"Menembus Batas, Menghadirkan Berita Lokal"
Opini  

Ferry Irwandi Dibela Anak Purbaya, Dihujat Buka Donasi Banjir Sumatera

Aksi Solidaritas Ferry Irwandi dalam Pengumpulan Dana Bencana Banjir Sumatera

Ferry Irwandi, bersama Malaka Project, berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp10,3 miliar dari lebih dari 87.000 donatur dalam waktu 24 jam melalui live streaming. Aksi ini menunjukkan kepedulian Ferry terhadap korban banjir di Sumatera. Namun, aksinya sempat mendapat kritik dari seorang TikToker yang menuduhnya “yapping” karena mempertanyakan status bencana nasional.

Rekam Jejak Ferry Irwandi

Ferry Irwandi lahir di Jambi pada 16 Desember 1991. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan lulus dengan IPK 3,61 meskipun sempat hampir drop out akibat nilai rendah. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Central Queensland University, Australia. Ferry juga pernah mengajukan proposal disertasinya yang diterima di Monash University.

Sebelum menjadi pembuat konten, Ferry bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Keuangan sebagai videografer humas selama 10 tahun. Pada November 2022, ia mengundurkan diri dan fokus pada pengembangan diri sebagai pembuat konten edukatif. Ia juga mendirikan Malaka Project, sebuah platform edukasi digital yang bertujuan untuk memberdayakan generasi muda dengan pemikiran kritis, empati, dan pandangan ilmiah.

Donasi yang Terkumpul

Penggalangan dana ini diinisiasi oleh Malaka Project, yang dibentuk oleh sembilan pendiri termasuk Ferry Irwandi. Dia membuka donasi melalui rangkaian live streaming maraton. Respons publik sangat besar hingga nilai donasi terus meningkat sepanjang siaran berlangsung.

“Dalam 24 jam lebih dari 87 ribu orang sudah membantu dan donasinya tembus Rp 10,3 miliar,” tulis Malaka Project dalam pernyataan di Instagram. Ferry menyebut donasi akan diprioritaskan untuk Aceh Tamiang sebagai wilayah terdampak banjir. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur dan menegaskan bahwa seluruh donasi akan disalurkan kepada masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk di wilayah lain yang masuk daftar penyaluran.

Daerah sasaran mencakup Tapanuli, Aceh Utara, Aceh Tengah, Sibolga, Kabupaten Agam, dan Palembayan. “Pokoknya sudah kita list semua. Tantangannya nanti di transportasi, itu yang kita urus,” kata Ferry.

Dihujat TikToker dan Dibela Anak Menteri Keuangan

Seorang TikToker bernama Silvia Tjan sempat menyebut Ferry Irwandi “yapping”. Istilah tersebut merujuk pada seseorang yang berbicara terus-menerus atau cerewet. Hal ini disampaikan setelah Ferry mempertanyakan alasan mengapa banjir di Sumatera belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Menurut Silvia Tjan, pemerintah daerah dinilai masih bisa menangani banjir tersebut.

Namun, Ferry dibela oleh Yudo Achilles Sadewa, anak kedua Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia mengunggah tangkapan layar dari laman Kitabisa.com yang menunjukkan jumlah donasi yang berhasil dikumpulkan oleh Ferry Irwandi.

Daftar Pemberi Donasi

Ferry membongkar sosok donatur terbesar yang memberikan bantuan paling banyak. Ternyata, donatur tersebut berasal dari berbagai latar belakang, seperti pengusaha, artis, hingga orang tak dikenal yang menggunakan nama samaran. Beberapa donatur antara lain:

  • Trader dan pengusaha Sulianto Indria Putra: Rp50 juta
  • Pengusaha Belvin Tannadi: Rp50 juta
  • Bhakti Ibu Supani: Rp100 juta
  • Anonim bernama Orang Baik: Rp50 juta
  • Trader dan pengusaha Narko Santoso: Rp50 juta
  • Youtuber Deankt: Rp270 juta
  • Pengusaha Imanuel Wirajaya: Rp50 juta
  • Gamer dan pengusaha Luke Febrian Valentinus: Rp77 juta
  • Artis Deddy Corbuzier: Rp300 juta
  • Pengusaha parfum Rizky Arief Dwi Prakoso: Rp493 juta
  • Xander Walter: Rp270 juta

Update Korban Banjir Sumatera

Sampai saat ini, sebanyak 753 jiwa dinyatakan meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 menunjukkan jumlah korban jiwa, korban hilang, dan korban luka-luka.

“Jumlah meninggal dunia 753 jiwa, hilang 650 jiwa, dan korban luka-luka 2.600 jiwa,” tulis data tersebut. Selain itu, 3.600 rumah rusak berat, 2.100 rumah rusak ringan, dan 3.700 rumah rusak ringan. Fasilitas umum seperti jembatan, fasilitas ibadah, pendidikan, dan kesehatan juga mengalami kerusakan.

Jumlah pengungsi mencapai 106.200 di Sumatera Barat, 538.000 di Sumatera Utara, dan 1,5 juta warga Aceh. Total yang terdampak bencana ini adalah 3,3 juta jiwa. Data ini masih terus diperbarui oleh BNPB secara berkala.

Presiden RI Turun Tangan

Presiden RI Prabowo Subianto telah meninjau empat lokasi terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera, yakni Tapanuli Tengah (Tapteng), Medan, Aceh Tenggara, dan Padang Pariaman. Saat hadir di tengah-tengah pengungsi, Kepala Negara menenangkan warga bahwa prediksi cuaca terburuk sudah lewat.

Prabowo juga memastikan adanya anggaran untuk membantu korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. “Alhamdulillah kita punya anggarannya, kita lakukan penghematan banyak di pusat supaya sebanyak mungkin bantuan, sebanyak mungkin kita bisa membantu kepentingan rakyat di paling bawah, desa, kecamatan. Itu sasaran kita,” ujar Prabowo.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *