Hari Ayah Nasional yang Berbeda
Hari Ayah Nasional kembali tiba. Di berbagai media sosial, banyak orang yang menuliskan kata “terima kasih Ayah,” mengunggah foto bersama ayah mereka, dan menulis doa singkat di caption. Namun, bagi saya, hari ini terasa sedikit berbeda. Ada perasaan hangat yang bercampur dengan sesak.
Mungkin karena saya sadar, ada terlalu banyak hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda, tapi tak pernah benar-benar tersampaikan. Saya tumbuh dengan sosok Anda yang tidak banyak bicara. Ayah yang kuat, tegas, dan jarang menunjukkan rasa sayang secara langsung. Kasih Anda tidak hadir dalam bentuk pelukan, melainkan dalam kesibukan dan tanggung jawab.
Anda bekerja tanpa banyak keluhan dan terus meminta doa agar rezeki lancar, seolah-olah itu sudah cukup untuk menunjukkan cinta. Dan mungkin memang begitu cara Anda mencintai kami sebagai keluarga kecil Anda. Namun di sisi lain, saya tumbuh dengan banyak pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Saya belajar menyimpan kata-kata, menahan perasaan, dan menafsirkan kasih sayang lewat keheningan. Saya tidak tahu bagaimana caranya berbicara jujur kepada Anda tanpa merasa takut atau bersalah. Seolah setiap percakapan serius selalu diakhiri dengan jarak yang tak terucap.
Pernah suatu kali saya ingin berkata bahwa saya lelah, bahwa saya sedang tidak baik-baik saja. Namun suara Anda yang berat dan sorot mata Anda yang dingin membuat kata-kata itu tertelan lagi di tenggorokan. Saya takut dianggap lemah, atau lebih buruk lagi, dianggap tidak cukup berjuang. Maka saya belajar diam. Saya belajar bertahan tanpa banyak cerita, seperti yang mungkin dulu juga Anda lakukan.
Lambat laun, saya menyadari bahwa hubungan kita bukan tentang siapa yang salah atau benar, tapi tentang dua orang yang sama-sama tidak tahu bagaimana caranya saling terbuka. Anda tumbuh di zaman di mana laki-laki diajarkan untuk kuat, sedangkan saya tumbuh di masa yang mulai berani membicarakan perasaan. Mungkin di situlah kita sering tidak bertemu; antara ketegasan Anda dan keinginan saya untuk saling dipahami.
Sekarang saya mulai mengerti, bahwa di balik diamnya seorang ayah, ada banyak hal yang sebenarnya ingin dikatakan juga. Anda mungkin tidak tahu bagaimana menunjukkan kasih sayang, tapi saya tahu Anda selalu berusaha hadir dengan cara yang Ayah bisa. Mungkin bukan lewat pelukan, tapi lewat kerja keras yang tidak pernah berhenti.
Andai waktu bisa diputar ulang, saya ingin lebih banyak berbicara kepada Anda. Tidak hanya soal hal-hal penting, tapi juga hal sederhana tentang bagaimana harimu, tentang hal-hal kecil yang membuatmu tertawa, atau sekadar mengucapkan, “Terima kasih, Yah.” Karena saya sadar, memang tidak ada yang abadi selain kenangan dan waktu seringkali berjalan lebih cepat dari yang kita sadari.
Dan jika suatu hari nanti saya sudah tidak ada, saya ingin Anda tahu satu hal bahwa saya tidak pernah menyesal menjadi anakmu. Meski kita jarang berbicara, saya tahu kasih Anda selalu ada, diam-diam, tapi nyata. Saya mungkin tumbuh dengan banyak ruang kosong di dalam diri, tapi di antara ruang-ruang itu, Anda selalu menjadi bagian yang paling saya kenal meski harus tanpa banyak kata.
Terima kasih sudah menjadi ayah dengan cara Anda sendiri. Hari ini, meski saya tidak pandai berkata manis, biarlah tulisan ini jadi cara kecilku untuk berkata. Saya pernah beruntung, karena pernah punya Ayah sepertimu.











