"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 107, Cerpen Makam

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 107 Semester 2

Saat mengerjakan tugas dari Bapak/Ibu guru, siswa seringkali memerlukan kunci jawaban sebagai pembanding terhadap jawaban yang mereka berikan. Pada artikel ini, akan dibahas mengenai kunci jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 untuk soal-soal pada Buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia untuk SMA/MA/SMK/MAK Kelas XI (Edisi Revisi) yang ditulis oleh K. Waskitaningtyas dan Heny Marwati serta diterbitkan oleh Penerbit Pusat Kurikulum dan Perbukuan KemendikbudRistek 2024.

Pada halaman 107, terdapat soal Kegiatan 3 Bab III Menggali Nilai Sejarah Bangsa Melalui Cerita Pendek Bagian C. Mengidentifikasi dan Mengaplikasikan Nilai-Nilai Kehidupan dalam Cerpen. Siswa diminta menjawab pertanyaan berdasarkan cerpen berjudul Makam karya Herman RN.

Berikut adalah soal dan kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 11 halaman 107 semester 2, Kegiatan 3: Cerpen Makam.


Kegiatan 3

Menjawab Pertanyaan Berdasarkan Cerpen “Makam” karya Herman RN

Setelah membaca cerpen tersebut, bentuklah kelompok yang terdiri atas 4-5 siswa. Kemudian, diskusikan dan jawablah pertanyaan di bawah ini.

1. Temukan arti kosa kata di bawah ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

a. blue print

b. amanah

c. perkara

d. dirumuskan

e. kawasan

f. negosiasi

g. terdidik

h. musyawarah

i. ajang Sana

j. negosiasi

Kunci Jawaban:

a. Blue print: Rencana yang terperinci; program tindakan; rencana program.

b. Amanah: Sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain.

c. Perkara: Masalah; persoalan.

d. Dirumuskan: Pernyataan atau simpulan tentang asas, pendirian, ketetapan, dan sebagainya yang disebutkan dengan kalimat yang ringkas dan tepat.

e. Kawasan: Daerah tertentu yang mempunyai ciri tertentu, seperti tempat tinggal, pertokoan, industri, dan sebagainya.

f. Negosiasi: Penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak yang bersengketa.

g. Terdidik: Sudah dididik.

h. Musyawarah: Pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah; perundingan; perembukan.

i. Ajang Sana: Pergi (datang) untuk menengok (menjumpai, dan sebagainya).

j. Negosiasi: Penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan antara pihak yang bersengketa.


2. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk menggali unsur-unsur ekstrinsik, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen “Makam” kemudian berikan bukti pendukungnya!

a. Nilai Moral

Salah satu nilai moral yang terkandung dalam cerpen “Makam” salah satunya adalah penghargaan dan keinginan untuk membalas budi kepada orang tua.

Bukti:

“Setelah dewasa, anak ini ingin berbakti kepada orang tua dan kampung halamannya, tapi ia tidak tahu caranya. Si anak ingin membuat kampungnya menjadi lebih maju, dengan hotel megah agar layak seperti kota-kota besar,” sambung bos investor.

Penjelasan: Ketika seorang anak sudah dewasa dan bisa mandiri, seharusnya dia tahu bagaimana membalas budi kepada orang tua. Orang tua lah yang telah membimbing dan mengasuh kita dari bayi hingga dewasa.

b. Nilai Sosial

Nilai sosial yang terkandung dalam cerpen “Makam” salah satunya adalah mulai masuknya modernitas di desa-desa yang dulu jauh dari hiruk pikuk kota.

Bukti:

“Bapak tahu tidak apa alasan kuat saya ingin mendirikan hotel dan mal di Kampung Lampap? Sebenarnya, saya bisa saja menerima tawaran dari Kepala Kampung Lamkreh. Mereka sudah beberapa kali menemui orang saya, meminta agar hotel dan mal itu didirikan di kampung mereka.”

Penjelasan: Modernisasi, yang identik dengan kota, kini mulai merambah ke desa-desa. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pembangunan infrastruktur modern di desa, seperti hotel dan mal.

c. Nilai Budaya

Nilai budaya yang terkandung dalam cerpen “Makam” adalah tokoh menggunakan nama-nama khusus yang berasal dari daerah Aceh Teungku.

Bukti:

“Teungku” digunakan untuk menyebut tokoh laki-laki yang memiliki ilmu agama Islam. Hal ini menunjukkan adanya nilai budaya Islam yang kuat dalam masyarakat Aceh. “Nek” digunakan untuk menyebut tokoh perempuan yang sudah tua. Hal ini menunjukkan adanya nilai budaya menghormati orang tua dalam masyarakat Aceh.

Penjelasan: Penggunaan nama yang secara khusus menunjukkan dari suatu daerah tertentu merupakan bagian dari nilai budaya. Oleh karena itu, tidak perlu menyebutkan nama daerahnya secara eksplisit, karena dengan nama tersebut, pembaca sudah dapat mengetahui di mana latar tempat cerpen tersebut.

d. Nilai Politik

Nilai politik yang terkandung dalam cerpen “Makam” adalah adanya konflik bersenjata di Aceh yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Bukti:

“…………..Namun, Pak Teungku juga tidak bisa merawat anaknya lama-lama. Ketika umur anak itu menjelang lima tahun, keadaan kampung ini masih dalam suasana darurat. Pak Teungku dan anaknya ditangkap kelompok bersenjata, lalu mereka dipisahkan. Pak Teungku tidak tahu lagi bagaimana kabar anaknya. Ia hanya menyimpan foto itu, satu-satunya foto sang anak saat masih berumur 4 tahun….”

Penjelasan: Terjadi konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang bertujuan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Peristiwa tersebut dapat diselesaikan dan tercapainya kata sepakat dengan pemerintah Indonesia.

e. Nilai Agama

Nilai agama tidak terlalu terlihat dalam cerpen “Makam” ini. Namun, perlu diketahui bahwa masyarakat Aceh terkenal dengan religiusitasnya dalam beragama, terutama agama Islam. Hal ini dapat dilihat dari beberapa kutipan berikut:

– “Dia selalu mengaji Al Quran setiap malam setelah sholat Isya.” (Kalimat ini menunjukkan kebiasaan tokoh utama dalam menjalankan ibadah agama).

– “Mereka menunaikan shoalat berjamaah di masjid terdekat.” (Kalimat ini menunjukkan ketaatan masyarakat terhadap kewajiban agama).

– “Pemakaman itu adalah tempat suci bagi umat Islam.” (Kalimat ini menunjukkan penghormatan masyarakat terhadap tempat ibadah).





Halwa Futuhan

Penulis yang rajin memberitakan kegiatan masyarakat lokal dan peristiwa lapangan. Ia gemar berkunjung ke pasar tradisional, memotret aktivitas warga, dan mencatat percakapan menarik. Hobinya termasuk mendengar musik tempo dulu. Motto: “Cerita kecil sering kali memiliki dampak besar.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *