Revitalisasi Taman Hutan Raya Pancoran Mas: Menuju Ruang Hijau yang Berkelanjutan
Taman Hutan Raya (Tahura) Pancoran Mas di Kota Depok kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan warga setempat maupun pencinta alam. Kawasan hutan lindung yang telah lama menjadi salah satu paru-paru hijau di tengah hiruk-pikuk perkotaan ini kini sedang menjalani proses revitalisasi besar-besaran. Di bawah pengelolaan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim) Kota Depok, proyek ini tidak hanya bertujuan mempercantik wajah Tahura, melainkan juga memperkuat fungsinya sebagai destinasi wisata edukatif sekaligus ruang olahraga terbuka bagi masyarakat sekitar. Target penyelesaian ditetapkan pada akhir tahun 2027, meskipun prosesnya tetap diwarnai berbagai dinamika dan tantangan di lapangan.
Revitalisasi ini muncul sebagai respons terhadap kebutuhan akan ruang hijau yang lebih fungsional di tengah pesatnya pembangunan kota. Tahura Pancoran Mas, yang terletak di Jalan Raya Cagar Alam Nomor 54, telah lama dikenal sebagai rumah bagi berbagai satwa liar dan keanekaragaman hayati. Kini, dengan penambahan fasilitas baru, kawasan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung tanpa mengorbankan kelestarian ekosistemnya.
Rencana Pembangunan Fasilitas Unggulan
Proyek revitalisasi Tahura Pancoran Mas memasuki tahap krusial pada tahun 2026 ini, dengan fokus utama pada penyelesaian infrastruktur dasar. Saat ini, pembangunan pagar keliling kawasan sedang digarap secara intensif, termasuk penambahan gerbang kedua di sisi selatan yang akan berfungsi ganda sebagai jalur logistik sekaligus akses evakuasi darurat. Pengawas Tahura, Imam Mahdi, menjelaskan bahwa pembangunan ini dirancang untuk memberikan akses lebih baik bagi pengunjung tanpa mengganggu zona inti hutan.
Salah satu elemen paling menarik adalah pembangunan danau kecil atau sendang di blok yang selama ini rawan banjir. Fasilitas ini bukan sekadar elemen estetika, melainkan memiliki peran multifungsi yang sangat strategis. Sendang akan menjadi tempat penampungan air hujan, sumber minum bagi satwa liar, serta area bermain bagi hewan-hewan habitat air. Lebih dari itu, danau ini juga disiapkan sebagai cadangan air darurat untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan, sehingga menjadi shelter air yang bisa diandalkan di masa sulit.
Imam Mahdi menegaskan bahwa meskipun detail luas dan kedalaman sendang masih dalam tahap perencanaan akhir, konsep ini telah dipikirkan secara matang untuk mendukung keberlanjutan kawasan. “Kita ingin air tetap awet dan tersedia setiap tahun, sehingga jika suatu saat terjadi kebakaran di lokasi tertentu, sumber air darurat sudah ada,” ujarnya dalam wawancara sebelumnya.
Jogging Track dan Pembagian Blok Kawasan
Selain danau kecil, revitalisasi ini juga akan menghadirkan jogging track yang melintasi kawasan hutan dengan desain alami. Jalur lari ini dirancang mengikuti kontur tanah dan posisi pohon-pohon existing, sehingga pengunjung bisa menikmati olahraga pagi di tengah udara segar dan pemandangan hijau yang asri. Fasilitas ini diharapkan menjadi daya tarik utama bagi warga Depok yang semakin sadar akan pentingnya gaya hidup sehat.
Kawasan Tahura Pancoran Mas akan dibagi menjadi tiga blok utama untuk memudahkan pengelolaan dan pelestarian:
- Blok Koleksi difokuskan pada penataan tanaman endemik melalui kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Beberapa jenis tanaman yang akan ditata di sini meliputi rasamala, rotan besar, rotan badak, cemara laut, matoa, bisbul, hingga Kikonneng atau akar Bajakah yang memiliki nilai obat tinggi. Blok ini akan menjadi pusat edukasi tentang flora asli Indonesia.
- Blok Khusus yang berbatasan langsung dengan pemukiman warga akan dilengkapi instalasi utilitas seperti kabel listrik dan pipa air, serta menyimpan situs-situs sejarah yang bisa diamati pengunjung.
- Blok Perlindungan dibiarkan tetap alami dengan intervensi manusia seminimal mungkin, demi menjaga keseimbangan ekosistem asli.
Tantangan Pengelolaan dan Komitmen Edukasi
Meski rencana terlihat ambisius, revitalisasi Tahura Pancoran Mas tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan tenaga ahli, seperti botanis dan pakar satwa liar. Petugas di lapangan saat ini banyak belajar secara otodidak, sambil sesekali bertukar pengetahuan dengan mahasiswa yang melakukan penelitian di kawasan tersebut. Hal ini membuat proses pengelolaan terkadang berjalan lambat, namun juga membuka peluang kolaborasi dengan dunia akademik.
Imam Mahdi menyampaikan harapannya agar ke depan bisa melibatkan lebih banyak tim ahli. “Tidak semua kegiatan hanya untuk wisata, tapi juga untuk pendidikan. Anak-anak sekolah alam sering bertanya tentang tanaman dan hewan di sini. Kalau ada pakar, kami tidak akan kebingungan lagi menjawab,” katanya dengan nada penuh harap.
Untuk menjaga kelestarian, akses wisata dibatasi secara ketat. Area UMKM hanya diperbolehkan di gerbang utama saja, sehingga tidak mengganggu ekosistem hutan secara keseluruhan. Pendekatan ini menunjukkan komitmen kuat Pemkot Depok untuk menjadikan Tahura Pancoran Mas sebagai contoh kawasan hijau yang berkelanjutan di tengah kota.
Dengan berbagai penambahan fasilitas ini, Tahura Pancoran Mas diharapkan tidak hanya menjadi tempat rekreasi, melainkan juga pusat pembelajaran alam bagi generasi mendatang di Depok.










