Banjir Meluas di Wilayah Bangka Belitung
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat total 138 rumah warga terdampak bencana alam banjir yang terjadi pada Jumat (9/1/2026). Rumah warga yang terendam air tersebut tersebar di lima wilayah kabupaten, antara lain Bangka Tengah, Bangka Selatan, Bangka Barat, Belitung dan Belitung Timur.
Dari data yang diperoleh dari kabupaten, ada 138 rumah yang terdampak banjir. Lalu ada fasilitas umum satu jembatan, ada juga pasar serta ada tiga pohon yang tumbang. Di Kabupaten Bangka Tengah terdapat beberapa desa yang terdampak diantaranya Desa Nibung, Desa Lubuk Lingkuk, Desa Perlang hingga Desa Kulur Ilir. Sedangkan di Kabupaten Bangka Selatan banjir melanda di Desa Tepus RT 12 RW 04 Kampung Ketiak Ulu dengan delapan rumah yang terdampak.
Di Kabupaten Bangka Barat terdapat sejumlah daerah di antaranya Kampung Culong, Kampung Ulu hingga Pasar Teluk Rubiah dengan 115 jiwa dari 39 Kepala Keluarga yang terdampak. Di Kabupaten Belitung terdapat angin kencang yang membuat pohon tumbang, sama dengan Kabupaten Belitung Timur pohon tumbang yang menutupi area jalan di Jalan Raya Kelapa Kampit.
Cuaca ekstrem berupa hujan yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak Jumat (9/1/2026) pagi menyebabkan banjir meluas. Sejumlah rumah warga terendam, aktivitas masyarakat terganggu, dan sejumlah ruas jalan vital tidak dapat dilalui akibat tingginya genangan. Di Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, sedikitnya 52 rumah tergenang. Data sementara tersebut mencakup dua desa terdampak paling parah, yakni Desa Lubuk Lingkuk dan Desa Lubuk Pabrik.
Bupati Bangka Tengah Algafry Rahman menyebutkan, 32 rumah berada di Lubuk Lingkuk, sedangkan 20 rumah lainnya di Lubuk Pabrik. Ini masih data sementara dan kemungkinan bisa bertambah karena air belum sepenuhnya surut. Ia menjelaskan, ketinggian air di sejumlah titik tergolong cukup tinggi, bahkan mencapai dada orang dewasa. Menurutnya, banjir kali ini dipicu curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus dan bersamaan dengan pasang air laut. Kondisi ini membuat aliran sungai dan saluran air tidak mampu menampung debit air.
Sebagai langkah awal, Pemkab Bangka Tengah berencana melakukan normalisasi dan pelebaran saluran air setelah kondisi memungkinkan. Dua unit alat berat akan diturunkan untuk pengerukan.
Warga Mengeluhkan Banjir yang Datang Mendadak
Warga Desa Lubuk Lingkuk, Septi, mengatakan air mulai masuk ke permukiman sejak sekitar pukul 07.00 WIB. Menurutnya, banjir datang secara tiba-tiba dan langsung naik dengan cepat. Sekitar setengah tujuh pagi air mulai masuk. Datangnya mendadak. Debit air terus meningkat karena hujan tidak kunjung reda hingga siang hari. Septi menyebut wilayahnya memang kerap menjadi langganan banjir saat hujan deras berlangsung lama. RT 5 ini memang rawan karena ada aliran sungai cukup besar.
Banjir juga melumpuhkan sejumlah ruas jalan. Salah satu titik terparah berada di depan SMA Negeri 1 Lubuk Besar, Desa Lubuk Pabrik. Arus air yang deras membuat banyak pengendara memilih berhenti menunggu air surut. Seorang sopir truk, Een, mengaku tertahan lebih dari tiga jam di lokasi tersebut. Saya dari Pangkalpinang bawa barang. Takut mogok kalau nekat lewat.
Kondisi serupa terjadi di Jembatan Desa Nibung, Kecamatan Koba, jalur penghubung Bangka Tengah dan Bangka Selatan. Genangan mencapai setinggi lutut orang dewasa, sehingga pengendara harus melaju perlahan. Satlantas Polres Bangka Tengah memberlakukan sistem buka-tutup jalan untuk menghindari kemacetan dan potensi kecelakaan. Kasatlantas Iptu Elman Fafdi mengatakan langkah itu dilakukan demi keselamatan. Kami atur lalu lintas agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di titik genangan tertinggi.
Jembatan Culong Tergenang
Banjir turut melanda Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Jembatan Culong di Kelurahan Sungai Daeng sempat tergenang hingga tidak dapat dilalui kendaraan. Ketinggian air mencapai dada orang dewasa sebelum perlahan surut. Warga terpaksa memutar arah karena genangan menutup badan jalan. Seorang warga, Apet (70), mengatakan banjir kali ini tergolong paling parah dibandingkan kejadian sebelumnya. Kami memang sering banjir, tapi hari ini paling parah. Ia menduga timbunan pasir di sekitar talud turut menghambat aliran air.
Kepala BPBD Bangka Barat Safrizal mengatakan pihaknya telah melakukan pemantauan dan menyalurkan bantuan berupa makanan siap saji kepada warga terdampak. Kami terus memantau dan mendistribusikan bantuan.
Basel Ikut Terdampak
Di Kabupaten Bangka Selatan, banjir juga merendam permukiman warga di Desa Tepus, Kecamatan Airgegas. Sedikitnya delapan rumah terdampak akibat luapan sungai setelah hujan deras. Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Satpol PP dan Damkar Bangka Selatan Ardiansyah mengatakan air sungai meluap setelah hujan berlangsung cukup lama. Ketinggian air bervariasi, mulai dari selutut hingga sepinggang orang dewasa. Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Kerugian materi masih dalam pendataan.
Daya Serap Tanah Berkurang
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Budi Utama mengatakan pihaknya memantau banjir yang terjadi di tiga kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (9/1). Banjir didorong meningkatnya debit air di sejumlah titik akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi secara terus-menerus. Benar, saat ini ada tiga kabupaten yang terdampak, yaitu Bangka Barat, Bangka Tengah, dan Kabupaten Bangka. Debit air di beberapa lokasi cukup deras. Kami dari BPBD provinsi terus melakukan pemantauan.
Ia mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya mereka yang bermukim di kawasan rawan banjir. Menurutnya, kondisi lingkungan turut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana. Daya serap tanah, terutama di kawasan hutan, mulai berkurang. Air akhirnya banyak mengalir ke jalan, sementara saluran-saluran drainase juga tidak lagi optimal karena tersumbat. Kami mengajak masyarakat bersamasama menjaga lingkungan dan kembali menghidupkan semangat gotong royong.
Selain itu, Budi meminta warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai, jembatan, dan saluran besar untuk memeriksa kondisi bangunan mereka. Perhatikan kekokohan rumah, terutama bagian pondasi dan dinding. Jangan sampai terjadi abrasi atau longsor. Ini menjadi perhatian kami karena debit air cukup tinggi.










