Momentum Bersejarah UIN Walisongo Semarang
Pada tahun 2026, UIN Walisongo Semarang berada di tengah momentum penting dalam sejarahnya. Sebanyak 16 guru besar telah ditetapkan sebagai bakal calon rektor, jumlah terbanyak sepanjang sejarah pemilihan rektor di institusi ini. Setelah memaparkan visi dan misi pada tanggal 4 Desember 2025 dan dinilai oleh Senat Akademik pada tanggal 8-9 Desember 2025, keputusan akhir kini berada di tangan Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nazaruddin Umar.
Pencapaian gemilang tahun 2025, seperti akreditasi institusi “Unggul”, pembukaan Fakultas Kedokteran, peluncuran CITC-AI senilai Rp18 miliar, dan konversi 14 program studi ke akreditasi “Unggul”, menuntut kepemimpinan yang tidak hanya cakap manajerial, tetapi juga berintegritas moral dan berkomitmen pada keadilan akademik.
Berikut adalah sembilan karakteristik ideal yang harus dimiliki oleh rektor terpilih UIN Walisongo Semarang periode 2026-2030:
Pertama – Berintegritas
Integritas adalah ujian sejati bagi seorang rektor. Keberaniannya untuk menegakkan keadilan akademik tanpa pandang bulu, termasuk menghukum pelaku plagiarisme yang merupakan mantan pejabat atau tokoh berpengaruh di kampus, menjadi indikator utama integritas. Kasus plagiarisme yang terjadi pada oknum mantan pejabat di UIN Walisongo Semarang bukanlah persoalan politik, melainkan etika akademik fundamental yang tidak bisa ditoleransi atau dipolitisasi. Rektor terpilih harus memiliki persepsi yang sama terkait hal ini dan tetap konsisten memberikan sanksi kendati pelaku mengajukan keberatan administratif ke Kementerian Agama atau gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Konsistensi ini bukan bentuk sikap keras kepala, melainkan manifestasi prinsip bahwa keputusan yang diambil berdasarkan bukti dan prosedur yang benar, yakni melalui Senat Akademik Universitas, tidak boleh goyah sedikitpun karena tekanan hukum atau politik. Rektor yang berintegritas harus memiliki keyakinan bahwa sanksi, yang dijatuhkan atas dasar keadilan, akan terbukti kebenarannya di jalur hukum manapun.
Kedua – Pinter Tapi Ora Keblinger
Kecerdasan tanpa bimbingan ilahi sangat berbahaya. Rektor harus cerdas memilih jalan yang benar (sabilar rosyad), bukan yang sesat (sabilal ghoy). Anggaran negara harus digunakan untuk kemajuan institusi, bukan direkayasa dalam RKAKL untuk masuk kantong sendiri atau kroni-kroninya. Pengalaman korupsi pembangunan ma’had atau proyek lainnya di beberapa PTKIN lain, dengan modus mark-up anggaran, rekayasa kontrak, dan cashback dari rekanan, membuktikan bahwa “keblinger” bisa terjadi di institusi pendidikan Islam sekalipun. Rektor UIN Walisongo harus memastikan pengawasan ketat terhadap kualitas dan kuantitas setiap proyek agar sesuai dengan kontrak dan spesifikasi yang telah ditetapkan. Tidak kalah penting, rektor juga harus mengawasi bendahara atau Badan Pengelola Penerimaan (BPP) yang berpotensi bermain sendiri untuk mendapatkan cashback yang masuk ke kantong pribadi tanpa sepengetahuan rektor. Bisa jadi rektornya berintegritas dan berniat baik, tetapi bawahannya yang memanfaatkan celah pengawasan yang kurang untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu, sistem pengawasan internal yang kuat, audit berkala, dan mekanisme checks and balances harus diterapkan secara konsisten di semua lini keuangan dan pengadaan barang/jasa.
