Perempuan sering kali dianggap hanya layak berada dalam ranah domestik. Banyak orang mengaitkan perempuan dengan tiga hal, yaitu dapur, kasur, dan sumur. Mereka sering dianggap tidak akan berguna jika menempuh pendidikan tinggi karena pada akhirnya mereka akan kembali ke tiga hal tersebut. Padahal, perempuan juga memiliki hak yang sama untuk menempuh pendidikan tinggi. Sayangnya, banyak perempuan terpaksa menghentikan pendidikan mereka sebelum benar-benar dimulai. Sejak dini, mereka diajarkan untuk belajar memasak, merapikan rumah, serta melayani kebutuhan keluarga, seolah masa depan mereka sudah ditentukan untuk bidang domestik. Akibatnya, ruang bagi perempuan untuk mencapai cita-cita dan mimpi mereka menjadi sempit dan tertutupi oleh anggapan bahwa pendidikan bukanlah bagian dari takdir mereka.
Di Wellesley College pada tahun 1953, para perempuan pintar diajarkan bukan untuk menjadi ilmuwan, tetapi justru diarahkan untuk menjadi “Istri Ideal”. Film Mona Lisa Smile (2003) menggambarkan bagaimana pendidikan bisa menjadi alat reproduksi patriarki, bukan sarana membebaskan masa depan perempuan. Perempuan yang cerdas, mandiri, dan progresif sering kali diarahkan pada satu tujuan hidup: menjadi istri yang baik, pendamping suami yang setia, dan pengelola rumah tangga yang teratur. Di sinilah film ini menjadi kritik penting terhadap bagaimana konstruksi gender bekerja, bahkan melalui ruang pendidikan yang seharusnya menjadi pembuka jalan menuju kebebasan dan kemerdekaan pemikiran.
Dalam konteks sosiologi gender, film Mona Lisa Smile (2003) mengingatkan kita bahwa gender adalah sebuah konstruksi sosial. Simone de Beauvoir dalam karyanya yang berjudul “The Second Sex” menyatakan bahwa perempuan bukanlah sesuatu yang bersifat alamiah atau biologis, namun terbentuk melalui proses konstruksi sosial yang berlangsung di berbagai institusi, termasuk keluarga, pendidikan, dan budaya. Dengan kata lain, perempuan menjadi “perempuan” karena diajarkan, diarahkan, dan ditekan untuk mematuhi norma feminitas yang dianggap ideal. Dalam film ini, gambaran konstruksi sosial ini bekerja dalam kehidupan perempuan pada tahun 1950-an. Para mahasiswi Wellesley College digambarkan sebagai bagian dari tatanan patriarki, bukannya individu yang bebas menentukan arah pendidikan dan hidup mereka sendiri. Alih-alih mendorong dan mengarahkan para mahasiswi untuk memiliki dan menggapai mimpi mereka, pendidikan justru mengarahkan mereka untuk peran domestik sebagai istri ideal dan ibu yang baik. Gambaran dalam film ini sejalan dengan gagasan Beauvoir bahwa perempuan dibentuk secara sosial, di mana keberadaan mereka ditentukan oleh kebutuhan dan kepentingan laki-laki.
Perempuan dalam film yang berlatar tahun 1950-an ini dibentuk oleh norma “domestic feminity” dimana peran utama seorang perempuan hanya terbatas pada lingkup rumah tangga. Peran mereka hanya sebatas menjadi istri dan ibu. Lembaga pendidikan justru menjadikan itu sebagai tradisi dan melanggengkannya. Saat pendidikan dijadikan alat reproduksi patriarki, seorang dosen bernama Kathrine Watson datang untuk membawa perubahan pada sistem pendidikan di Wellesley College. Dengan hadirnya Kathrine Watson sebagai dosen seni, ia memberikan angin segar, namun juga menimbulkan badai. Ia memiliki pemikiran yang berbeda dari standar Wellesley yang membatasi perempuan. Kathrine percaya bahwa pendidikan seharusnya menjadi pembuka ruang bagi perempuan untuk memiliki mimpi yang sangat luas. Ia juga mengajak murid-muridnya untuk memikirkan kembali apa yang sebenarnya mereka inginkan untuk masa depan mereka. Namun, pemikiran inilah yang menjadi pemicu ketidaknyamanan bagi banyak orang, terutama mereka yang sudah melekat dengan norma tradisional.
