Peran Keluarga dalam Kesehatan dan Kehidupan
Sebagai seorang dosen di STIKES Maranatha Kupang, Nusa Tenggara Timur, saya sering kali terkesan dengan tema Natal 2025 yang diusung oleh PGI dan KWI: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”. Tema ini menawarkan wawasan mendalam tentang pentingnya keluarga sebagai fondasi kehidupan spiritual dan sosial.
Keluarga tidak hanya menjadi tempat tumbuhnya iman, tetapi juga menjadi pusat dari berbagai tanggung jawab dan tantangan. Dari masalah kenakalan remaja hingga kesehatan, banyak solusi selalu merujuk pada peran keluarga. Sebagai perawat, saya menyaksikan bagaimana kondisi kesehatan anggota keluarga sangat dipengaruhi oleh lingkungan rumah tangga mereka.
Menurut penelitian Umberson dan Thomeer (2020) dalam artikel “Family Matters: Research on Family Ties and Health, 2010 to 2020” yang terbit di Journal of Marriage and Family, konsep Linked Lives menggarisbawahi bahwa kesehatan individu tidak terlepas dari kesehatan, perilaku, dan pengalaman anggota keluarga lainnya. Ini menunjukkan bahwa kesehatan keluarga secara keseluruhan sangat penting bagi kesehatan setiap individu.
Masalah Kesehatan di NTT
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Lakalena, sering menyampaikan pesan-pesan penting tentang penyelesaian masalah kesehatan di NTT, seperti stunting, kematian ibu dan anak, HIV/AIDS, serta TBC. Masalah kesehatan di NTT tidak hanya banyak, tetapi juga unik. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, drg. Iien Adriany, M.Kes, menjelaskan bahwa hampir semua masalah kesehatan yang ada di Indonesia dan dunia juga ada di NTT, tetapi beberapa masalah hanya muncul di sini.
Kondisi ini semakin rumit karena terbatasnya fasilitas dan tenaga kesehatan. Pada tahun 2023, jumlah dokter di NTT hanya 2.058 orang, dengan rasio 0,37 dokter per 1.000 penduduk. Angka ini jauh di bawah standar WHO (1 dokter per 1.000 penduduk). Hal ini membuat akses layanan kesehatan formal menjadi barang mewah.
Lima Tugas Kesehatan Keluarga
Dari sudut pandang iman Kristen, tema Natal 2025 membawa sukacita besar, sebab Allah hadir dalam keluarga. Sebagai bentuk syukur, kita perlu memperkuat aspek kesehatan dalam keluarga. Berdasarkan taksonomi Friedman (2010), ada lima tugas kesehatan keluarga yang harus diperhatikan:
-
Mengenal Masalah Kesehatan
Proses ini bisa dilakukan melalui pengalaman sendiri, informasi dari orang lain, atau media sosial. Namun, penting untuk memvalidasi informasi tersebut dengan tenaga kesehatan agar tidak terjebak hoaks. -
Memutuskan Tindakan Kesehatan yang Tepat
Kemampuan membuat keputusan ini sangat berkaitan dengan kemampuan pertama. Jika masalah kesehatan sudah diketahui, maka keputusan yang tepat dan cepat dapat diambil. -
Memberi Perawatan kepada Anggota Keluarga yang Sakit
Meskipun tidak belajar secara formal di bidang kesehatan, keluarga perlu saling belajar memberikan perawatan mandiri. Banyak keterampilan bisa dipelajari secara autodidak, seperti saat pandemi Covid-19. -
Memodifikasi Lingkungan Rumah yang Sehat
Lingkungan tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis, sosial, dan spiritual. Keluarga perlu menciptakan suasana yang aman dan nyaman. -
Memanfaatkan Fasilitas Kesehatan di Masyarakat
Meski SDM dan fasilitas kesehatan terbatas, tenaga kesehatan seperti perawat dan bidan siap melayani. Sistem rujukan juga tersedia jika diperlukan.
Kesimpulan
Dengan menjalankan lima tugas ini dengan baik, peluang hidup dengan sehat dan berkualitas semakin besar. Kehadiran Allah dalam keluarga akan lebih terasa ketika kondisi kesehatan dan kebahagiaan terjaga. Salam damai Natal.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