Ketiga – Berkapabilitas
Kapabilitas mencakup lima dimensi utama. Pertama, kapabilitas manajerial untuk mengelola 9 fakultas dan 54 program studi secara transparan dan akuntabel. Kedua, kapabilitas akademik untuk mengembangkan seluruh fakultas dan unit, termasuk Fakultas Kedokteran dengan distingsi kedokteran regeneratif dan stem cell. Ketiga, kapabilitas finansial berupa kemampuan kewirausahaan mengoptimalkan pendapatan dari Pusat Bisnis, Planetarium, Pusat Pengembangan Bahasa, Walisongo Halal Center, Tax Center, dan unit usaha lainnya, yang tidak hanya mengandalkan UKT. Keempat, kapabilitas digital untuk mengelola CITC-AI senilai 18 miliar rupiah dan sistem perkuliahan hybrid. Kelima, kapabilitas networking untuk lebih memperkuat kerja sama dengan Imam for Training & Development UK, Islamic Cultural Center, Universiti Islam Melaka, Humboldt University Berlin, dan mitra internasional lainnya.
Keempat – Berani Melawan Kezaliman dan Berlaku Adil
Rektor harus memiliki keberanian moral luar biasa melawan kezaliman oknum mantan pejabat, baik internal maupun eksternal, yang sengaja mencari celah kekurangan untuk menjatuhkan reputasi institusi. Oknum-oknum ini menginginkan akreditasi turun dari “Unggul”, melakukan laporan fitnah dengan data yang dimanipulasi, serta mencoreng nama baik UIN Walisongo dengan cara tidak fair. Keberanian ini bukan retorika, melainkan komitmen nyata menjadi benteng pelindung institusi dari serangan yang merusak capaian gemilang. Rektor yang berani dan adil tidak gentar menghadapi tekanan politik, tidak mudah diintimidasi oleh ancaman laporan fiktif, dan teguh mempertahankan kehormatan institusi dengan fakta, data, dan prestasi autentik.
Kelima – Mendahulukan Kepentingan Lembaga
Pemimpin sejati adalah khadimul ummah (pelayan umat), bukan penguasa yang mementingkan ambisi personal atau ego kekuasaan. Rektor harus memastikan bahwa setiap pengambilan keputusan strategis benar-benar merupakan hasil dari kesepakatan kolektif melalui rapat dan musyawarah dengan pihak-pihak terkait, bukan keputusan pribadi rektor sendiri yang diambil secara sepihak kendati rapat telah dilaksanakan yang hanya sebagai formalitas belaka atau sekadar legitimasi keputusan yang sudah ditentukan sebelumnya. Keputusan yang diambil harus benar-benar mencerminkan maslahah institusi berdasarkan masukan, pertimbangan, dan kesepakatan bersama yang autentik, bukan kehendak sepihak rektor yang dipaksakan kepada peserta rapat atau ambisi membangun dinasti akademik untuk kepentingan pribadi dan kroni-kroninya. Rektor yang mengutamakan lembaga adalah rektor yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menghormati hasil musyawarah, dan mengambil keputusan berdasarkan data, konsensus, dan kepentingan jangka panjang institusi.
Keenam – Berakar Kuat di Internal UIN Walisongo
Dari 16 bakal calon rektor yang ditetapkan 10 November 2025, 15 berasal dari internal UIN Walisongo dan hanya 1 dari eksternal (UIN Salatiga). Rektor seharusnya berasal dari internal bila kandidat internal memiliki sembilan karakteristik ideal ini karena mereka memiliki pemahaman autentik tentang DNA dan visi Unity of Sciences, tradisi akademik sejak transformasi dari IAIN 2014, potensi dan tantangan 9 fakultas dan 54 program studi, jejaring internasional, serta harapan civitas akademika terhadap tema riset “Riset Unggul untuk Kemanusiaan dan Peradaban”. Pengalaman berproses di internal memberikan perspektif yang tidak dapat digantikan oleh pengalaman di institusi lain.
