Pendekatan Pendidikan yang Berbeda di Sekolah Alam Ar-Ridho
Di tengah permasalahan krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan di Kota Semarang, sebuah sekolah menawarkan pendekatan pendidikan yang berbeda. Sekolah ini tidak hanya fokus pada peningkatan kemampuan akademis, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan sejak dini.
Berlokasi di Meteseh, Tembalang, Sekolah Alam Ar-Ridho hadir dengan konsep pendidikan yang menyatu dengan alam. Di tempat ini, anak-anak diajarkan untuk tumbuh bersama lingkungan sekitarnya. Kompleks sekolah ini dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dan bangunan-bangunan dirancang sedemikian rupa agar tidak mengganggu ruang hijau.
Anak-anak di sini belajar menanam, merawat, serta memanen hasil dari kebun mereka sendiri. Mereka juga diajarkan cara mengelola limbah, mengurangi sampah, hingga menggunakan ulang air yang telah diolah oleh lingkungan sekolah.
Visi untuk Membentuk Khalifah Bumi
Direktur Sekolah Alam Ar-Ridho, Mia Inayati Rachmania, menjelaskan bahwa sekolah ini lahir dari kekhawatiran akan pendidikan yang terlalu menitikberatkan pada kemampuan kognitif, tanpa memperhatikan hubungan manusia dengan alam.
“Kami ingin membentuk manusia yang taat kepada Allah dan menjadi khalifah yang mengelola bumi secara adil dan penuh kasih,” ujarnya.
Konsep sekolah alam ini sudah ada sejak 1998. Dari PG, TK, dan SD hingga jenjang SMP dan SMM, Ar-Ridho berkembang di lokasi berbeda dalam kawasan Meteseh.
Pengelolaan Sampah yang Mandiri
Sekolah ini menerapkan pengelolaan sampah mandiri. Tidak ada satu pun sampah yang dikirim ke TPA. Sampah organik seperti daun dan sisa dapur diolah menjadi kompos dan pupuk organik cair (POC). Ranting-ranting pohon digunakan sebagai arang bakar.
Sementara itu, sampah kertas dan plastik didaur ulang menjadi media belajar. Plastik yang tidak dapat dipakai kembali diuji coba melalui teknologi pirolisis untuk menghasilkan bahan bakar cair.
Di kebun, anak-anak diajarkan menggunakan daun sebagai pengganti plastik mulsa agar tanah tetap sehat. Hal ini menjaga kehidupan mikroorganisme dan meningkatkan hasil panen.
Arsitektur yang Ramah Lingkungan
Jaringan sekolah alam memiliki aturan ketat: komposisi ruang terbuka hijau harus lebih besar dari bangunan fisik. Ini diterapkan di Ar-Ridho.
Tanah yang bernapas membantu penyerapan air hujan, mengurangi limpasan, dan meminimalkan risiko banjir—isu penting bagi Semarang. Paving permeabel dipilih agar air bisa meresap langsung ke dalam tanah.
Kurikulum yang Integrasikan Alam
Kepala Sekolah SD Ar-Ridho, Santi Muliawati, menjelaskan bahwa kurikulum mengintegrasikan alam dalam setiap proses pembelajaran. Metode seperti BBA (Belajar Bersama Alam), BBK (Belajar Bersama Kehidupan), dan SASS (Sekolah Alam Student Scout) digunakan.
Melalui BBA, kebun dan lingkungan sekolah menjadi laboratorium hidup. BBK membantu anak-anak belajar kepemimpinan, sementara SASS melatih kemandirian dan kontribusi pada lingkungan.
Isu-isu lingkungan seperti banjir, perubahan suhu, atau gempa diangkat sebagai materi diskusi dan proyek. Siswa SD hingga SMA melakukan kunjungan lapangan, riset sederhana, hingga aksi bersih sungai.
Menghadapi Tantangan Krisis Iklim
Semarang adalah salah satu kota yang rentan terhadap perubahan iklim. Rob, banjir, kenaikan permukaan air laut, dan perubahan suhu ekstrem menjadi tantangan nyata.
Menurut Santi, sekolah ingin mengambil bagian dalam membentuk generasi yang memahami risiko-risiko tersebut. “Kami mengajarkan pertanian regeneratif. Kebun digunakan sebagai media pembelajaran untuk melatih logika berpikir ilmiah dan menyediakan pangan sehat melalui sistem regenerative,” katanya.
Di Warung Alam—kantin sekolah—anak-anak diajarkan antre, memilah sampah, membuang sisa makanan dengan benar, hingga mencuci peralatan sendiri sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Penghargaan dan Apresiasi
Upaya yang konsisten selama bertahun-tahun membuat Ar-Ridho meraih sejumlah penghargaan, termasuk Juara Adiwiyata Kota Semarang 2019. Sekolah ini juga menjadi pilot project program SHIFT bersama WAIBI dan mendapat apresiasi dari Bappeda Semarang hingga Bappenas.
Tanggapan Orang Tua
Rela Puteri Pamungkas, orang tua murid yang menitipkan empat anaknya di Ar-Ridho, mengatakan pendidikan di sekolah ini memberikan pengaruh besar pada kemandirian dan karakter anak.
“Anak-anak saya mendapatkan pendidikan yang mandiri, pengasahan skill, tanggung jawab. Banyak proyek yang membuat mereka mandiri, dari literasi sampai desain,” ujarnya.
Ia sadar tidak ada sekolah yang sempurna, tetapi mengapresiasi keterbukaan sekolah terhadap kritik. “Sekolah itu partner kita dalam membentuk pribadi anak-anak, bukan pabrik yang keluarkan produk sempurna.”
Yang terpenting baginya, sekolah mengajarkan nilai lingkungan. “Anak-anak perlu tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaga bumi. Mereka jadi senang menanam, terbiasa makan sehat. Kita hanya bisa menjaga bumi kalau tubuh kita sendiri sehat.”











