"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"

Gembok Sekolah Picu Mutasi Kepsek, Orang Tua Minta ‘Kembalikan Ibu Erniati!’

Perubahan yang Mengguncang Kehidupan Sekolah

Pagi itu di Bulo-Bulo terasa berbeda dari biasanya. Di bawah bayang-bayang pohon rindang yang mengepung halaman SDN 175, ada kecemasan yang menggelayut. Saat kalender di dinding sekolah masih menunjukkan angka-angka di pengujung tahun, surat keputusan mutasi datang layaknya tamu tak diundang. Per 22 Desember 2025, Erniati—sosok yang selama ini dianggap sebagai “ibu” sekaligus nakhoda kemajuan sekolah tersebut—resmi dimutasi.

Bagi pemerintah, ini mungkin sekadar rotasi administratif yang lumrah; namun bagi para orang tua di Kecamatan Bulukumpa ini, perpindahan tersebut terasa seperti mencabut paksa akar yang baru saja mulai menguatkan fondasi pendidikan anak-anak mereka. Keberatan demi keberatan pun mengalir, bukan dalam bentuk angka di atas kertas, melainkan dalam raut wajah penuh harap yang kini berubah menjadi protes keras. Mereka merasa, ada cerita yang belum tuntas ditulis Erniati di sekolah ini.

Alasan Orang Tua Menolak Mutasi

Sejumlah orang tua siswa SDN 175 Bulo-Bulo, Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, menyampaikan keberatan atas mutasi Kepala Sekolah Erniati. Mereka menilai pergantian pimpinan sekolah tersebut berpotensi mengganggu keberlanjutan program dan kebiasaan positif yang telah berjalan selama ini.

Salah seorang orang tua siswa, Sitti Fatimah, mengatakan Erniati selama ini dikenal dekat dengan murid dan aktif berkomunikasi dengan para orang tua. Ia berharap kebijakan mutasi itu dapat ditinjau kembali oleh pihak berwenang.

“Harapan saya Ibu Erni bisa kembali memimpin SD 175 Bulo Bulo. Kami khawatir jika penggantinya tidak setegas beliau, pembiasaan positif yang sudah berjalan bisa hilang,” kata Sitti Fatimah saat ditemui pada Senin, 29 Desember 2025.

Menurut dia, berbagai program pembiasaan yang diterapkan Erniati di sekolah mendorong anak-anak lebih disiplin dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar. “Sekolah kami dulu redup, tetapi sejak beliau memimpin banyak perubahan terlihat. Kalau diganti, kami takut kondisi kembali seperti dulu,” ujarnya.

Pengalaman Orang Tua Lainnya

Orang tua siswa lainnya, Nur Syahida, menuturkan bahwa Erniati bukan sekadar pejabat sekolah yang datang dan pergi, melainkan sosok pendidik yang mampu melihat “permata” di balik tumpukan batu. “Saya sangat menyayangkan mutasi ini. Sejak beliau memimpin, sekolah ini bukan hanya berubah fisiknya, tapi juga jiwanya,” ungkap Nur Syahida.

Ia kemudian mengisahkan perubahan drastis putranya. Dulu, anaknya kerap dicap sebagai pembuat onar yang sulit diatur. Namun, di tangan dingin Erniati, label “nakal” itu luruh. Erniati memilih untuk memeluk bakat sang anak daripada menghakiminya. Hasilnya luar biasa: anak yang dulu dianggap bermasalah itu berhasil meraih juara kedua lomba ceramah tingkat SD se-Kecamatan Bulukumpa.

Sambil menyeka sisa haru, Nur Syahida mengenang ucapan Erniati yang menjadi pegangannya hingga kini:
“Tidak ada anak yang nakal. Hanya kita saja yang belum memahami karakter mereka. Kita harus membimbing mereka dengan kesabaran dan doa yang tak putus.”

Kalimat itulah yang membuat Nur Syahida dan orang tua lainnya bersikeras.

Komentar dari Orang Tua Lain

Senada dengan keresahan wali murid lainnya, Surahmi menyuarakan keberatan yang mendalam. Baginya, SDN 175 Bulo Bulo saat ini berada pada titik keemasan yang tidak boleh diputus begitu saja. Di bawah kepemimpinan Erniati, sekolah tersebut bukan sekadar tempat belajar-mengajar, melainkan kawah candradimuka bagi prestasi.

“Sekolah ini sangat membutuhkan sosok seperti beliau. Beliau bekerja dengan hati, tanpa pamrih,” tutur Surahmi.

Dampak positif itu, menurut Surahmi, sangat nyata dan bisa dilihat dari deretan piala yang kini menghuni lemari sekolah. Sejak Erniati menjabat, SDN 175 Bulo-Bulo seolah bangun dari tidur panjangnya, merajai berbagai kompetisi mulai dari tingkat kecamatan hingga menembus level kabupaten.

Respons Erniati terhadap Polemik

Dikonfirmasi terpisah, Erniati membenarkan adanya keberatan dari sejumlah orang tua siswa terkait mutasinya. Ia menyatakan keputusan mutasi tersebut didasari laporan mengenai pengelolaan keuangan dan sorotan terhadap insiden penggantian gembok sekolah yang sempat beredar di media lokal.

Erniati menjelaskan kronologi peristiwa penggantian gembok yang terjadi pada Kamis, 18 Desember 2025. Menurut dia, keputusan itu diambil sebagai langkah pengamanan saat ia menilai gembok lama sekolah tidak lagi layak digunakan. Sebelum mengganti gembok, ia mengaku telah berupaya menghubungi satpam sekolah. Namun, respons yang diterima membuatnya mengambil keputusan tersebut secara mandiri.

“Saya menelepon nomor satpam, yang menjawab anaknya dan mengatakan ayahnya ada di rumah. Saya tunggu beberapa menit, tetapi tidak datang-datang,” ujar Erniati.

Ia kemudian menghubungi kembali nomor tersebut dan mendapat jawaban berbeda.
“Saat saya telpon lagi, istrinya yang mengangkat dan mengatakan satpam tidak ada. Di situ saya merasa kurang dihargai. Karena khawatir keamanan sekolah, saya memutuskan mengganti gembok,” tutur Erniati.

Ia menambahkan, niat awalnya adalah menyerahkan kunci baru kepada petugas keamanan, namun komunikasi yang tidak sinkron membuat situasi berkembang menjadi kesalahpahaman.

Para orang tua siswa menyatakan masih akan mengumpulkan terus dukungan untuk rencana aksi unjukrasa agar kebijakan mutasi tersebut dapat ditinjau kembali. Mereka menilai kesinambungan program sekolah dan iklim belajar yang sudah terbentuk patut dipertahankan.

“Tujuan kami bukan menolak siapa pun. Kami hanya ingin sekolah tetap pada jalur kemajuan seperti sekarang,” kata Sitti Fatimah.

Zaiful Aryanto

Penulis yang dikenal dengan gaya bahasa lugas dan informatif. Ia aktif meliput berita cepat, tren daring, hingga liputan human interest. Hobi utamanya adalah bersepeda, menonton video edukatif, dan mencoba tempat kuliner baru. Motto: "Tulisan yang baik selalu lahir dari kejujuran."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *