Peran Hutan dalam Menjaga Keseimbangan Bumi
Bumi memiliki keseimbangan yang dijaga oleh interaksi timbal balik antara atmosfer, hidrosfer, litosfer, dan biosfer. Dalam sistem ini, hutan memainkan peran penting dalam memastikan komponen-komponen tersebut berjalan dengan baik. Hutan tidak hanya mengatur udara, air, tanah, dan kehidupan, tetapi juga menjadi salah satu elemen paling vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan global.
Salah satu istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan fungsi hutan adalah “paru-paru dunia”. Istilah ini bukan sekadar metafora, melainkan pengakuan atas peran krusial hutan dalam menjaga kualitas udara dan mengurangi dampak perubahan iklim. Berikut alasan mengapa hutan disebut sebagai paru-paru dunia.
1. Penyerap Karbon Dioksida
Alasan pertama mengapa hutan disebut paru-paru dunia adalah perannya dalam menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Seperti paru-paru manusia yang menyerap oksigen dan melepaskan CO2, hutan melakukan sebaliknya. Proses penyerapan CO2 dilakukan melalui fotosintesis, yaitu proses di mana tumbuhan menggunakan sinar matahari, air, dan CO2 untuk menghasilkan gula dan oksigen.
Hutan merupakan rumah bagi banyak spesies tumbuhan, termasuk pohon dan vegetasi lainnya. Pohon dan tumbuhan ini menyerap CO2 melalui stomata—lubang kecil pada daun. Karbon yang diserap akan disimpan selama pohon masih hidup dan terus tumbuh. Oleh karena itu, pohon besar yang berumur panjang dapat menyimpan karbon selama puluhan hingga ratusan tahun.
Menurut laporan PBB, hutan mampu menyerap sekitar dua miliar ton CO2 per tahun. Selain itu, studi dari Nature Climate Change menunjukkan bahwa antara 2001 dan 2019, hutan dunia menyerap CO2 dua kali lebih banyak daripada yang dilepaskannya. Salah satu jenis hutan yang paling efektif dalam menyerap CO2 adalah hutan hujan tropis.
Hutan hujan tropis seperti Amazon, Kongo, dan Asia Tenggara memiliki kemampuan menyerap CO2 yang sangat tinggi. Misalnya, hutan hujan tropis Kongo saja mampu menyerap sekitar 600 juta metrik ton CO2 per tahun.
2. Penghasil Oksigen

Selain menyerap CO2, hutan juga berperan dalam menghasilkan oksigen. Proses fotosintesis yang sama yang digunakan untuk menyerap CO2 juga menghasilkan oksigen. Dalam proses ini, tumbuhan menggunakan CO2, air, dan sinar matahari untuk menghasilkan gula sebagai sumber nutrisi dan oksigen sebagai hasil sampingan.
Pohon biasanya lebih aktif menyerap CO2 selama musim semi dan panas, ketika mereka tumbuh subur. Namun, selama musim gugur, proses ini sedikit melambat karena pohon mulai kehilangan daunnya. Di musim dingin, kebanyakan pepohonan tidak melakukan fotosintesis atau menghasilkan oksigen secara aktif.
Secara keseluruhan, hutan menghasilkan sekitar 28 persen oksigen di dunia. Sisanya berasal dari fitoplankton di laut. Jumlah oksigen yang dihasilkan oleh pohon dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti spesies, usia, kesehatan, dan lingkungan sekitarnya. Umumnya, pohon berusia tua lebih banyak menghasilkan oksigen dibandingkan pohon muda.
3. Dampak Jika Hutan Tidak Bisa Menyaring Udara

Meski hutan hanya menyumbang 28 persen oksigen, perannya sangat penting dalam menjaga kualitas udara dan mengurangi perubahan iklim. Jika fungsi hutan sebagai penyaring udara tidak optimal, jumlah CO2 di atmosfer akan meningkat, yang berdampak buruk pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Ketidakstabilan hutan bisa memicu pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem. Gas rumah kaca seperti CO2 akan terakumulasi lebih cepat di atmosfer, sehingga menangkap lebih banyak panas. Akibatnya, suhu global akan meningkat, memperburuk gelombang panas, kekeringan, dan mencairnya es kutub.
4. Ancaman Deforestasi

Deforestasi menjadi ancaman besar bagi hutan. Ketika hutan ditebang, karbon dioksida yang tersimpan akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Selain itu, tanah juga akan melepaskan gas rumah kaca seperti metana dan dinitrogen oksida.
Deforestasi yang dilakukan dengan cara membakar hutan juga memiliki dampak buruk. Kebakaran hutan melepaskan asap, gas beracun, dan partikel berbahaya yang mencemari udara. Udara yang semakin kotor dapat memicu penyakit gangguan pernapasan.
Menurut data dari Global Forest Watch (WRI), dunia kehilangan sekitar 16,6 juta hektare hutan hujan tropis setiap tahun—setara dengan 18 lapangan sepak bola per menit. Sebagian besar deforestasi terjadi di hutan tropis di beberapa wilayah, seperti Brasil, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo. Di Amazon saja, sekitar 17 persen hutan telah hilang dalam 50 tahun terakhir.
Kesimpulan
Kenapa hutan disebut sebagai paru-paru dunia? Jawabannya ada pada peran penting hutan sebagai penyerap CO2 dan penghasil oksigen. Namun, fungsi ini terancam oleh aktivitas manusia, seperti deforestasi. Bukan hanya membahayakan kualitas udara, deforestasi juga mengancam satwa, mengganggu siklus air, dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan. Beberapa bencana, seperti erosi tanah dan banjir bandang, bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama menjaga hutan agar tetap lestari.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”











