Penghargaan Kebudayaan PWI Pusat 2026: 10 Bupati dan Wali Kota Terpilih
Pada malam Tahun Baru 2026, sejumlah bupati dan wali kota di berbagai provinsi Indonesia mendapatkan kado spesial dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat. Kado ini berupa pengumuman babak presentasi, yang merupakan tahap akhir dari proses penilaian untuk mendapatkan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat. Pengumuman tersebut akan diumumkan pada puncak perayaan Hari Pers Nasional di Banten, tanggal 9 Februari 2026.
Proses Seleksi dan Penilaian
Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat, Yusuf Susilo Hartono, menjelaskan bahwa kesepuluh kepala daerah tersebut dipilih oleh Dewan Juri setelah menilai berkas proposal yang disertai berbagai lampiran. Lampiran tersebut mencakup video, PPKD, perda, link berita, foto dokumentasi, dan dokumen lainnya. Berkas yang diajukan bisa mencapai puluhan hingga ratusan halaman. Untuk memastikan kebenaran informasi dalam proposal, masing-masing bupati dan wali kota diundang untuk presentasi langsung di PWI Pusat.
Dewan Juri AK PWI – HPN 2026 terdiri dari lima orang, yang berasal dari dalam dan luar PWI Pusat. Anggota juri antara lain Dr. Nungki Kusumastuti (dosen IKJ, penari, dan artis film), Agus Dermawan T (pengamat seni budaya), Sudjiwo Tejo (seniman dan budayawan), Akhmad Munir (Dirut LKBN Antara), dan Yusuf Susilo Hartono sendiri.
Daftar 10 Bupati dan Wali Kota Terpilih
Dari sepuluh nama yang terpilih, tiga di antaranya adalah wali kota. Mereka adalah:
- Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat
- Wali Kota Samarinda, Andi Harun
- Wali Kota Mataram, Mohan Roliskan
Sementara tujuh lainnya adalah bupati, yaitu:
- Bupati Lampung Utara, Harmartoni Ahadis
- Bupati Temanggung, Agus Setiawan
- Bupati Manggarai, Heribertus Geradus Laju Nabit
- Bupati Blora, Arief Rohman
- Bupati Labuhanbatu, Maya Hasmita
- Bupati Manokwari, Hermus Indou
- Bupati Padang Pariaman, John Kenedy
Proses Presentasi dan Penilaian
Presentasi akan dilaksanakan pada tanggal 8-9 Januari 2026. Pada hari pertama, para bupati dan wali kota akan melakukan silaturahmi dengan pengurus PWI Pusat dan tokoh pers. Acara ini ditutup dengan pengundian nomor urut dan foto bersama untuk kepentingan buku acara. Pada hari kedua, presentasi akan berlangsung sesuai dengan nomor urut yang telah ditentukan.
Dalam presentasi, Dewan Juri akan menilai sesuai topik yang diajukan. Aspek penilaian meliputi penguasaan materi, gaya dan teknik presentasi, serta sarana atau peraga pendukung. Bupati dan wali kota diperbolehkan membawa rombongan yang terdiri dari kepala dinas terkait, tokoh masyarakat, dan pengurus PWI Provinsi/Kota/Kabupaten. Namun, mereka hanya bertindak sebagai saksi dan tidak boleh membantu bicara.
Tema dan Sub Tema
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 mengangkat tema “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers”. Dari tiga sub tema yang tersedia, kebanyakan bupati dan wali kota memilih sub tema “Penguatan Keragaman Ekspresi Budaya dan Interaksi Budaya Inklusif”.
Melalui potensi budaya masing-masing, yang terkait dengan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Dewan Juri menyoroti aspek inovasi dan dampaknya terhadap masyarakat lokal, nasional, dan global.
Kategori Baru: Wartawan dan Komunitas
Selain kategori bupati dan wali kota, tahun ini ditambahkan satu kategori baru, yaitu “Wartawan dan Komunitas”. Kategori ini menitikberatkan pada kinerja jurnalistik dan kegiatan seni budaya yang dilakukan selama minimal 10 tahun dengan dampak nasional hingga internasional.
Dewan Juri telah menetapkan tiga wartawan senior yang akan menerima penghargaan ini. Mereka adalah:
- Rahmi Hidayati (Tangsel), mantan wartawan Bisnis Indonesia, yang aktif sebagai Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dan berhasil mengangkat kebaya sebagai warisan tak benda dunia UNESCO.
- Seno Joko Suyono (Jakarta/Bekasi), mantan wartawan Tempo, dengan komunitas Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF).
- Henri Nurcahyo (Surabaya), penggerak komunitas Panji yang memiliki jaringan hingga Asia dan internasional, serta turut berjuang agar Panji meraih status warisan dunia tak benda UNESCO.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."










