Peran Pendidikan dalam Membangun Kepercayaan Sosial di Dunia yang Terpolarisasi
Pendidikan memiliki peran penting dalam menumbuhkan kepercayaan sosial di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, dalam Panel 1 bertema “Education to Foster Social Trust in a Polarized World” pada konferensi International Cross-Cultural Religious Literacy (ICCRL) yang diselenggarakan oleh Leimena Institut bekerja sama dengan Pusat Penguatan Karakter (Puspeka), Kemendikdasmen di Jakarta pada tanggal 11-12 November 2025.
Dalam paparannya, Wamendikdasmen Fajar mengawali dengan mengingatkan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 yang ditulis dalam buku Faith, Eternity, and Compassion terbitan Kompas. Ia menyebut kunjungan tiga Paus ke Indonesia pada 1970, 1989, dan 2024 menjadi pesan moral kuat bagi kemanusiaan. “Ini menunjukkan bahwa Indonesia dianggap dunia sebagai negara yang memiliki nilai-nilai toleransi tinggi, dan penguatan literasi lintas budaya berjalan dengan baik,” ujarnya.
Wamen Fajar juga mengingatkan kembali apresiasi Presiden Nelson Mandela saat menjamu kunjungan Indonesia pada 1997. Presiden Mandela memuji kemampuan Indonesia menjadikan keragaman sebagai kekuatan. Menurut Wamen Fajar, hal itu menegaskan filosofi Bhinneka Tunggal Ika yang hidup dalam harmoni dan persaudaraan. “Indonesia memiliki modal sosial yang sangat kuat, dan itulah semangat besar konferensi ini: bagaimana pendidikan bisa menumbuhkan kepercayaan sosial di tengah dunia yang terpolarisasi,” kata Wamen.
Ia juga menyampaikan jutaan anak Indonesia setiap hari belajar berdampingan dengan teman yang berbeda agama, budaya, dan bahasa. Dalam konteks ini, pendidikan menjadi wadah alami untuk membangun rasa saling percaya. Wamen Fajar mengatakan bahwa hasil penelitiannya bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, tentang praktik pendidikan inklusif di wilayah mayoritas nonmuslim seperti Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Kalimantan Barat. Penelitian tersebut, yang menghasilkan buku Kristen Muhammadiyah, menemukan sekolah-sekolah Muhammadiyah di daerah-daerah tersebut dapat diterima dengan baik oleh masyarakat setempat bahkan mendidik anak-anak Katolik dan Protestan.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan yang tulus dan inklusif mampu menumbuhkan kepercayaan sosial yang otentik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Wamen Fajar menjelaskan bahwa arah pendidikan Indonesia kini diperkaya dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang bukan sekadar kurikulum baru, melainkan upaya memuliakan manusia. “Hakikat pendidikan adalah memanusiakan manusia. Di tengah tantangan digitalisasi dan kecerdasan buatan, kita perlu menegaskan kembali apa arti menjadi manusia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan abad ke-21 harus menekankan soft skills seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan empati yang termasuk nilai-nilai yang juga menjadi inti dari 8 Dimensi Profil Lulusan. “Soft skill bukan tambahan, melainkan inti dari kompetensi kemanusiaan,” ujarnya.
Wamen Fajar kemudian berbagi pengalaman pribadinya saat menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Pengalaman tersebut mengajarkan pentingnya menumbuhkan literasi lintas budaya dan keberagamaan sejak dini, termasuk melalui seni dan budaya. “Beragama membutuhkan hati, dan seni adalah bagian dari memperhalus kemanusiaan,” katanya.
Wamendikdasmen juga menyoroti tantangan baru dunia pendidikan, terutama terkait pengaruh besar media sosial terhadap generasi muda. “Anak-anak hari ini cenderung kehilangan kepercayaan terhadap teman sebaya maupun institusi pendidikan. Bahkan agama kini ditantang relevansinya dalam memberi makna hidup,” ujarnya.
Karena itu, Wamen Fajar juga menyampaikan bahwa dalam membangun kembali kepercayaan sosial di lingkungan pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah dan berbagai kelompok keagamaan. “Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Dan inti dari kemanusiaan adalah kemampuan untuk mempercayai orang lain, menjauhkan prasangka, dan menghapus stigma negatif,” ujarnya.
Di sisi lain, Plt. Wakil Menteri bidang Keuangan, Departemen Pendidikan Filipina, Edson Byron K. Sy, yang turut hadir dalam panel yang sama menjelaskan bahwa saat ini Filipina tengah menghadapi bencana super topan yang merusak sedikitnya 1.500 ruang kelas, namun semangat pendidikan tetap tidak surut.











