Peran Kurikulum 2023 dalam Pendidikan Tinggi
Kurikulum 2023 menjadi topik utama yang dibahas dalam dialog terbuka antara calon Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan mahasiswa. Kurikulum ini dianggap sebagai bagian dari penyesuaian dan pengetatan kebijakan kurikulum serta tata kelola kemahasiswaan di perguruan tinggi pasca-2022, khususnya yang berkaitan dengan Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM), Indikator Kinerja Utama (IKU), dan reposisi peran organisasi mahasiswa.
Keresahan terhadap Kurikulum 2023 tidak hanya berupa perubahan mata kuliah, tetapi juga arah politik pendidikan tinggi. Secara formal, tidak ada dokumen nasional bernama Kurikulum 2023 seperti Kurikulum 2013 di sekolah. Yang ada adalah penyelarasan kurikulum Outcome-Based Education (OBE), penguatan MBKM sebagai arsitektur utama pembelajaran, integrasi kurikulum dengan IKU dan KPI dosen, serta normalisasi regulasi kemahasiswaan yang lebih administratif dan terkontrol. Kebijakan-kebijakan ini disebut di kalangan mahasiswa dengan istilah Kurikulum 2023.
Banyak aktivis melihat Kurikulum 2023 menggeser orientasi mahasiswa dari subjek kritis menjadi tenaga kerja siap pakai. Hal ini dinilai mengurangi ruang kesadaran sosial, advokasi, dan kritik struktural. Kampus diposisikan sebagai pabrik SDM, bukan ruang pembentukan intelektual publik. Aktivis menilai Kurikulum 2023 mengutamakan hard skills dan soft skills teknokratis, sementara mengurangi filsafat, teori kritis, studi masyarakat, dan wacana keadilan sosial. Ilmu menjadi instrumental, bukan emansipatoris.
Dialog Terbuka Calon Rektor Unhas dengan Mahasiswa
Dialog terbuka Pengurus BEM dengan tiga calon Rektor Unhas digelar di Aula Arsjad Rasjid Lecture Theater Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar. Tiga calon Rektor Unhas diuji oleh mahasiswa: Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa MSc, Prof dr Budu PhD SpM(K) MMedEd, dan Prof Dr Sukardi Weda SS MHum MPa MSi MSosI MAP.
Pada awalnya, dialog terbuka yang dihadiri fungsionaris lembaga kemahasiswaan (LK) direncanakan berlangsung di Pelataran Rektorat Unhas. Namun, akhirnya dilaksanakan di aula yang telah disiapkan. Ketiga calon Rektor Unhas tampil kompak dalam dialog terbuka pada 18 Desember 2025. Mereka masing-masing memakai baju warna putih. Tapi hanya Prof Sukardi Weda yang memakai dasi. Warna merah. Prof JJ dan Prof Budu membiarkan kancing baju paling atas terbuka.
Dalam dialog tersebut, ketiga calon rektor menjawab berbagai pertanyaan dari mahasiswa. Isu-isu seperti kebijakan jam malam, minimnya konversi Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MKPK) bagi kegiatan lembaga kemahasiswaan, serta fasilitas kampus yang dinilai belum memadai meskipun Unhas mengklaim masuk dalam jajaran QS World Top 1000 menjadi sorotan.
Janji Prof Sukardi Weda
Calon rektor pertama yang diberikan kesempatan menjawab adalah Prof Sukardi Weda. Ia menekankan pentingnya pemberian ruang pengembangan kepemimpinan mahasiswa dalam Dialog Terbuka Carek periode 2026-2030. Menurut Sukardi Weda, organisasi kemahasiswaan memainkan peran penting dalam membentuk karakter, leadership, kemampuan pengambilan keputusan (decision making), hingga kecerdasan emosional mahasiswa.
Sukardi Weda menegaskan bahwa soft skill, kepemimpinan, membangun tim (team work), dan pengambilan keputusan itu diperoleh di lembaga kemahasiswaan. Ia juga berjanji akan menyiapkan asrama mahasiswa bagi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas apabila terpilih menjabat sebagai rektor. Selain itu, ia akan memberikan kesempatan yang sama kepada mahasiswa untuk akses sumber daya yang dimiliki Unhas. Bila mahasiswa berkegiatan boleh menggunakan ruang dan fasilitas apa saja dengan gratis atau tanpa bayar.
Sukardi Weda juga menjanjikan dana penelitian kepada mahasiswa secara kompetitif, serta berjanji untuk tidak memarginalkan mahasiswa untuk akses sumber daya Unhas. Ia juga mengatakan akan memperlakukan mahasiswa secara setara, sama, adil, tanpa diskriminatif dengan civitas akademika Unhas lainnya (dosen dan tenaga kependidikan), bila kelak ia ditakdirkan menjadi nakhoda Unhas.
Janji Prof Jamaluddin Jompa
Prof Jamaluddin Jompa menjelaskan bahwa Kurikulum 2023 dirancang mempercepat masa tunggu kerja lulusan. Melalui kurikulum ini, mahasiswa akan diarahkan untuk menentukan minat karier serta memperoleh pengalaman langsung melalui kerja sama dengan berbagai industri sejak semester enam. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa Unhas mendorong pengembangan kewirausahaan mahasiswa melalui program startup.
Menurutnya, program ini mendorong mahasiswa membangun usaha dengan dukungan ekosistem bisnis yang disiapkan oleh universitas. “Startup ini menjadi mekanisme agar mahasiswa bisa memiliki perusahaan sebelum selesai kuliah, sehingga tidak memulai dari nol setelah lulus,” jelasnya. Di akhir penyampaiannya, Prof JJ menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang dialog dengan mahasiswa. Ia bahkan menyarankan agar dialog rutin dilakukan setiap satu bulan sekali.
Janji Prof Budu
Prof Budu menyoroti pentingnya meningkatkan reputasi Unhas di tingkat global. Tapi, reputasi harus diiringi penguatan atmosfer akademik dalam kampus. Menurutnya, reputasi internasional perlu dibangun sejalan dengan kualitas pembelajaran, riset, dan visibilitas aktivitas akademik yang dirasakan langsung oleh sivitas akademika.
Prof Budu berjanji menindak lanjuti semua pertanyaan yang meresahkan mahasiswa tersebut. Salah satu pertanyaan tersebut juga menyinggung Kurikulum 2023 produk kementerian era Nadiem dalam pertanyaan yang menyoalkan konversi SKS di luar mata kuliah. Mahasiswa menilai Kurikulum 2023 memihak pada program magang dan menganak tirikan lembaga mahasiswa dikarenakan konversi SKS magang jauh lebih tinggi di banding lembaga mahasiswa kendati jam kerjanya adalah sama jumlahnya.
“Hal ini bisa di atasi dengan mudah dengan mengubah konversi SKS tersebut dan saya berjanji akan memperbaikinya di kemudian hari jika ditakdirkan terpilih menjadi rektor,” ujar Prof Budu.











