Masalah yang Menghantui Jembatan Mahakam Ulu
Jembatan Mahakam Ulu di Samarinda terus menjadi perhatian masyarakat setempat akibat seringnya insiden tabrakan kapal tongkang, minimnya penerangan, serta meningkatnya rasa tidak aman. Insiden terbaru pada 25 Januari 2026 membuat aktivitas pelayaran dihentikan sementara dan jembatan tidak direkomendasikan dilalui kendaraan bertonase besar.
Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) yang menghubungkan Kecamatan Loa Janan Ilir dan Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, sejatinya menyimpan berbagai keluhan dan persoalan dari warga sekitar. Dibangun sejak 2006, rampung pada 2008, dan diresmikan pada 15 Juli 2009, kini jembatan tersebut tak lagi dipandang sekadar sebagai infrastruktur vital. Bagi warga yang bermukim di bantaran Sungai Mahakam, jembatan tersebut telah bertransformasi menjadi sumber kecemasan berlapis mulai dari ancaman keselamatan konstruksi hingga kerawanan sosial yang kian mencemaskan.
Soal keselamatan menjadi kekhawatiran paling mendasar. Terlebih, dalam beberapa waktu terakhir, insiden kapal tongkang bermuatan batu bara yang menyerempet fender atau penyangga jembatan kerap terjadi. Peristiwa tersebut membuat warga yang tinggal di sekitar kolong jembatan merasa terancam. Arus deras Sungai Mahakam sering kali menyulitkan manuver kapal-kapal besar tersebut.
“Setiap ada tongkang lewat, apalagi kalau arusnya deras, kami was-was. Kadang kalau menabrak, bunyinya nyaring dan terasa sampai ke dalam rumah, seperti gempa kecil,” kata Ruslan (52), warga RT 17 yang tinggal sekitar 150 meter dari Jembatan Mahulu.
Warga pun mendesak otoritas terkait agar memperketat pengawasan jalur pelayaran, termasuk pengaturan dan lokasi tambat kapal, guna mencegah tragedi besar di kemudian hari.
Masalah Penerangan dan Kerawanan Sosial
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Budi (49). Namun, menurutnya, ancaman tidak hanya datang dari sungai, tetapi juga dari darat. Saat matahari terbenam, minimnya Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) yang kerap mati menjadikan area oprit jembatan sebagai “jalur gelap”. Kondisi tersebut memicu berbagai persoalan sosial yang meresahkan warga.
“Jembatan sering dimanfaatkan untuk balap liar. Ini jelas membahayakan pengguna jalan lain, apalagi lampu jalannya banyak yang mati,” ujar Budi. Selain itu, kondisi gelap juga meningkatkan potensi kriminalitas, seperti pembegalan dan tindakan asusila. Tak jarang pula sejumlah pemuda menjadikan area jembatan sebagai titik kumpul. Kerumunan orang yang tidak dikenal membuat warga enggan melintas pada malam hari.
“Amit-amit, mudah-mudahan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Kadang juga banyak anak-anak kumpul di atas jembatan, jadi kita takut kalau mau lewat,” ucapnya. Terkait LPJU, Budi berharap pemerintah lebih memberi perhatian demi keamanan pengendara dan warga sekitar. Ia menegaskan, jangan sampai tindakan baru dilakukan setelah adanya korban jiwa.
Insiden Tabrakan dan Penghentian Aktivitas Pelayaran
Jembatan Mahakam Ulu kembali ditabrak kapal ponton bermuatan batu bara pada Minggu (25/1) pagi. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Kaltim, insiden terjadi sekitar pukul 06.00 WITA. Kapal Tugboat (TB) Marina 1631 yang menggandeng tongkang BG Marine Power 3306 bermuatan ratusan ton batu bara tampak mendekati pilar jembatan. Tak lama berselang, buritan tongkang menghantam pilar jembatan di sisi Kelurahan Loa Buah, Kecamatan Sungai Kunjang, tepatnya pada pilar 8 dan 9. Tongkang juga sempat menyentuh safety fender atau pelindung Jembatan Mahulu.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Timur, Yusliando, mengaku telah mengetahui insiden tersebut. Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda untuk menghentikan sementara aktivitas pelayaran di Sungai Mahakam. “Kami sudah berkoordinasi dengan KSOP. Pengolongan kapal dihentikan sementara,” tegas Yusliando.
Evaluasi dan Perbaikan Sistem Keselamatan
Pengamat maritim dari Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas Strategic Center (ISC), Dr Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa menilai kejadian berulang ini sebagai peringatan serius. Hal itu, kata dia, mengonfirmasi adanya kerentanan akut pada sistem keselamatan pelayaran di alur Sungai Mahakam. Secara teoretis, dalam manajemen risiko maritim, sebuah kecelakaan jarang terjadi karena faktor tunggal. Menurutnya, ini adalah manifestasi dari konsep “Swiss Cheese Model” di mana terdapat kegagalan berlapis dalam sistem keselamatan.
Marcellus menduga adanya kegagalan mitigasi dan antisipasi arus yang menyebabkan insiden tabrakan berulang. Terdapat indikasi kuat terjadinya ketidakseimbangan antara beban tongkang yang masif dengan kapabilitas manuver kapal penariknya. Lebih lanjut, pengamat maritim ini menekankan dampak strategis dan kerugian negara yang ditimbulkan. Setiap benturan tidak hanya merusak struktur fisik jembatan yang bernilai ratusan miliar rupiah, tetapi juga menciptakan efek berantai ekonomi yang merugikan.
Langkah-Langkah Perbaikan
Marcellus memberikan beberapa evaluasi kritis yang perlu segera dilakukan. Pertama, evaluasi terhadap sertifikasi kelaikan daya dorong atau tarik kapal harus disesuaikan dengan profil arus sungai, bukan sekadar standar saat keadaan laut tenang. Kedua, efektivitas pemanduan (pilotage) dan Bridge Resource Management (BRM) perlu ditingkatkan. Sistem pemanduan di titik-titik kritis, terutama saat kapal melintasi kolong jembatan, harus dievaluasi secara radikal.
Ketiga, sistem Vessel Traffic Services (VTS) yang ada saat ini dinilai masih terjebak pada pola pengawasan reaktif yang hanya bertindak atau mencatat setelah benturan terjadi. Menurutnya, diperlukan Smart Waterway Management yang mampu memberikan peringatan dini otomatis berbasis Global Position System (GPS) dan Automatic Identification System (AIS).
Keempat, Sungai Mahakam harus segera dikelola dengan status “Alur Pelayaran Terbatas” (Restricted Waterway). Hal ini mencakup penegakan aturan window time (jendela waktu melintas) yang ketat berdasarkan kondisi pasang surut, kecepatan arus, dan visibilitas. Marcellus menekankan perlunya pembentukan pusat komando tunggal untuk menyatukan kewenangan pengawasan pelayaran Sungai Mahakam.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”