Ketujuh – Berjiwa Merah Putih
Merah berarti berani karena kebenaran, putih berarti suci dari kepentingan pribadi atau kelompok. Rektor harus berani memilih pejabat struktural atau non struktural berdasarkan kompetensi yang terbukti, bukan relasi pribadi, kedekatan emosional, atau balas budi. Sebagai contoh konkret, kepala remunerasi harus dipilih berdasarkan kompetensi dan integritas sehingga mampu mengusulkan sistem remunerasi yang adil dan proporsional, di mana unit atau fakultas yang mendulang pendapatan tinggi untuk BLU mendapatkan alokasi remunerasi yang setara dengan kontribusi mereka kepada institusi. Tanpa keadilan distributif ini, persoalan klasik di PTKIN akan terus terjadi, baik pegawai yang bekerja keras menghasilkan pendapatan besar maupun yang bekerja seadanya tanpa kontribusi signifikan, semuanya mendapatkan tunjangan remunerasi yang sama. Ketidakadilan ini menghilangkan motivasi untuk berprestasi, berinovasi, dan berlomba-lomba mengoptimalkan pendapatan BLU bagi institusi.
Kedelapan – Melanjutkan Tradisi Anti-Plagiarisme
Di era teknologi AI dan kemudahan akses informasi, komitmen anti-plagiarisme krusial untuk menjaga integritas akademik. Rektor harus menjadi teladan dalam orisinalitas karya ilmiah, menegakkan sanksi tegas terhadap plagiarisme tanpa pandang bulu, membangun budaya riset jujur dan berkualitas, serta menggunakan teknologi deteksi plagiarisme konsisten untuk semua publikasi. Tradisi anti-plagiarisme bukan sekadar aturan formal, melainkan fondasi moral yang menentukan apakah UIN Walisongo dapat dipercaya sebagai pusat riset dan produksi pengetahuan yang autentik dan bermartabat di kancah nasional maupun internasional, sesuai dengan visi institusi.
Kesembilan – Sehat Jasmani dan Rohani (Tidak NPD)
Rektor harus memiliki stamina fisik, ketahanan mental, kecerdasan emosional, dan keseimbangan spiritual. Yang paling krusial, rektor harus terbebas dari Narcissistic Personality Disorder (NPD), gangguan kepribadian yang ditandai dengan sangat senang dipuji, haus pada pengakuan, tetapi minim tindakan nyata dan substansial. Rektor yang sehat rohani adalah rektor yang rendah hati, mampu menerima kritik konstruktif, menciptakan lingkungan kerja positif dan kolaboratif, mengakui kontribusi orang lain, membangun tim yang solid, serta fokus pada pencapaian institusi, bukan glorifikasi diri atau kultus individu yang hanya menghasilkan retorika bombastis tanpa aksi konkret.
Harapan kepada Menteri Agama
Proses pemilihan rektor UIN Walisongo periode 2026-2030 telah memasuki tahap krusial di mana keputusan akhir berada di tangan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Nazaruddin Umar. Dengan 16 kandidat guru besar yang telah memaparkan visi dan misinya serta dinilai oleh Senat Akademik pada 8-9 Desember 2025, diharapkan Menteri Agama dapat memilih rektor berdasarkan hati nurani yang jernih dan penilaian objektif terhadap sembilan karakteristik ideal yang telah diuraikan, bukan semata-mata mendengar bisikan staf khusus, orang-orang terdekat, atau lobi-lobi politik yang berpotensi menyesatkan penilaian dan mengabaikan fakta objektif. Keputusan ini bukan hanya menentukan nasib satu institusi, melainkan masa depan ribuan mahasiswa, ratusan dosen, dan kontribusi UIN Walisongo terhadap peradaban Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan berperadaban. Semoga Menteri Agama diberikan petunjuk dan pertolongan Allah SWT untuk memilih sosok rektor yang benar-benar memiliki integritas moral yang kokoh, kapabilitas manajerial-akademik yang terbukti, keberanian melawan kezaliman, komitmen terhadap keadilan, dan jiwa pengabdian kepada institusi, bukan demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu sehingga UIN Walisongo dapat terus melaju menuju visi sebagai “universitas Islam riset terdepan berbasis kesatuan ilmu pengetahuan untuk kemanusiaan dan peradaban tahun 2038.”
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











