"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Opini  

Ketika Ide Menulis Terganggu

Antara Gairah yang Membara dan Kertas yang Bisu: Pertarungan Ide yang Tak Kunjung Lahir di Titik Nol

Entah mengapa selama sepekan ini, sejak gangguan hipertensi menyerang kembali, antara gairah dan eksekusi berbanding terbalik. Keinginan menulis banyak hal membuncah dalam dada, tapi otak seperti malas berpikir, jemari jua malas bekerja. Antara keinginan dan aktualitas selalu berbalik arah. Gairah ke kanan, eksekusi ke kiri, akhirnya tak pernah sejalan.

Bukan hanya tentang menulis, menyunting tumpukan naskah yang hendak diterbitkan pun enggan. Seorang teman Pastor sudah mengejar-ngejar apakah naskah setebal 340 halaman bisa selesai dalam dua minggu? Ini kerja cerdas atau kerja rodi dalam menerbitkan buku? Haha…saya hanya respon tunggu saja (bisa dua minggu, bisa dua bulan, tapi tidak sampai dua tahun hehe)

Kemudian, nah ini saya sedang hot tapi bisa dikatakan lebih bermotif personal. Sudah lebih dari delapan puluh hari saya menulis berbagai tema dari yang amat serius sampai yang ecek-ecek di jumlah pembaca merayap, jumlah like dan comment berpusar pada dia lagi dia lagi, apalagi lagi menjadi headline atau artikel utama, masih mending jauh panggang dari api toh panggangannya masih bisa didekatkan. Bisa jadi artikel saya yang kategori langsung pilihan karena status centang biru tidak pernah dibaca oleh admin selain sensor sensitif robot atas beberapa kata kunci (keywords) yang melanggar kententuan. Mungkin kata kunci tertentu mengancam bisa “dibreidel” oleh penguasa, atau kata kunci itu justru menjadi nyawa sehingga tidak boleh dipakai sembarangan.

Ah malah jadi ngelantur…ini karena menulis secara spontan, tak butuh riset dan data, tak butuh berpikir serius jadi spontan saja langsung di layar , tidak perlu rumit-rumit seperti meracik bumbu penyedap yang tidak sedap, toh selera pembaca pun beda.

Kawan, di antara seliweran angin kencang yang menggoyang-goyang pohon jambu* di depan rumah, belum kutemukan ide spesifif apalagi spesial untuk . Ada sih dua ide dan satu tulisan sudah jadi, tapi tidak kubagikan ke , akan kubagikan di blog yang lain, yang tidak pernah punya iming-iming rewards karena memang tanpa rewards, kan blog sendiri, blog komunitas: yang nulis yang kita meski yang baca kita dan mereka di luar komunitas. Tapi blog ini makin gayeng dengan aneka tulisan tanpa pernah ada topik pilihan, apalagi yang masuk kategori pilihan dan headline karena memang tidak ada kategori.

  • Tentang Pohon Jambu ini punya kisah menarik. Dia tumbuh liar di pinggir jalan, tepatnya di pekarangan orang lain. Tapi karena belum ada bangunan (hingga hari ini) saya merawatnya dengan tekun. Setiap kali kemarau antara enggan dan tak sudi, saya tekun memberinya air minum. Perlahan ia bertumbuh besar dan kini berkontribusi sebagai penyejuk dan tentu saja buahnya yang hampir tak kenal musim. Kadang kami harus berbagi kasih dengan kalong yang berkunjung ke pohon untuk memanen hanya di malam hari dan meninggalkan sisanya setengah untuk penghias dahan atau penghias jalanan jika jatuh.

Ketekunan dan kesetiaan memberi perhatian pada jambu merah saja kita bisa mendapatkan balasan yang tak terkirakan, apalagi yang diberi kontribusi besar berupa jutaan artikel setiap tahunnya. Coba saja hitung berapa keuntungan dengan sistem iklan pay per klick? Tentu saja ada transaksi simbiosis mutualisnya selama ini berupa K-Rewards yang bervariasi dengan aneka kententuan yang berubah sesuai perubahan arah angin. Tapi tulisan jambu ini bukan untuk menggugat sejarah K-Rewards yang terjadi selama ini. Saya saja masih anggota baru yang masih unyu-unyu di medan yang sudah berusia remaja-dewasa: 18 tahun. Meski tertulis saya gabung 2021, tetapi sesungguhnya baru Maret 2024 aktif, itu pun karena kecelakaan. Operasi kaki, mondok di RS. Lalu yang aktif hanya jari ya, mulailah meniti karier eh kok karier, menitipkan aneka tulisan dari yang paling polos sebagai pemain baru yang kemudian perlahan belajar merangkak memahami apa maunya .

Eh…masih tentang jambu kah? Tidak. Cukup.

Sedianya pagi ini, ada sebuah tulisan bagus yang akan saya upload di pagi ini sebagai kelanjutan tentang tentangga yang tocix dari perspektif hukum adat. Namun karena ini sudah menjelang siang, lebih baik ku-pending saja dulu, mantapkan diksinya, perkuat pesannya dan yang utama jaga alur kejujuran berpikir yang konsisten dengan gaya Alfred Benediktus – yailah bilang saya saja kenapa sih pakai nama lengkap segala – yang reflektif-meditatif (maklum bertahun-tahun belajar membuat renungan dengan latar belakang studi filsafat teologi) jadi bisa sok-sok sedikit. Kata sok-sok terdengar mirip-mirip dengan sorong-sorong dan putar ke kiri dan putar ke kanan nona manis dalam lagu Gemufamire ga ya?

