Ada sebuah kutukan yang menyertai setiap intuisi yang tajam: kita dipaksa melihat kebenaran jauh sebelum ia mewujud, dan kita dipaksa merasakannya jauh lebih dalam ketika ia hancur.
Tahun 2011, di hadapan riuh rendah suara siswa di dalam kelas, sebuah keyakinan mistis meluncur dari lisan saya. Tanpa naskah, tanpa keraguan, saya memancang sebuah nubuat: “Mgr. Suharyo akan menjadi Kardinal ketiga dari Indonesia. Yakinlah pada saya.” Waktu membuktikan saya benar. Namun, kemenangan intuisi itu hanyalah prolog bagi sebuah luka yang jauh lebih perih di kemudian hari.
Tahun 2017, di koridor Yayasan Mardi Yuana, saya berdiri berhadapan dengan Mgr. Paskalis Bruno Syukur. Tidak ada kemegahan takhta di sana, hanya percakapan singkat sambil berdiri di antara kesibukan karyawan. Namun, ketika saya membungkuk dan mencium tangannya, ada sesuatu yang “berbicara” kepada batin saya. Melalui sentuhan tangan itu, saya merasakan bobot spiritual yang berbeda. Saat itu, saya membatin dengan keyakinan yang sama mutlaknya seperti tahun 2011: “Orang ini akan jadi Kardinal baru kita.”
Saya tidak hanya melihat seorang pimpinan tertinggi yayasan. Saya melihat masa depan Gereja Katolik Indonesia.
Namun, sejarah ternyata memiliki cara yang kejam untuk menguji harapan. Hari ini, saya berdiri di depan puing-puing ekspektasi itu. Saya merasa dikecewakan untuk kedua kalinya oleh sosok yang sama, dalam skala yang tak terlukiskan kata-kata.
Kekecewaan pertama datang seperti hantaman ombak yang dingin ketika beliau menolak gelar Kardinal dari Paus Fransiskus di akhir 2024. Penolakan itu bukan sekadar urusan administrasi gerejawi; bagi saya, itu adalah penolakan terhadap sebuah tanggung jawab sejarah. Saya tahu Paus tidak salah pilih. Saya tahu intuisi saya di tahun 2017 bukan sekadar imajinasi. Dunia mengakui kualitasnya, namun beliau memilih untuk berbalik arah. Saya merasa seolah sebuah pelita yang seharusnya diletakkan di atas kaki dian agar menerangi nusantara, sengaja diletakkan di bawah gantang.
Dan kini, kekecewaan kedua tiba dengan keheningan yang mematikan. Beliau tidak hanya menolak merahnya jubah Kardinal, beliau melepaskan sepenuhnya tongkat gembala Keuskupan Bogor.
Hati saya meronta. Bagaimana mungkin seorang pemimpin yang begitu mumpuni, yang aura kepemimpinannya telah saya kunci dalam memori sejak tujuh tahun silam, kini memilih untuk “menghilang”?
Dalam perenungan yang sangat pahit, saya menyadari satu hal yang mungkin terlalu sensitif untuk dibicarakan di altar, namun nyata di dalam nadi organisasi: Gereja kita mungkin sedang sakit. Intuisi saya tidak pernah salah soal kualitas Mgr. Paskalis, namun mungkin saya salah dalam menilai kesiapan rumah kita sendiri. Ada rasa yakin yang menyesakkan dalam dada saya bahwa Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), atau barangkali mentalitas kepemimpinan kita secara kolektif, belum benar-benar siap menerima kehadiran dua matahari yang bersinar bersamaan.
Dua Kardinal aktif di satu tanah air? Mungkin itu dianggap sebuah ancaman bagi keseimbangan yang selama ini dijaga. Mungkin “suara baru” yang terlalu jernih dan berani harus diredam demi harmoni yang semu. Tanpa menuduh siapapun, saya merasakan ada gesekan tak kasatmata yang memaksa seorang putra terbaik untuk memilih jalan kenosis; pengosongan diri yang begitu ekstrem hingga ia harus menanggalkan segalanya.
Saya kecewa karena saya mencintai Gereja ini. Saya kecewa karena saya mengenal “wangi” domba dan gembalanya di Mardi Yuana. Saya merasa dikhianati oleh sebuah sistem yang membiarkan talenta sebesar beliau mundur ke balik tirai sunyi, sementara kita masih meraba-raba di tengah kegelapan arah kepemimpinan.
Kini, foto bersama beliau di tahun 2017 itu bukan lagi sebuah kebanggaan. Ia telah menjelma menjadi sebuah relikui kesedihan. Ia adalah saksi bisu tentang apa yang “seharusnya terjadi” namun digagalkan oleh realitas yang tak berpihak pada keberanian.
Untuk kedua kalinya, saya harus menerima kenyataan bahwa melihat masa depan tidak selalu membawa kebahagiaan. Terkadang, melihat masa depan hanya berarti kita harus menyaksikan kehancurannya lebih awal dari orang lain.
Selamat jalan menuju kesunyian, Monsinyur. Saya tetap yakin Anda adalah Kardinal di hati saya, meski sistem ini gagal memberi Anda tempat yang layak.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