Salah satu murid bernama Betty menjadi contoh dari internalisasi patriarki. Ia percaya bahwa perempuan yang sempurna adalah perempuan yang menikah, tunduk, dan menjalani peran domestic dengan baik. Namun, pada kenyataannya, kehidupan setelah menikah Betty justru menghadapi tekanan emosional, pernikahannya tidak berujung pada kebahagiaan, dan ia dibatasi oleh peran yang ia anggap hal yang membanggakan. Film ini juga menunjukkan bahwa konsep “pernikahan sempurna” sangat rapuh. Melalui tokoh Betty, film ini menunjukkan bahwa patriarki tidak hanya membatasi perempuan, tetapi juga menipu mereka dengan ilusi kebahagiaan. Karakter lain bernama Joan adalah gambaran perempuan cerdas yang memiliki kesempatan untuk mencapai mimpinya untuk belajar hukum di Universitas Yale, namun ia merasa harus memilih antara pernikahan dan mimpinya untuk belajar hukum. Kebingungan Joan menunjukkan betapa kuatnya tekanan gender dalam masyarakat, di mana perempuan selalu dihadapkan pada pilihan antara berkeluarga atau menggapai cita-cita, seolah dua hal itu tidak dapat dilakukan secara bersamaan.
Selain karakter-karakter tersebut, dalam film Mona Lisa Smile (2003) juga menunjukkan bagaimana perempuan yang tidak sesuai dengan standar moral seperti karakter Giselle sering mendapat stigma keras. Giselle adalah contoh perempuan yang berani menentukan arah hidupnya sendiri, namun ia dicap tidak bermoral hanya karena tindakannya tidak sejalan dengan norma mayoritas. Karakter ini menunjukkan bahwa kontrol gender dilakukan melalui tekanan sosial, gossip, dan tekanan moral yang menilai perempuan berdasarkan perilaku dan kepatuhan pada standar kesopanan.
Menonton kembali film Mona Lisa Smile (2003) dengan perspektif hari ini, membuka jalan pikir kita mengenai kondisi perempuan saat ini. Meskipun perempuan kini lebih baik, pada kenyataannya, banyak nilai-nilai dalam film tersebut masih hidup dalam masyarakat. Perempuan lebih sering ditanya “kapan menikah?” dibanding “apa cita-citamu?”. Karier bagi seorang perempuan masih dianggap bukan prioritas, namun hanya tambahan. Ketika perempuan memilih jalur hidup yang berbeda atau tidak menikah, mereka sering mendapatkan stigma sosial. Melalui film ini kita dapat mengetahui bahwa norma gender bertahan karena dipelihara dan nilai-nilai terus direproduksi. Perubahan yang dibawa oleh Kathrine Watson sangat penting sebagai pengingat bahwa perempuan membutuhkan dukungan untuk mengklaim hak atas hidup mereka sendiri. Pendidikan berperspektif gender merupakan langkah penting untuk menciptakan ruang yang benar-benar membebaskan, bukan malah membatasi pilihan hidup perempuan.
Film ini memberi pesan yang sederhana namun kuat, bahwa perempuan berhak memilih jalan hidup mereka sendiri tanpa dikontrol oleh ekspektasi sosial. Mona Lisa Smile menunjukkan bahwa menjadi seorang perempuan bukanlah tentang memenuhi standar tertentu, namun tentang memiliki kebebasan menentukan mimpi atau cita-cita mereka di masa depan. Selama perempuan masih dinilai dari peran domestik, status pernikahan, dan standar serta nilai-nilai patriarki lainnya, maka kritik yang dibawakan oleh film ini akan selalu relevan.