Sampai sejauh ini, sudah lebih dari dua puluh menit sebenarnya kamu mau menulis tentang apa sih? Gugat suara hatiku kesal karena dari tadi tidak kelar-kelar aja tulisan ini. Ide dari mana-mana ditampung masuk semua, emang ini gunung sampah di Bantar Gebang yang pernah ditulis Pak Fery W bisa setinggi gedung 16 lantai, atau kalau mau dipakai urug bisa menenggelamkan seluruh Jakarta setinggi 20 centimeter.

Terus terang rekan-rekan pembaca, tulisan ini hanyalah salah satu cara saya mendobrak kebuntuan antara ide dan ekekusi diri saya yang tidak berbanding lurus. Tulisan saya bukan pula Upper Cut atau long hook gaya Opung Felix Tani yang piawai mempermainkan emosi pembaca, bukan pula sebuah gugahan kesadaran ala Om Merza Gamal yang merasa sedih karena open donasi untuk Sumatera untuk 5,8 juta anggota cuma ditanggapi 100-an orang yang berani eksekusi peduli mereka. Ini bukan tentang nominal, tetapi tentang tangan yang bersedia mengambil dompet, mengambil ATM lalu mengirim seikhlasnya. Karena pemberian yang ikhlas meski sedikit, pahalanya lebih mulia seperti persembahan seorang janda miskin yang memberikan seluruh hartanya daripada seorang kaya yang sombong doanya karena merasa telah memberi lima ratus kali lipat dari kekayaan si janda (Yang penasaran boleh membaca Perumpamaan tentang Janda Miskin (Markus 12:14-44, Lukas 21:1-4).

Sudah sepanjang ini tulisan dari ujung kulon sampai Jawi wetan (alias ngalor ngidul tidak karuan ini) berusaha menggugah kembali gairah menulis, membaca dan menyunting/mengedit saya yang lemah letih lesu lunglai hampir sepekan ini mengiringi waktuku yang lebih banyak di tempat tidur karena hipertensi yang kambuh membuat tubuhku ambruk, tapi masih dicintai Tuhan untuk boleh bernafas lega hingga siang ini. Dokter saja sampai geleng-geleng, bapak punya berapa nyawa? Hanya satu, itu pun milih Tuhan bukan milik saya.

Maafkan jika tulisan tidak beraturan ini tetap tayangkan dan dapat label otomatis Pilihan yang sekarang tidak masuk nominasi sebagai indikator penerima K-rewards, karena memang tidak adil masak tulisan tidak bermutu yang dikeluhkan banyak pihak hasil kerja kerasnya di paman AI (bukan paman yang bisa ubah konstitusi loh) lengkap dengan tanda bacanya yang menyebalkan tiga garis datar (- – -) atau pointers-pointers yang rapi dan terstruktur seperti alur pikir untuk pembelajaran bersama siswaku di kelas.

Akhirnya pembaca budiman dan budiwati (bukan budi yang sudah lompat pagar partai demi dapat rezeki dengan menggadaikan idealisme apalagi ideologi), terima kasih kalau Anda setia membaca celotehan saya hingga akhir. Semoga Anda semakin tidak terhibur karena ini bukan stand up komedinya Pandji dengan nama Mens Rea, bukan juga hiburan ala Opung Felix enak enak dibaca, atau sihiran ala staccato dan proyeksi milik wartawan nan cerdas Bung Fahruddin yang meski tulisannya banyak pembaca, likers dan commentators tetap sulit dapat label Pilihan. Sebagai yang auto Pilihan saya malu di hadapannya, karena tulisan saya dilirik saja enggan, dibaca kagak, apalagi dikomentari penuh hook untuk menghajar alur berpikir saya tak ada yang sudi.

Penulis seperti Bung Fahruddin ini dan Opa Felix yang lucu, atau Bung Raja Lubis dan Tumbowo yang kritis dan bernas menohok tetap penting untuk menyeimbangkan yang semakin garing dan gersang di tengah belantara 5,8 anggota. Maaf penulis lain, para suhu yang telah membuat i tetap eksis, jika saya tak sempat menyebut nama Anda, bukan sengaja tapi saya bingung mau tempatkan kontribusi Anda di mana, maklum masih termasuk pemain baru yang rajin menumpahkan segala ide (terutama berkaitan dunia tulis menulis) yang telah mencapai angka dua ribuan. Kadang jangan terkecoh kuantitas kadang tidak berbanding lurus dengan kualitas yang diharapkan pembaca. Maafkan saya jika demikian!

Terima kasih, saya undur diri untuk hari ini, karena masih sibuk intip angin kencang yang mengobrak abrik pohon jambu dan pisnang di depan rumah yang bukan milik saya pribadi juga yang berhasil menurunkan selembar seng atap kandang ayam kami di samping rumah. Tetap waspada kita semua. Kita sedang menghadapi anomali cuaca, bukan anomali perubahan . Tulisan tanpa pesan yang jelas ini sudah mendekati 1400 kata, padahal belum menyentuh maksud judul di atas. Karena untuk itulah tulisan ini lahir: lahir dari kegalauan dan kebuntuan.

NB: Tulisan ini seharusnya sudah terkirim tadi pukul 11.45, tapi karena gangguan signal dan mati listrik baru bisa terkirim sekarang.

Daliyah Ghaidaq

Jurnalis yang membahas isu anak muda, dunia komunitas, dan tren karier modern. Ia suka membaca blog produktivitas, mencoba teknik manajemen waktu, serta membuat jurnal harian. Motto: “Pemuda yang tahu informasi adalah pemuda yang kuat.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *