Kisah Meylani, Pekerja Migran yang Berjuang di Negara yang Terasa seperti Neraka
Di tengah malam yang sunyi, sebuah kamar sempit di Libya menjadi tempat bagi seorang wanita muda untuk melantunkan doa Novena. Di sana, ia berbisik dengan penuh harapan dan ketakutan. Doa itu terdengar lemah, hampir tak terdengar, namun memiliki makna yang dalam. Ia tidak hanya takut terdengar oleh majikan, tetapi juga percaya bahwa Tuhan tidak tuli terhadap bisikan orang-orang yang tertindas.
“Tuhan Yesus dan Bunda Maria, tolong keluarkan aku dari neraka ini,” ujarnya dengan suara parau. Setelah itu, ia hanya menangis, namun ada sesuatu yang membuat dadanya terasa lapang. Seperti ada tangan tak terlihat yang menyeka wajahnya. Harapan kecil mulai menyala, meski pulang tampaknya sangat mustahil.
Meylani, perempuan asal Manado, mengalami penyiksaan dan eksploitasi oleh beberapa majikan di Libya. Ia diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Kisah hidupnya disampaikan oleh adiknya, Olivia, yang tinggal di perbukitan Kelurahan Paal IV, Kecamatan Tikala. Jalan menuju rumah Olivia cukup berliku dan licin, mirip dengan metafora perjalanan hidup Meylani yang penuh tantangan.
Menurut Olivia, kakaknya selama ini ingin bekerja di luar negeri demi mengubah nasib. Meskipun keluarga mencoba mencegah, Meylani bersikeras. Ia ingin berangkat melalui jalur resmi, dan akhirnya bergabung dengan sebuah perusahaan. Di sana, seorang penyalur menawarkan keberangkatan cepat. Meylani awalnya curiga ketika diberikan paspor wisata, tetapi ia diyakinkan bahwa itu hanya sementara.
Awalnya, ia dijanjikan bekerja di Turki, tetapi setiba di Bandara Sam Ratulangi, tujuan berubah menjadi Dubai. Meylani protes, namun ia tak berdaya. Dari Manado, ia dibawa ke Makassar, Jakarta, lalu terbang dengan Oman Air. Dua minggu ia berada di Dubai, namun pekerjaan yang tersedia justru memasak, bukan pembantu rumah tangga seperti yang dijanjikan.
Dari sana, ia dipaksa berangkat ke Libya. Di Benghazi, Meylani bekerja pada majikan pertama yang temperamental. Ia hanya bertahan dua minggu. Pindah ke majikan lain, penderitaannya justru bertambah. Ia kerap dianiaya, dilempari benda keras, bahkan pernah terluka tanpa mendapat pengobatan.
Tak tahan, Meylani kabur. Ia hanya membawa pakaian di badan, ponsel, dan charger. Ia berlari ke sebuah kafe demi mencari sinyal. Di sana, ia teringat seorang pramugara yang pernah memberinya nomor darurat. Ia menghubungi pria itu, dan tak lama kemudian sang pramugara datang dan membawanya ke rumah kerabat temannya. Di tempat itu, Meylani diperlakukan dengan baik. Namun ia tak bisa berlama-lama. Tujuannya satu: KBRI di Tripoli.
Perjalanan dari Benghazi ke Tripoli tidak mudah. Ia harus menyamar dan menumpang bus tanpa dokumen lengkap. Setibanya di KBRI, masalah belum usai. Seorang staf menyatakan ia harus membayar sejumlah uang kepada agen. Meylani tak punya apa-apa. Ia kemudian dicarikan majikan baru di Tripoli. Sayangnya, majikannya kali ini sebelas dua belas dengan yang lama. Jam kerjanya melebihi batas, waktu tidur sangat sedikit. Ia dipaksa bekerja dari pagi hingga malam, bahkan di beberapa rumah sekaligus.
Tubuhnya tak lagi sanggup. Punggung dan kakinya terus nyeri, hingga untuk bangun pun ia kesulitan. Meylani meminta pulang. Permintaan itu ditolak.
Di Manado, Olivia kehabisan cara. Ia dan keluarga akhirnya meminta bantuan publik. “Kami mohon Presiden RI Prabowo Subianto mendengar kami. Tolong pulangkan kakak saya,” ujarnya. Dua saudara ini dipisahkan jarak ribuan kilometer. Namun mereka dipertautkan oleh iman yang sama, bahwa Tuhan mendengar doa orang kecil.
Dan saya, jurnalis yang meliput kisah sedih ini, berdoa agar Tuhan mengetuk hati mereka yang berkuasa. Bahwa Meylani bukan angka atau sederet persentase. Tapi adalah gambar dan rupa Allah yang tengah merintih di padang sunyi.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











