hidup di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kritik yang Dilakukan Tiyo Ardianto

Tiyo Ardianto, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM, menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai gagal dalam menjamin hak dasar anak. Ia juga menyoroti tragedi anak di NTT yang akhir hidup setelah meminta orang tuanya membelikan pena dan buku. Kritik ini dilakukan melalui surat yang dikirimkan ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026). Surat tersebut bertujuan untuk mengajak dunia internasional menegur pemerintah Indonesia yang dinilai tidak memberikan prioritas pada pendidikan dan kesehatan.

Setelah pengiriman surat tersebut, Tiyo mengaku menerima ancaman dari nomor asing. Pesan-pesan tersebut berisi ancaman penculikan serta tuduhan bahwa ia sebagai agen asing yang mencari panggung jual narasi sampah. Selain itu, Tiyo juga mengaku difoto dari kejauhan oleh dua orang tidak dikenal dan dikuntit.

Tanggapan dari Akademisi

Prof. Masduki, Ketua Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) Universitas Islam Indonesia (UII), menilai kritik yang disampaikan Tiyo Ardianto didasari oleh nurani dan kondisi bangsa. Menurutnya, tindakan yang dialami Tiyo harus mendapatkan perlindungan dan pembelaan, terutama dari kampusnya. Ia menegaskan bahwa ketika terjadi represi dan teror, ini menjadi ujian bagi kampus apakah mereka akan memberikan pembelaan kepada mahasiswanya.

“Jika terjadi represi, ini juga menjadi test the water, apakah kampusnya memberikan pembelaan,” kata Prof. Masduki. Ia menambahkan bahwa represi terhadap mahasiswa kritis sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal, namun skala represinya kemungkinan akan semakin meningkat.

Menurut Prof. Masduki, lembaga pendidikan tinggi kampus Tiyo seharusnya memberikan pembelaan ke mahasiswanya. Ia menilai bahwa ini bukan hal yang normal, sehingga harus dilawan. Namun, perlawanan tersebut seharusnya muncul lebih awal dari kampusnya.

Apresiasi terhadap Keberanian Mahasiswa

Prof. Masduki juga mengapresiasi keberanian Ketua BEM UGM yang memberikan kritikan kepada pemerintah. Ia menilai bahwa keberanian ini seharusnya menjadi sentilan atau senggolan, mengapa justru datang dari mahasiswa dan tidak dilakukan oleh dosen maupun akademisi UGM.

Ia menekankan bahwa apa yang disampaikan Tiyo Ardianto seharusnya menjadi masukan positif bagi pemerintah. “Perubahan kebijakan terutama yang hari ini menjadi perhatian banyak orang, bagaimana ceritanya anggaran pendidikan itu dialihkan semua ke makan bergizi, itu tidak rasional. Nah anak ini menjadi contoh korban tidak langsung dari kebijakan ‘keliru’ ini,” ujarnya.

Respons dari DPR

Sementara itu, Anggota DPR RI, Hilman Mufidi, turut mengecam keras tindakan teror yang dialami Ketua BEM UGM. Ia menyayangkan adanya teror yang ditujukan ke mahasiswa yang menyuarakan kritik tersebut. “Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Parlementaria di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Hilman Mufidi mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas siapa dalang di balik aksi teror terhadap Tiyo. Menurutnya, suara Tiyo adalah wujud kebebasan berpendapat dan dilindungi hukum. “Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati,” ungkapnya.

Penutup

Peristiwa ini lantas diakui Masduki menjadi tamparan keras bagi negara yang seharusnya mencari solusi substantif dari akar permasalahan. Ia menilai bahwa teror yang diterima oleh Tiyo Ardianto merupakan bahasa kekuasaan. Menurutnya, apapun ekspresi rakyat yang cinta pada bangsanya harus dilindungi.


admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *